
Waktu yang kami tunggu-tunggu itu pun hampir tiba, aku mulai memerintahkan anak buahku untuk menyusun strategi sematang mungkin. Bisa saja besok saat waktu masih dini hari Gang Black Mamba akan melakukan penyerangan. Bisa juga saat pagi, siang, sore, atau pun saat malam tiba. Tidak ada yang bisa memprediksikan kapan tepatnya. Yang jelas, musuh hanya akan menyerang ketika menganggap bahwa kami sudah lengah. Dengan begitu, mereka akan dengan mudah memba*ntai lawannya satu per satu.
"William, tugaskan Si Gundul dan Si Gondrong untuk berjaga di depan pintu gerbang markas. Di depan sana tidak perlu banyak penjaga yang kelihatan, biarkan musuh terkecoh dan mengira bahwa penjagaan kita kurang ketat. Dengan begitu, mereka pasti berpikir bahwa kita sudah lengah. Setelah itu, mereka pasti akan langsung menyerang kita," ucapku.
"Baik, Tuan," ucap William.
"Jangan lupa perketat penjagaan di bagian dalam markas. Jangan lupa sebar anggota tim mu di beberapa titik yang memang sudah kita tentukan sebelumnya."
"Siap, Tuan."
"Roy, bagaimana dengan ranjaunya?" tanyaku.
"Tim saya sudah menanamnya di beberapa titik yang sudah ditentukan, Tuan," jawab Roy.
"Bagus."
__ADS_1
Memasang beberapa ranjau dengan jarak beberapa puluh meter dari luar dinding markas berguna untuk mengurangi musuh yang masuk mengacau ke dalam markas kami. Dan aku harap, Johan adalah salah satu korban di antaranya. Dengan begitu, kami tidak perlu lagi repot-repot mengorbankan orang-orang kami untuk menghadapi orang licik seperti Johan.
Mungkin kedengarannya seperti pengecut, tapi aku yakin, Johan di luar sana pasti juga sudah merencakan hal licik untuk melawan kami. Johan itu rajanya orang licik, jadi untuk menghadapi orang licik seperti dia juga harus menggunakan cara yang licik pula. Dan lagi, jebakan seperti itu memang sudah biasa dalam peperangan.
Saat kami tengah sibuk mengatur strategi, tiba-tiba ponsel William berdering.
"Siapa, Will?" tanyaku.
"Susan, Tuan," jawabnya.
"Susan?" gumamku.
"Halo." William menyalakan loudspeaker ponselnya seraya meletakkan benda pipih itu di atas meja.
"Halo Tuan William." Suara Susan terdengar sangat jelas keluar dari speaker ponsel William.
__ADS_1
"Ada apa Susan? Apa kamu ingin memberikan informasi baru pada kami?" tanya William. Aku dan yang lainnya pun hanya menyimak pembicaraan keduanya.
"Tuan William, saya benar-benar minta maaf. Sepertinya informasi yang saya berikan minggu lalu keliru," ucap wanita itu.
Seketika kami semua bergantian saling menatap. Apa maksud wanita itu dengan informasi yang dia berikan itu adalah keliru?
"Apa maksudmu Susan? Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu?" tanya William.
"Begini Tuan, minggu lalu saya pernah memberikan informasi bahwa tuan Johan bersama anak buahnya akan melakukan penyerangan minggu depan, tepatnya adalah besok, tapi sepertinya informasi yang saya berikan salah besar, Tuan. Malam ini tuan Johan malah bersenang-senang dengan beberapa orang wanita bayaran," jelas Susan.
"Di sini belum ada tanda-tanda bahwa tuan Johan bersama orang-orangnya akan segera menyerang markas Anda ke sana. Sama sekali belum ada persiapan Tuan," tambah Susan.
Apa? Si*al. Umpatku dalam hati. Aku mengepalkan tanganku dengan geram. Entah mengapa aku merasa seperti sedang dipermainkan oleh Johan melalui Susan. Apa jangan-jangan, wanita itu bersama suaminya sudah ketahuan dan sekarang malah berbalik mempermainkan kami.
Karena merasa sangat kesal, aku segera meraih ponsel William yang masih tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"Susan, jangan pernah coba-coba bermain-main denganku. Atau kamu akan merasakan akibatnya," ucapku dengan penuh penekanan.
B e r s a m b u n g ...