RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 90


__ADS_3

...Sorry baru up๐Ÿ™๐Ÿผ Lagi kurang sehat sejak beberapa hari yang lalu๐Ÿ˜ท...


^^^___________________________________________^^^


Sudah 2 hari 2 malam berlalu sejak istriku melahirkan, tapi dia masih belum juga melewati masa kritisnya. Sementara itu kedua bayi kami sering menangis dengan kencang, mungkin karena mereka mencari mommy dan daddy mereka, atau mungkin mereka sama sepertiku, sangat mengkhawatirkan mommy mereka yang saat ini tengah terbaring lemah tidak berdaya di atas ran*jang perawatan.


Saat kedua anakku tengah menangis, keduanya langsung berhenti seketika saat mereka mendengar suaraku, baik melalui telepon langsung mau pun panggilan video. Keduanya langsung berhenti menangis saat aku mengajak mereka berbicara.


Hal itu menunjukkan bahwa ikatan batin diantara kami bertiga cukup kuat meski pun kami berjauhan. Bukannya merasa sangat bahagia, hal itu justru membuat hatiku semakin teriris-iris. Itu membuatku semakin yakin bahwa kedua anakku menangis karena mereka mencari kedua orang tua mereka. Kadang aku berpikir, seandainya aku bisa kembali ke sana, pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini.


Selama istriku kritis, mataku rasanya tidak dapat tertidur, sampai-sampai lingkar hitam sudah mulai menghiasi sekeliling mataku. Melihat istriku terbaring lemah tidak berdaya, aku merasa sangat terpukul dan menyalahkan diriku sendiri. Kalau sampai sesuatu yang buruk menimpanya, aku pasti tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri seumur hidupku.


Selama ini, ku pikir dengan meninggalkan villa dan terus bersembunyi di dalam markas, istriku akan aman dan nyawanya tidak akan terancam. Rupanya aku salah, buka hanya Johan yang bisa mengancam nyawanya, tapi ketidak jujuranku juga. Karena aku yang terus menyembunyikan semua fakta tentang siapa diriku yang sebenarnya, istriku jadi salah paham. Salah paham itu lah yang kemudian berubah menjadi stres, dan stres itu lah yang kemudian membuat kondisinya berakhir menjadi seperti sekarang ini.


"Tuan, istirahatlah dulu. Jika Anda terus-terusan seperti ini, maka Anda juga bisa sakit Tuan," kata Roy. Sejak kemarin dia terus menemaniku di sini dan juga terus membujukku untuk beristirahat.

__ADS_1


"Nanti saja Roy, aku benar-benar tidak bisa tidur memikirkan kondisi Rania yang hingga saat ini belum sadarkan diri juga. Saat ini dia sedang diambang hidup dan mati. Bagaimana aku bisa tenang melihat kondisi istriku yang seperti itu?" ucapku, dan Roy kembali terdiam.


Hening sesaat, hingga akhirnya aku kembali angkat bicara. Hal ini sebenarnya sudah aku pikirkan sejak kemarin, tapi aku masih ragu, apakah ini adalah keputusan yang tepat?


"Mm ... Roy, bagaimana kalau aku pulang saja? Kita disini sudah sebulan lebih, tapi kakak pertama Johan juga tidak kunjung menyerang. Aku curiga, dia mungkin hanya sengaja mempermainkan kita."


"Tidak, Tuan. Saya takut Anda salah mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik terlebih dahulu sebelum Anda bertindak."


"Tapi Roy, bagaimana dengan istriku? Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, aku pasti tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," ucapku seraya berdiri dari dudukku. Saat ini kepalaku benar-benar pusing memikirkan semua ini. Ku harap Roy bisa mengerti perasaanku, lalu kemudian mau mendukung keputusan yang aku ambil.


"Tapi mau sampai kapan kita berada di sini Roy? Hingga detik ini Johan bersama pasukannya belum juga datang." Aku mengusap wajahku frustasi seraya kembali duduk di kursiku. Dalam hati aku merasa sangat marah dan geram pada Johan. Gara-gara dia, aku bersama istri dan anak-anakku harus terpisah dalam keadaan seperti ini.


"Tuan! Tuan Kaaran!"


Tiba-tiba saja William datang dan memanggilku dengan nada panik. Tentu saja hal itu membuat aku dan Roy menjadi sangat terkejut.

__ADS_1


"Ada apa, Will?" tanyaku.


"Tuan, maaf jika saya mengganggu."


"Katakan, ada apa? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?" tanyaku penasaran. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ingin disampaikan oleh William.


"Tuan, drone yang selama ini sering kita terbangkan untuk mengawasi keadaan di area sekitar hutan berhasil menangkap gambar segerombolan orang berpakaian serba hitam sedang berkemah di tengah hutan. Dan saya curiga, mereka adalah tuan Johan bersama anak buahnya, Tuan."


"Apa kamu yakin itu adalah mereka, Will?" tanyaku.


"Sepertinya Tuan. Saya cukup yakin bahwa itu adalah musuh yang kita tunggu-tunggu selama ini."


"Baiklah kalau begitu. Kerahkan semua anak buahmu sekarang juga. Bersiaplah untuk menyambut dan menerima serangan dari mereka kapan saja," titahku.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2