
Akhirnya, hari yang aku nanti-nantikan pun tiba. Siang ini aku dan Roy sedang dalam perjalanan untuk menjemput wanitaku. Tadi pagi kami sudah janjian untuk makan siang di luar sekaligus untuk membahas mengenai pertanyaanku waktu itu.
"Roy, jika nanti seandainya Rania masih tetap kekeuh menolak untuk menikah denganku, menurutmu, apa yang membuatnya tidak mau menikah denganku?" tanyaku.
Roy terlihat berpikir sejenak, lalu kemudian menjawab, "Maaf jika saya harus mengatakan hal ini, Tuan, saya mohon Anda jangan tersinggung dengan ucapan saya nanti."
Roy menjeda ucapannya sebentar sebelum kembali melanjutkan.
"Menurut saya, dari segi fisik dan finansial, Anda adalah idaman hampir semua kaum wanita di muka bumi ini, tapi ... mungkin yang membuat nona Rania ragu untuk menikah dengan Anda karena dulunya Anda selalu bergonta-ganti pasangan. Mungkin nona Rania takut Anda masih belum berubah," jelasnya.
Aku terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan dari Roy.
"Tapi Roy, kamu tahu sendiri 'kan aku sudah berubah, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain setelah bertemu dengannya. Dan sekarang, satu-satunya wanita yang menjadi prioritasku hanya dia seorang."
"Ya itu menurut Anda, Tuan, nona Rania mana tahu mengenai hal itu. Yang nona Rania ketahui mungkin hanya masa lalu Anda yang selalu dikelilingi oleh banyak wanita."
Aku hanya bisa menghembuskan napasku dengan kasar setelah mendengar semua perkataan Roy. Jika yang dikatakan Roy itu benar adanya, sepertinya ke depannya aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan kepercayaan wanitaku. Aku juga harus membuktikan padanya bahwa saat ini hingga selamanya, dia satu-satunya wanita yang akan mendampingiku seumur hidup.
.
__ADS_1
.
"Silahkan masuk, Nona." Roy mempersilahkannya masuk ke dalam mobil. Saat ini aku dan Roy sedang menjemput wanitaku di kediamannya.
"Bagaimana kabarmu selama seminggu ini?" tanyaku setelah wanitaku duduk di dalam mobil tepat di sampingku.
"Sangat baik," jawabnya dengan nada datar sambil menatap ke arah luar.
Sudah beberapa menit semenjak mobil yang kami tumpangi kembali melaju, tapi tidak sedetik pun dia menatap ke arahku. Sementara aku, aku tidak pernah berhenti menatapnya semenjak dia duduk di sampingku.
Aku yang tidak tahan dengan suasana yang seperti ini pun segera melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.
Aku tersenyum. "Aku ingin berbicara dengan anak kita. Seminggu tidak bertemu, aku jadi sangat merindukannya."
Juga sangat merindukanmu. Sambungku dalam hati.
Mendengar jawabanku, wanitaku kembali menatap ke arah luar jendela mobil.
"Apa kabar, Nak? Apa kamu juga merindukan Daddy?" Aku berkata sambil tersenyum dan terus mengusap perutnya dengan lembut. Semakin lama aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.
__ADS_1
Hingga mobil yang kami tumpangi berhenti melaju dan tiba di tempat tujuan, aku baru melepas kedua tanganku yang memeluknya. Tadi, di sepanjang perjalanan menuju restoran, aku terus-terusan memeluknya dengan erat, melepaskan segala kerinduan yang semakin menumpuk selama seminggu terakhir.
.
.
Saat ini kami sudah berada di dalam ruang VIP restoran. Setelah memesan menu makan siang, aku pun akhirnya memulai pembahasan. Aku sudah sangat penasaran dengan jawabannya. Semoga saja kali ini dia tidak lagi menolak untuk menikah denganku.
"Apakah kamu sudah memiliki jawaban atas pertanyaanku waktu itu?" tanyaku, memulai topik pembicaraan. Saat ini kami saling menatap satu sama lain.
"Ya, aku sudah memiliki jawaban atas pertanyaanmu, tapi sebelum aku mengatakannya, kamu harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu," ujarnya.
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Karena kamu mengajakku untuk menikah, jadi aku ingin bertanya padamu, menurutmu, apa arti sebuah pernikahan?"
B e r s a m b u n g ...
..._________________________________________...
__ADS_1
...Seperti janjiku semalam, aku akan dobel up hari ini. Bab berikutnya masih dalam proses review ya. Mohon bersabar kalau bab berikutnya masih belum muncul😉...