
Di dalam ruang kerja Kaaran.
"Informasi apa yang kamu dapatkan, Will?" tanya Kaaran.
"Begini Tuan, Zidan Abraham yang Anda maksud itu sama sekali tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan nona Rania. Dia sudah membohongi Anda dengan mengatakan bahwa dia adalah kakak sepupu nona Rania, Tuan," jelas William.
"Lalu?" tanya Kaaran lagi. Dia semakin penasaran, kenapa bisa Zidan berani membohonginya.
"Sebenarnya ...." William merasa agak ragu-ragu untuk menjelaskan lebih lanjut, takut kenyataan ini akan membuat tuannya marah.
"Sebenarnya apa, Will? Katakan saja. Tidak usah ragu."
"Baik, Tuan. Saya akan mengatakannya, tapi saya mohon Anda jangan marah."
"Memangnya apa? Kenapa kamu berani berkata seperti itu?" tanya Kaaran. Ucapan William barusan membuatnya semakin penasaran.
"Sebenarnya ... sebenarnya pria bernama Zidan Abraham itu adalah masa lalu nona Rania, Tuan. Mereka dulu tidak berpacaran, tapi sangat dekat selama bertahun-tahun. Menurut informasi yang saya dapatkan, nona Rania dulu ... nona Rania dulu menyukai pria itu, Tuan," sejenak William menjeda ucapannya, "tapi kedekatan mereka berakhir saat nona Rania tahu bahwa ternyata dia hanya dimanfaatkan oleh pria yang bernama Zidan tersebut."
__ADS_1
"Dimanfaatkan bagaimana maksudmu, Will?" tanya Kaaran masih belum mengerti.
"Begini, Tuan. Anda masih ingat 'kan jika dulunya orang tua nona Rania adalah salah satu pengusaha tersukses di kotanya. Nah, si Zidan ini memanfaatkan nona Rania agar nona Rania mau membujuk ayahnya agar ayahnya nona Rania mau menjadi investor di perusahaan Zidan nantinya. Sayangnya rencana busuknya cepat terbongkar sehingga nona Rania menjauhinya."
Oh, jadi ternyata seperti itu ceritanya. Pantas saja istriku terlihat sangat tidak suka padanya. Batin Kaaran.
"Baiklah Will, kerjamu bagus," kata Kaaran sebelum akhirnya dia mengakhiri sambungan teleponnya dengan William.
Kaaran tersenyum miring. "Cih, Zidan Abraham si*alan. Berani sekali dia mempermainkanku. Apa dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa? Beraninya. Lihat saja nanti, aku akan mengikuti permainanmu."
.
.
"Sayang, kenapa kamu belum siap-siap?" tanya Kaaran. Dia berjalan menghampiri istrinya itu.
"Siap-siap kemana, Dad?" tanya Rania.
__ADS_1
"Loh, kamu lupa kalau Zidan mengundang kita untuk datang ke pestanya malam ini?" tanya Kaaran lagi.
"Ck, aku malas menghadiri pesta itu, Dad. Kamu saja yang pergi, aku tidak mau," tolak Rania.
"Loh, sayang ... tidak boleh seperti itu. Zidan itu 'kan kerabatmu, seharus-"
"Daddy!" teriak Rania memotong ucapan Kaaran. "Sudah aku bilang bahwa Zidan itu bukan kerabatku, dia hanyalah seorang pen-"
"Sst ...." Kini giliran Kaaran yang memotong ucapan Rania. "Aku tidak mau menerima alasan, Sayang. Pokoknya kamu harus menemaniku ke pesta itu, tidak boleh tidak. Mengerti?"
Karena aku sudah menyiapkan kejutan bagus untukmu, sayang. Batin Kaaran.
Rania berdecak kesal. "Ck, Daddy."
"Cepatlah bersiap-siap, Sayang. Anak-anak biar suster yang menjaga mereka. Oke?" kata Kaaran. Saat ini dia sedang tidak ingin dibantah oleh istrinya. "Aku sudah menyiapkan gaun malam yang cantik juga penata rias terbaik untukmu."
Dengan wajah cemberut dan langkah kaki yang menghentak-hentak, Rania berjalan keluar dari kamar si kembar. Persetan dengan gaun malam yang cantik dan penata rias profesional itu. Seandainya dia bisa bersikeras membantah perintah Kaaran, dia lebih memilih untuk tidak menghadiri pesta itu.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...