RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 103


__ADS_3

Dalam gelap Kaaran tersenyum sambil terus melangkah mendekati istrinya. Dia yakin saat ini Rania pasti merasa ketakutan. Terlihat jelas dari posisi tubuh istrinya itu yang langsung memasang mode waspada.


"Diam di situ! Kalau tidak, aku akan menghajarmu!" ancam Rania kemudian.


Mendengar ancaman istrinya, senyum Kaaran semakin melebar. Membayangkan wajah galak Rania justru membuatnya gemas. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, bagaimana reaksi Rania nanti jika tahu bahwa sebenarnya itu adalah dirinya.


Tidak berselang lama setelah Rania mengeluarkan peringatan, sosok bayangan hitam itu justru malah semakin mendekat. Sepertinya sosok bayangan hitam itu sama sekali tidak takut pada ancamannya.


"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku benar-benar menghajarmu. CIAAAT!!!"


Dalam hitungan detik tendangan Rania langsung melayang dan menghantam dada Kaaran.


Kaaran memekik tertahan. "Akh-"

__ADS_1


Bruk! Kaaran langsung terpental hingga beberapa meter ke belakang. Rasanya Kaaran ingin tertawa saat mendapatkan tendangan super dari istrinya itu. Meski pun kesakitan, tapi Kaaran justru malah merasa senang.


Istriku benar-benar kuat. Tendangannya juga lumayan berbobot. Dia memang pantas menjadi istri Kaaran Dirga. Batin Kaaran sambil tersenyum disela ringisannya.


Kaaran merasa senang karena Rania tidak seperti gadis kebanyakan yang lemah dan manja. seketika Kaaran berpikir, andai saja Rania berada dalam didikan dad Robin sejak dia masih kecil, Kaaran yakin, sekarang ini istrinya itu pasti sudah menjadi ratu mafia.


Tak. Tidak berselang lama setelah Kaaran dihajar oleh Rania, seisi kamar langsung kembali terang. Ternyata Rania menyalakan semua lampu yang ada kamarnya.


"Kamu-"


Rania tersenyum sinis. Dia terlihat sangat marah dan geram pada Kaaran. "Cih, kamu memang pantas mendapatkannya. Yang tadi itu belum cukup, rasanya aku ingin menghajarmu sampai aku benar-benar puas."


Jleb. Kaaran menelan ludah dengan kasar. Rupanya perkiraannya salah, Rania sama sekali tidak menaruh belas kasihan padanya. Justru Rania malah ingin menghajarnya hingga babak belur.

__ADS_1


Kini Kaaran sudah kembali berdiri dengan posisi sempurna. Dia merentangkan kedua tangannya lalu berkata pada Rania, "Kalau menghajarku bisa membuat kamu senang, maka lakukanlah. Aku rela Istriku sayang."


Mendengar Kaaran berkata seperti itu, Rania justru malah terdiam, tapi dia balas menatap Kaaran dengan tatapan yang sangat tajam seolah-olah sedang bersiap untuk menerkam suaminya itu kapan saja.


"Kenapa diam saja, Sayang? Ayo, hajar aku sampai kamu puas," ucap Kaaran lagi, lalu melangkah pelan ke arah Rania. Saat ini Kaaran sedang mencari cara untuk memeluk istrinya. Dia ingin meluapkan segala kerinduan yang sudah sangat menumpuk selama ini.


"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuh!" ancam Rania.


"Jadi kamu ingin membunuh suamimu sendiri, hm? Ya sudah, kalau begitu lakukanlah. Aku rela mati asalkan mati di tanganmu." Kaaran berkata sambil terus berjalan ke arah Rania.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" Rania kembali berteriak sambil terus berjalan mundur, hingga akhirnya tubuhnya mentok di sudut lemari, tidak bisa kemana-mana lagi.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...__________________________________________...


Sorry baru upπŸ™πŸΌ Aku lagi sibuk nih buat persiapan lebaran, tapi tenang aja, bab berikutnya sudah siap meluncur juga kok.. Pantengin terus ya guys.. heheπŸ˜…


__ADS_2