RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 67


__ADS_3

Saat aku kembali ke villa, istriku sudah tertidur. Setelah aku membersihkan diri dan mengganti jasku dengan piyama tidur, barulah aku ikut naik berbaring di atas tempat tidur bersamanya. Aku naik berbaring dengan pelan, takut membangunkannya.


Aku menatap wajah terlelap istriku dari jarak yang sangat dekat. Lalu mencium kening dan perut buncitnya secara bergantian. Setelah itu ikut memejamkan mata sambil membawanya ke dalam pelukanku. Hari ini pekerjaan di kantor benar-benar sangat melelahkan dan menguras pikiran.


.


.


Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk menghubungi Roy. Aku ingin menanyakan, apakah masalahnya sudah kelar dan aman.


"Bagaimana Roy, apakah masalahnya sudah selesai?" tanyaku, setelah asistenku itu menjawab panggilan telepon dariku.


"Maaf, Tuan. Dengan sangat berat saya harus mengatakan ini. Saat kami berpikir masalahnya sudah aman, kami bertiga pun mulai tidur dan beristirahat. Namun, baru dua jam kami tertidur, kami hampir saja kebobolan. Sepertinya musuh lumayan cerdas Tuan. Mereka menyerang saat kami lengah karena beristirahat," jelas Roy.


"Kurang ajar. Sepertinya Johan tidak main-main ingin menghancurkan perusahaanku. Awas saja." Aku mengepalkan tanganku geram karena ulah kakak angkatku itu.

__ADS_1


Setelah merasa cukup pembicaraanku dengan Roy di telepon, aku pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Saat istriku terbangun, aku sudah lengkap dengan setelah jas kerjaku.


"Daddy, kamu mau berangkat sekarang? Kenapa berangkatnya pagi-pagi sekali?" tanya istriku, sambil berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya.


Aku berjalan menghampiri istriku, lalu memeluk dan mencium keningnya dalam-dalam. "Iya Sayang, aku akan berangkat sekarang. Perusahaan benar-benar sangat membutuhkan aku untuk menyelesaikan masalah yang ada sesegera mungkin."


"Memangnya perusahaan sedang mengalami masalah apa, Dad? Kenapa sepertinya sangat serius sekali?" tanyanya lagi.


"Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, jangan lupa dimakan ya. Dan ingat pesanku, jangan pernah berani-berani keluar dari villa saat aku tidak ada. Ok?" pesanku sebelum akhirnya berangkat, dan istriku menjawab ucapanku dengan anggukan.


"Bagus. Aku sangat senang kalau kamu penurut."


.


.

__ADS_1


Sesampainya di kantor.


"Selamat pagi, Tuan." Roy dan William masih sempat berdiri menyapaku begitu aku masuk ke dalam ruanganku. Sementara Morgan, dia terlihat sangat fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya. Jemarinya dengan lincah mengetik sesuatu yang entah apa.


"Hem, pagi," jawabku.


Aku terus berjalan memasuki ruangan lalu meletakkan sebuah paper bag berukuran besar di atas meja.


"Aku membawa menu sarapan untuk kalian bertiga. Sarapanlah dulu," ucapku.


"Terima kasih, Tuan." Roy dan William menjawab bersamaan. Sementara Morgan, dia tidak menjawab dan terlihat masih sangat fokus pada layar laptopnya, jemari-jemarinya masih lincah menari-nari di atas keyboard.


"Kalian berdua sarapanlah dulu. Sepertinya Morgan masih sangat sibuk. Oh iya, bagaimana masalahnya sekarang?" tanyaku, dengan perasaan yang sangat khawatir. Ini menyangkut masalah hancur atau tidaknya perusahaan yang sudah aku rintis dengan susah payah selama bertahun-tahun.


"Sekarang keadaan sudah kembali aman Tuan, tapi sepertinya ...." Roy terlihat sedikit ragu untuk menjawab dan malah melirik ke arah William, seolah memberi kode agar William yang menjawab.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2