RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 69


__ADS_3

Aku terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, "Apakah tidak ada lagi yang lain yang bisa kita mintai bantuan?"


"Mm ... sebenarnya ada Tuan, tapi tidak sehebat Master Li," jawab Morgan.


"Tidak apa-apa, yang penting ada yang bisa menggantikanmu agar kamu bisa beristirahat," ucapku.


Daripada mengharapkan bantuan orang yang belum jelas mau atau tidaknya, lebih baik memakai jasa orang yang ada saja. Juga, Morgan itu butuh istirahat, dia tidak boleh duduk sepanjang hari seperti itu secara terus-menerus. Nasib Galaxy Group ada di tangannya. Kalau dia sampai jatuh sakit, bagaimana nasib perusahaan nantinya?


Setelah Morgan memberikan kontak 3 orang temannya, aku pun meminta Roy untuk menghubungi ketiga orang itu. Untungnya ketiga-tiganya tinggal di kota ini jadi cukup mudah untuk mendatangkan mereka secepat mungkin.


.


.


Hari demi hari berlalu hingga tidak terasa sudah hampir sebulan lamanya kami seperti ini. Jujur saja, ini sangat melelahkan dan membosankan. Sudah selama ini tapi tidak ada yang menang mau pun kalah dalam peperangan ini.


"William, coba hubungi Susan. Siapa tahu dia memiliki informasi baru mengenai Johan."

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab William. Pria tampan berperawakan jangkung itu pun segera mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Susan.


Saat William menghubungi Susan, wanita itu tidak langsung menjawab. Dia baru menjawab setelah dering panggilan ketiga.


"Halo, Tuan William. Maaf, saya baru menjawab panggilan Anda karena saya baru menemukan tempat yang aman untuk kita berbicara," kata Susan. Aku juga bisa mendengar suara wanita itu karena William me-loudspeaker panggilannya.


"Tidak apa-apa. Apa kamu sudah mendapatkan informasi baru tentang apa yang direncanakan tuan Johan selanjutnya?" tanya William, sedangkan aku hanya diam ingin menyimak pembicaraaan mereka.


Susan terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, "Mm ... kalau saya tidak salah informasi, sepertinya ... sepertinya tuan Johan ingin mendatangkan seorang ahli IT lagi untuk menyerang perusahaan Tuan Kaaran. Kalau tidak salah mm ... kalau tidak salah namanya Master Li," jawab Susan. Seketika aku dan William melebarkan mata dan saling menatap mendengar nama itu.


"Susan, terima kasih banyak atas informasinya. Aku akhiri panggilannya sekarang," ucap William lalu kemudian memutus sambungan teleponnya dengan wanita itu.


"Tuan, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya William. Wajahnya nampak panik.


"Tenang, Will. Jangan panik. Kita harus berpikir jernih lebih dulu. Dan sepertinya masalah ini harus kita bicarakan dulu dengan Morgan. Dia lebih tahu banyak hal tentang Master Li ketimbang kita," ucapku.


"Anda benar, Tuan. Kita harus cepat dalam mengambil tindakan. Jangan sampai tuan Johan dan orang-orangnya mendahului kita."

__ADS_1


.


Saat membicarakan hal itu dengan Morgan, aku menanyakan di mana keberadaan orang itu sekarang.


"Setahu saya setelah Master Li kehilangan semua anggota keluarganya, dia memilih untuk mengasingkan diri di puncak gunung Moza," kata Morgan.


"Gunung Moza?" tanyaku, ingin memastikan.


"Iya Tuan, Gunung Moza, di bagian utara kota B," jawab Morgan lagi.


"Tuan, setahu saya gunung itu cukup jauh dari sini. Bisa-bisa orang-orang tuan Johan mendahului kita untuk sampai di sana. Tapi kalau kita ingin sampai lebih cepat dan tidak membuang-buang waktu, ada baiknya kalau kita terbang ke sana menggunakan helikopter?" ujar William.


"Kamu benar, Will. Menggunakan helikopter sepertinya ide yang bagus. Kalau begitu cepat hubungi Richard sekarang, agar dia bisa mengantar kita secepatnya ke sana."


"Baik, Tuan."


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2