RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 58


__ADS_3

Seketika suasana menjadi hening setelah aku mengucapkan kalimat itu. Dad Robin terdiam, aku pun demikian. Namun setelah beberapa saat kemudian, barulah dad Robin mulai angkat bicara.


"Apakah keputusan ini kamu ambil karena seorang wanita? Kamu ingin melepaskan semuanya karena seorang wanita?" Dad Robin bertanya sambil memperbaiki posisi duduknya. Sekarang dia mematikan cerutu yang ada di tangannya, pertanda pembicaraan yang cukup serius akan segera dimulai.


Aku tidak menjawab pertanyaan beliau, justru malah terdiam dan menunduk. Biar bagaimana pun, aku menjadi seorang mafia karena aku dibesarkan oleh seorang bos mafia.


"Kaaran, Daddy kenal baik seperti apa sifat kamu. Bukan hanya setahun dua tahun Daddy membesarkan kamu, tapi puluhan tahun. Jika Daddy bertanya dan kamu hanya terdiam dan menunduk seperti itu, berarti jawabannya adalah iya," kata Dad Robin.


"Wanita mana yang membuatmu sampai rela ingin melepaskan semuanya?" tanyanya lagi, dan aku bingung harus menjawab apa, karena tebakan beliau sangat benar, aku ingin melepaskan kekuasaan yang aku miliki karena seorang wanita.


"Kaaran, Daddy sedang bertanya padamu, kenapa kamu hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Daddy?" Kali ini intonasi suara dad Robin sudah naik satu oktaf.


"Da-Dad, aku benar-benar minta maaf karena sudah mengecewakan Daddy."

__ADS_1


"Kaaran, Daddy tidak ingin mendengar kalimat permintaan maafmu itu! Daddy hanya ingin mendengar jawaban atas pertanyaan Daddy!" Kali ini dad Robin sudah terdengar sangat marah.


"Sekarang, jawab pertanyaan Daddy, Kaaran!" ucapnya lagi, masih dengan nada suara yang meninggi.


"Gadis itu ... gadis itu adalah gadis yang aku bawa ke acara ulang tahun tuan Wilson waktu itu, Dad," jawabku, sambil masih menundukkan kepalaku dalam-dalam. Saat ini aku tidak berani melihat seperti apa reaksi dad Robin.


"Sudah sejauh apa hubunganmu dengan gadis itu?" tanya dad Robin. Kali ini nada suaranya sudah kembali normal.


Aku menelan ludahku dengan kasar. Entah akan seperti apa reaksi ayah angkatku tersebut jika mengetahui bahwa putra angkatnya ini ternyata sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki dua anak sekaligus. Aku takut dad Robin akan semakin marah padaku.


Suasana kembali hening. Aku yakin, pasti dad Robin sangat kecewa mendengar hal itu. Aku menikah dengan seorang gadis tanpa meminta restu dari beliau terlebih dahulu.


"Dad, aku benar-benar minta maaf. Sungguh, bukan karena aku tidak menghargai Daddy sebagai orang tuaku. Hanya saja ... hanya saja aku ingin melindungi istri dan kedua calon anakku dari kejahatan musuh, makanya aku memilih untuk merahasiakan status pernikahanku dan menyembunyikannya dari siapa pun," jelasku.

__ADS_1


"Jadi ... jadi sekarang gadis itu sedang hamil?" Dari nada bicara dad Robin, sepertinya beliau cukup terkejut mengetahui fakta itu.


"Iya, Dad. Sekarang istriku sedang hamil anak kembar," jawabku.


Suasana kembali hening selama beberapa saat, lalu kemudian dad Robin kembali berkata, "Apa istrimu tahu bahwa kamu ternyata seorang ketua mafia?"


Aku menggeleng. "Tidak, Dad."


"Jadi karena itu alasannya kamu ingin berhenti menjadi seorang mafia?"


"Bisa dikatakan seperti itu Dad, tapi ... alasan utamanya karena aku ingin memulai hidup yang tenang dan bahagia bersama istri dan anak-anakku kelak."


Mendengar ucapanku, dad Robin malah tertawa. "Kaaran ... Kaaran. Jangan pikir semuanya akan semudah itu, Nak."

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2