RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 120


__ADS_3

Sesampainya di villa.


"Sayang, masuklah dulu. Cek keadaan anak-anak, siapa tahu mereka belum tidur karena mencari kita," kata Kaaran. Dia menyuruh Rania masuk lebih dulu agar dia bisa pergi ke suatu tempat tanpa perlu ketahuan oleh istrinya tersebut.


Begitu memastikan bahwa Rania sudah masuk ke dalam villa, Kaaran pun segera beranjak menuju ruang rahasia bawah tanah yang letaknya tepat berada di bawah bangunan villa. Di sana sudah ada Roy beserta kedua pengawal yang menunggunya.


Derap langkah Kaaran begitu jelas terdengar saat menuruni tangga serta saat dia berjalan menyusuri lorong gelap minim pencahayaan yang membawanya menuju sebuah ruangan rahasia di bawah tanah. Begitu langkah kaki yang seolah terpantul- pantul itu terdengar semakin jelas dan dekat, Zidan merasakan tubuhnya semakin gemetar ketakutan. Entah bagaimana caranya agar Kaaran mau melepaskan dan memaafkannya nanti. Jujur saja, pukulan Rania tadi sudah cukup membuatnya menderita, ditambah lagi pukulan dari 3 orang pria berwajah mengintimidasi yang saat ini sedang menjaganya. Saat ini Zidan merasa seperti sedang berada di dalam neraka dunia.


"Tuan." Roy beserta kedua pengawal menunduk sopan memberi hormat menyambut kedatangan Kaaran.


"Hem." Kaaran bergumam seraya memberi kode agar ketiganya kembali pada posisi masing-masing.


Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, Kaaran berjalan menghampiri Zidan yang saat ini sedang duduk di lantai dengan posisi dengan kedua tangannya diikat dibelakang punggung. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan karena babak belur.


"Tu-Tuan, tolong ampuni saya. Tolong ampuni saya, Tuan ...." Zidan berkata seraya bersujud di depan kaki Kaaran. Dia benar-benar belum rela kehilangan nyawanya malam ini. "Tolong maafkan sa-"


Bug.

__ADS_1


Bug.


Bug.


"Akh!" Zidan memekik kesakitan. Sekarang wajahnya sudah tak berbentuk lagi akibat bonus pukulan yang dia dapatkan dari Kaaran. Kini wajahnya penuh dengan luka lebam dan bengkak, ditambah lagi beberapa luka diantaranya yang mengeluarkan darah. Ada yang sudah mengering ada juga darah yang masih segar.


"Berani-beraninya kamu mau menyentuh istriku!" Kaaran berkata dengan penuh penekanan. "Apa kamu lupa siapa aku, hah?! Berani sekali kamu mau mengusik kehidupan kami! Benar-benar cari mati kamu, ya? Kamu sudah bosan hidup, hah?! Bisa-bisanya kamu berpikir untuk memanfaatkanku!" Kaaran mendorong kuat Zidan ke belakang setelah dia mencengkram kerah kemeja pria itu.


"Ampun, Tuan. Ampun. Saya mengaku salah, saya berani bersumpah tidak akan mengulanginya lagi." Zidan berkata dengan lirih. Saat ini dia merasa sangat tidak berdaya. Sepertinya nyawanya sudah mau lepas setelah dihajar oleh 5 orang dalam waktu kurang dari 2 jam.


Seketika mata Zidan membelakak. Pertanyaan ini benar-benar membuatnya merasakan firasat buruk. "Tu-Tuan, ma-maksud Anda ap-apa?"


"Jangan berlagak tidak tahu. Aku bertanya, kamu pilih nyawamu atau perusahaanmu yang mau kamu selamatkan," Kaaran memamerkan senyuman iblisnya "jika kamu ingin menyelamatkan nyawamu, maka ucapkan selamat tinggal pada perusahaanmu, tapi jika kamu memilih menyelamatkan perusahaanmu, maka bersiap-siaplah, nyawamu akan segera dilenyapkan tan-pa ada-nya ra-sa sa-kit sedi-kit-pun. Jadi kamu tidak perlu takut mati."


Zidan semakin gemetar ketakutan. Seandainya dia boleh memilih keduanya, tentu saja dia akan memilih untuk menyelamatkan keduanya, karena keduanya tidak akan lengkap jika hilang salah satunya. Hidup tanpa harta sama dengan menderita. Kaya tapi meninggal, buat apa? Percuma. Pikirnya.


"Cepat jawab! Jangan membuang-buang waktuku!" bentak Kaaran.

__ADS_1


"Ba-baik, Tuan. Sa-saya memilih nyawa, Tuan." jawab Zidan.


Lagi-lagi Kaaran tersenyum sinis. "Kamu dengar 'kan, Roy apa yang dia katakan? Jadi jangan sampai kamu lupa pada PRmu malam ini sebelum tidur."


"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Roy.


"Tu-Tuan. Ap-a saya sudah boleh dibebaskan sekarang?" tanya Zidan.


"Tentu. Tentu saja," jawab Kaaran. "Tapi setelah ini."


Bug.


Bug.


Bug. Kaaran terus menghajar Zidan hingga pria itu tidak sadarkan diri.


"Alex, Ryan, bawa dia keluar dari sini. Terserah kalian mau membuangnya dimana," titah Kaaran kemudian.

__ADS_1


__ADS_2