RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 45


__ADS_3

Dengan perasaan dongkol, aku tetap bersiap-siap untuk kembali ke ibukota.


"Cih, tega sekali Rania mengusirku dari rumah ini. Apa dia lupa, dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli rumah ini?" gumamku.


Rasanya aku ingin kesal karena perlakuannya padaku, tapi tidak bisa. Mungkin karena aku sudah terlanjur mencintainya dengan sangat.


Tok tok tok! Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" teriakku.


Aku segera berbalik dan menghadap ke arah pintu, berharap wanitaku yang datang dan menyuruhku untuk tetap tinggal. Sejujurnya aku masih tetap ingin di sini bersamanya. Namun, harapanku itu langsung pupus saat aku melihat Roy yang muncul dari balik sana.


"Tuan, apa Anda sudah siap?" tanya Roy.


Aku mendengus kesal, lalu menjawab pertanyaan asistenku tersebut, "Hem."


Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata wanitaku?


"Kalau begitu, ayo kita berangkat Tuan, pukul 11 nanti kita akan ada rapat penting dengan tuan Aryesh Maulana dari perusahaan M.H Group."

__ADS_1


Astaga. Hampir saja aku lupa. Gara-gara urusan cinta, hampir saja aku melupakan hal yang begitu penting.


Dengan perasaan berat, aku berjalan keluar dari dalam kamar, diikuti oleh Roy dari belakang.


"Roy, apa kamu tahu di mana calon ibu mertuaku?" bisikku pada Roy.


"Tadi saat saya tinggal, nyonya Dian masih ada di meja makan Tuan," jawab Roy yang juga setengah berbisik.


"Kalau begitu ayo kita ke sana sekarang."


Setelah aku dan Roy menemui calon ibu mertuaku untuk berpamitan, kami pun segera meninggalkan kediaman mereka. Hatiku semakin dongkol saat wanitaku tidak mengantar kepergianku.


.


.


"Roy," panggilku.


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Bagaimana nanti kalau Rania masih menolak untuk menikah denganku? Apa yang harus aku lakukan, Roy?" tanyaku pada asisten serbagunaku tersebut.


Aku mengatakan serbaguna karena Roy bisa berperan sebagai asisten, sahabat, sekaligus teman curhat.


"Tuan, saya pikir Anda lebih tahu banyak mengenai wanita ketimbang saya. Tapi menurut saya, wanita itu adalah makhluk yang paling sulit untuk dihadapi. Jadi saya pikir, jika nantinya nona Rania masih saja menolak untuk menikah dengan Anda, saya sarankan agar Anda tetap bersabar dan kembali berusaha untuk membujuk nona Rania sampai nona Rania mau menikah dengan Anda."


Aku terdiam setelah mendengar saran dari Roy. Yang dikatakannya itu memang benar adanya. Aku harus tetap bersabar menghadapi segala sikap wanitaku, serta sifatnya yang kepala batu itu. Itu sudah menjadi konsekuensi yang harus aku hadapi karena aku sendiri yang sudah memilihnya untukku.


.


.


Hari-hari berikutnya aku lalui dengan perasaan gelisah. Waktu satu minggu itu rasanya sangat lama ... sekali. Jangankan satu minggu, 1 jam saja rasanya sungguh lama. Aku sudah sangat merindukan wanitaku.


B e r s a m b u n g ...


...________________________________________...


...Guys segitu dulu ya. Maaf singkat banget🙏 Aku udah ngantuk banget nih🥱 sebagai gantinya, in syaa Allah besok aku akan dobel up. Sekali lagi maaf ya🙏 aku beneran sibuk banget soalnya. Apalagi minggu depan (tepatnya tgl 25) adalah hari dimana acara di rumah akan diselenggarakan, otomatis beberapa hari sebelum dan sesudahnya pasti akan semakin sibuk, semoga saja aku masih punya kesempatan untuk up meski pun hanya 1 bab sehari....

__ADS_1


__ADS_2