
"Aku benci padamu, Dad! Aku benci!" Istriku berkata lalu memutar badan dan berlari pergi meninggalkanku.
"Sayang, aku minta maaf! Jangan pergi!" Sekuat tenaga aku mencoba untuk berteriak, akan tetapi tenggorokanku terasa tercekat, lidahku juga terasa keluh. Mulutku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku sangat terkejut. Apa yang terjadi padaku?
Tidak ingin menyerah, sekali lagi aku mencoba untuk kembali memanggil istriku, "Sayang! Rania! Jangan pergi Rania! Tunggu aku!"
Akan tetapi hasilnya sama saja. Suaraku benar-benar tidak bisa keluar. Aku hanya bisa berteriak memanggil istriku dalam hati.
Sial. Kenapa jadi begini? Apa sebenarnya yang terjadi padaku?
Tidak ingin menyerah begitu saja, aku pun berusaha untuk berlari mengejarnya, akan tetapi rasanya aku tidak bisa menggerakkan kaki dan tanganku. Rasanya saat ini aku tidak ada bedanya dengan orang lumpuh, dan hal itu seketika membuat aku menjadi sangat panik.
__ADS_1
Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa berbicara? Kenapa suaraku tidak dapat keluar? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Apa yang terjadi denganku?
Disaat aku tengah dilanda kebingungan dan kepanikan, aku melihat punggung istriku yang dihiasi dengan rambut panjangnya semakin berlari menjauh dan menghilangkan dari pandanganku.
SAYANG!!! RANIA!!! JANGAN PERGI RANIA!!! TIDAAAK!!! Aku berteriak histeris memanggil nama istriku. Namun sejurus kemudian, aku tersadar bahwa ternyata aku hanya bermimpi.
Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku. Pandanganku terasa kabur untuk beberapa saat. Namun, saat penglihatanku sudah mulai terlihat jelas, bola mataku mulai menatap langit-langit ruangan. Ruangan ini teramat asing bagiku, ruangan dengan nuansa serba putih. Ruangan ini lebih mirip dengan ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Apa sekarang aku sedang berada di rumah sakit?
Sebenarnya apa yang terjadi? Aku benar-benar kebingungan sekarang. Dan kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa sebelumnya? Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai dirawat di rumah sakit?
Ku lihat Roy berdiri di sampingku. Dia terlihat terus mengajakku berbicara, akan tetapi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Saat ini hanya suara dengungan yang memenuhi telingaku.
__ADS_1
Nging ... nging ... nging.
Tidak lama kemudian, Roy beranjak pergi meninggalkanku. Tidak berselang lama, dia kembali bersama seorang dokter. Aku tidak bisa mengenali siapa dokter itu.
Aku benar-benar tidak tahu, sebenarnya kenapa aku bisa sampai dirawat di rumah sakit? Apa sudah terjadi sesuatu padaku, misalnya aku mengalami kecelakaan? Atau apakah aku masuk rumah sakit karena aku memang sedang sakit? Lalu kalau aku memang benar-benar sedang sakit, aku sakit apa? Sebenarnya separah apakah penyakitku, sehingga untuk menggerakkan kaki dan tanganku pun rasanya aku tidak bisa? Bahkan untuk menggerakkan jemari dan kepalaku pun rasanya aku tidak punya kuasa. Yang bisa aku gerakkan hanya bola mataku saja untuk melihat keadaan di sekitarku. Aku juga ingin bersuara tapi rasanya juga tidak bisa. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa aku seperti orang lumpuh?
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Guys! Karena Babang Kaaran terkena suntikan virus mematikan dari musuh, sehingga dia sempat mengalami koma selama beberapa hari, lalu begitu dia terbangun, dia mengalami kelumpuhan, maka dari itu mari kita beralih ke POV Author di bab berikutnya agar kalian lebih paham apa sebenarnya yang terjadi pada tokoh utama dalam cerita ini....
__ADS_1