RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 34


__ADS_3

"Janinnya dalam kondisi baik, Tuan, dan sudah memasuki usia 7 minggu. Dan sepertinya Nona Rania perlu banyak istirahat, dia tidak boleh terlalu banyak pikiran apalagi sampai tertekan dan stres." Dokter Santi mulai menjelaskan setelah dia selesai memeriksa kondisi janin yang ada di dalam kandungan wanitaku saat ini.


"Oh, baik Dok. Saya mengerti," ucapku.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan. Resep vitaminnya akan saya berikan pada asisten Roy untuk ditebus," ucap dokter Santi.


"Baik, Dok. Terima kasih."


Begitu dokter Santi keluar dari kamar, ku lihat wanitaku juga sedang berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya.


"Jangan bergerak," titahku.


Dengan cepat aku langsung naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan kepalaku di pangkuannya. Setelah itu aku mulai menenggelamkan wajahku di perutnya, kemudian mencium perutnya berulang kali. Momen seperti ini benar-benar membuat perasaanku menjadi lebih nyaman. Sepertinya, wanitaku ini memang benar-benar adalah obatku. Begitu berdekatan dengannya, perasaan tidak enak yang aku rasakan selama beberapa hari ini sepertinya agak mendingan.


"Anak Daddy, sehat-sehat ya Nak di dalam perut Mommy kamu. Kamu harus tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang hebat dan kuat saat kamu besar nanti." Aku tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata. Setelah itu aku melingkarkan sebelah tanganku dan memeluk pinggangnya. Memejamkan mata di posisi seperti ini rasanya benar-benar membuatku nyaman.


.

__ADS_1


.


Beberapa jam kemudian.


Setelah berpikir dan meminta pendapat Roy, kini aku mantap ingin berkunjung ke kediaman Rania untuk menemui orang tuanya. Aku ingin mengungkapkan niat baikku untuk bertanggung jawab dan meminta ijin untuk menikahi putrinya.


Sesampainya di tempat tujuan. Roy pun menghentikan mobil kami tepat di depan halaman rumah wanitaku. Begitu dia turun dari mobil, aku pun juga ikut turun bersama Roy.


"Kalian mau apa? Kenapa ikut turun juga?" tanyanya sambil menatapku dan Roy secara bergantian.


"Tunggu dulu. Untuk apa kamu ikut masuk ke dalam?" Dia bertanya sambil mencekal pergelangan tanganku.


"Ya tentu saja untuk bertamu," jawabku sesantai mungkin.


Maksud dan tujuanku ingin berkunjung ke rumahnya memang tidak pernah aku ungkapkan padanya.


Mendengar jawabanku, dia nampak sangat terkejut.

__ADS_1


"Jangan macam-macam, ibuku ada di dalam. Kalian tidak boleh masuk. Lebih baik sekarang, kalian cepat pergi dari sini," ucapnya, mengusirku bersama Roy.


"Siapa yang ingin macam-macam? Aku memang ingin masuk untuk menemui ibumu, dan baguslah kalau dia memang ada di rumah."


"Tapi untuk apa kamu ingin menemui ibuku?" tanyanya.


"Ya, aku ingin mengatakan padanya mengenai kabar membahagiakan ini. Dia harus tahu kalau sekarang dia sudah menjadi calon ne-"


"Diam!" Dia langsung membekap mulutku dengan tangannya. Sepertinya dia terlihat sangat takut saat mengetahui aku ingin menemui ibunya dan mengatakan semuanya.


"Aku mohon, please .... Pergilah dari sini. Aku bisa sendiri memberitahukan hal ini pada ibuku, tapi tidak sekarang. Aku masih butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian. Dan lagi, ibuku tidak perlu tahu hal itu dari kamu, biar aku sendiri yang akan menjelaskannya nanti."


Aku menurunkan tangannya yang membekap mulutku. "Apa maksudmu? Aku ini ayah dari janin yang sedang kamu kandung, jadi aku juga yang harus bertanggung jawab."


"Tanggung jawab apa maksudmu? Jangan bilang kamu ingin menikahiku. Aku tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan pria brengsyek seperti kamu!" teriaknya. Entah mengapa mendengar penolakannya itu seketika membuat hatiku berdenyut.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2