
Mungkin karena terlalu panik dan khawatir, aku justru malah memanggil Roy dan William untuk datang ke ruanganku. Saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin kedua orang kepercayaanku itu datang kemari untuk menemaniku agar aku punya teman untuk berbagi kepanikan.
"Ada apa Tuan? Kenapa Anda memanggil kami untuk datang kemari?" tanya William. Dia dan Roy saling menatap kebingungan.
"Tuan, sepertinya Anda terlihat sangat panik. Apa nona Rania benar-benar sudah mau melahirkan?" Kali ini Roy yang bertanya padaku.
"Hem, sepertinya iya Roy. Dokter Santi menyuruhku untuk tenang, tapi saat ini aku tidak bisa untuk tidak panik. Aku takut terjadi hal-hal yang buruk pada Rania dan anak-anakku. Apalagi sekarang aku masih disini dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa pulang ke sana untuk menemani istriku," jawabku. "Dan dokter Santi juga berkata padaku, setelah aku sudah lebih tenang, barulah aku boleh menghubunginya kembali, tapi justru sekarang aku malah semakin panik dan khawatir," tambahku panjang lebar, sambil terus berjalan ke sana ke mari sejak tadi.
Roy dan William kembali saling menatap satu sama lain, setelah itu kedua pria itu berjalan menghampiriku.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana mungkin Anda bisa tenang jika Anda terus-terusan berjalan mondar-mandir seperti itu," ucap William.
"Iya Tuan, William benar. Duduklah dulu, lalu setelah itu coba tarik napas Anda dalam-dalam lewat hidung lalu keluarkan secara perlahan melalui mulut," tambah Roy.
Sejenak aku terdiam, mencoba mencerna ucapan Roy dan William.
"Ya, kalian benar. Kalian benar. Aku harus berhenti mondar-mandir, setelah itu aku harus duduk di kursi dan mencoba untuk mengatur napasku dengan baik. Dokter Santi tadi juga berkata seperti itu padaku." Aku berkata seraya mulai mengikuti instruksi yang diberikan oleh keduanya.
Begitu seterusnya, Roy dan Willam terus memberiku instruksi untuk mengatur pernapasanku. Setelah merasa jauh lebih baik, aku pun balik menghubungi dokter Santi.
__ADS_1
"Apakah Anda sudah merasa lebih tenang, Tuan? Jika iya maka saya akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting mengenai nona Rania beserta kedua calon buah hati Anda," kata dokter Santi.
"Iya Dok. Sekarang saya sudah merasa jauh lebih tenang," jawabku.
Namun, tidak bisa aku pungkiri bahwa jantungku masih berdetak dengan cepat menunggu penjelasan dari dokter Santi. Hanya saja sekarang aku sudah bisa berpikir lebih jernih dari sebelumnya karena di sisi kiri dan kanaku berdiri Roy dan William.
"Begini Tuan, hingga saat ini istri Anda belum juga sadarkan diri. Keadaannya sangat lemah, dan itu tentu saja berpengaruh pada kondosi bayi yang masih berada di dalam kandungannya. Setelah tadi kami periksa, kondisi putra dan putri Anda cukup memprihatinkan, hampir saja mereka mengalami gawat janin. Dan satu-satunya cara yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa ketiganya adalah dengan cara melakukan operasi caesar secepat mungkin," jelas dokter Santi.
"Kalau itu yang terbaik untuk mereka bertiga, maka lakukanlah, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anakku," pintaku.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Untuk saat ini perasaanku campur aduk. Antara perasaan sedih dan bersalah. Aku merasa sangat sedih melihat kondisi istriku yang terbaring lemah tak sadarkan diri seperti sekarang ini. Dan hal buruk itu bisa sampai menimpanya karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untuknya.