RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 27


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


"Terima kasih, semoga proyek kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar dan sukses," ucap tuan Aaric.


"Sama-sama Tuan Aaric," ucapku sambil bersalaman dengan kolega bisnisku tersebut.


Hari ini adalah pertengahan minggu ketigaku bersama Roy di negeri orang. Siang ini setelah aku jalan-jalan keliling bersama tuan Aaric untuk meninjau proyek kerjasama kami, kami pun memutuskan untuk makan siang bersama di salah satu restoran mewah yang terletak di pusat kota.


Kami mengobrol banyak hal sembari menunggu makanan pesanan kami datang. Tapi ketika makanan yang akan disajikan oleh pelayan datang, tiba-tiba aroma menyengat makanan itu terasa menusuk hidungku dan membuat perutku tiba-tiba terasa mual. Tapi meski pun begitu, aku tetap mencoba bersikap biasa saja, takut membuat tuan Aaric tersinggung karena beliau yang memesan makanan-makanan itu untuk kami.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" bisik Roy di dekat telingaku.


Mungkin Roy bisa membaca gelagatku yang tidak biasa. Sedangkan aku hanya menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan Roy.


Saat para pelayan mulai menghidangkan makanan di depan kami, entah mengapa aku merasa sangat jijik ketika melihat sup kental berwarna merah kecoklatan yang disajikan di hadapanku. Apalagi saat mencium aromanya yang bercampur dengan aroma khas daging, rasanya aku benar-benar ingin muntah, tapi masih berhasil aku tahan.

__ADS_1


"Selamat menikmati." Tuan Aaric berkata dalam bahasa Jerman sambil tersenyum, yang artinya demikian.


Aku melihat orang-orang yang berada di meja yang sama denganku, mereka semua menikmati makanan mereka masing-masing dan menyantapnya dengan nikmat, tidak terkecuali dengan Roy.


Aku memaksakan diri untuk mencoba memakan makanan suapan pertamaku. Sebelum makanan itu masuk ke dalam mulutku, aku mencoba menahan napas agar aromanya tidak sampai tercium di hidungku. Begitu makanannya masuk ke dalam mulutku, aku bersusah payah mengunyah dan menelannya.


Tapi entah mengapa makanan yang baru saja aku telan itu seperti memaksa untuk keluar kembali, aku pun buru-buru minum air putih dan segera pamit untuk pergi ke toilet. Sesampainya di toilet, aku mulai memuntahkan semua isi perutku.


Huwek ... huwek ....


"Makanan apa itu? Kenapa menjijikkan sekali?" umpatku setelah berkumur-kumur dan membasuh wajahku dengan air dingin.


Aku menggeleng. "Roy, kenapa makanan yang dipesan oleh tuan Aaric sangat menjijikkan. Anehnya, kamu juga terlihat sangat menikmati makanan itu sama seperti mereka."


"Hah? Makanannya ... e-nak kok, Tuan," ucap Roy, terdengar sedikit ragu-ragu mengucapkannya.

__ADS_1


"Makanan begitu kamu bilang enak? Seleramu aneh sekali, Roy. Melihat tekstur makanannya saja sudah membuat perutku mual, apalagi setelah mencobanya. Makanan itu seperti mengingatkanku pada suatu hal yang menjijikkan." Aku bergidik jijik ketika kembali mengingatnya.


Mendengarku berkata seperti itu, Roy malah menggaruk kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanyaku.


"Ti-dak, Tuan. Kalau begitu, mari kita kembali ke meja makan, tuan Aaric dan yang lainnya pasti menunggu kita."


"Tidak Roy, kamu saja yang kembali ke sana, aku tidak mau lagi melihat atau pun mencium aroma makanan itu. Sampaikan saja permohonan maafku pada tuan Aaric. Katakan saja kalau aku sedang tidak enak badan, dan aku akan menunggumu di mobil."


"Baik, Tuan."


Setelah kami keluar dari toilet, aku pun segera berjalan menuju parkiran, sementara Roy kembali ke ruang VIP dimana kami dan tuan Aaric tadi makan siang bersama.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...__________________________________________...


...Babang Kaaran kenapa tuh? Kok muntah-muntah?šŸ¤” Mencurigakan!🧐🤣🤣...


__ADS_2