
"Ti-tidak Tuan Kaaran. Sa-saya mana berani mempermainkan Anda," ucap Susan. Suaranya terdengar gugup dan ketakutan. "Tu-Tuan Kaa-ran. Saya berani bersumpah Tuan, bahwa saya ... bahwa saya hanya menyampaikan informasi seperti yang saya dapatkan. Saya juga tidak tahu bahwa tuan Johan akan merubah rencananya yang sebelumnya."
Aku mendengus kasar. Hal ini sungguh membuatku sangat emosi. Kalau Johan terus-terusan saja menunda untuk menyerang kami, mau sampai kapan kami berada di sini. Benar-benar membosankan.
"Hei, dengar baik-baik. Aku peringatkan sekali lagi. Awas saja kalau kamu sampai berani berkhianat, bukan hanya kamu yang akan merasakan akibatnya, tapi seluruh keluargamu juga," ancamku dengan penuh penekanan, lalu memutus sambungan telepon kami. Aku merasa sangat geram karena merasa dipermainkan oleh Johan lewat wanita itu.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya William.
"Entahlah. Aku kembali ke ruanganku dulu. Jangan ada yang menggangguku, kecuali karena keadaan darurat." Disaat seperti ini aku ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran.
"Kalian semua tetaplah berjaga dan waspada. Yang aku takutkan apa yang dikatakan oleh wanita itu tadi hanya tipuan untuk mengecoh kita agar kita lengah."
"Baik, Tuan." Semuanya menjawab serempak.
__ADS_1
.
.
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa sudah 1 bulan kami berada di markas, tapi kawanan Black Mamba hingga detik ini pun belum juga datang menyerang kami. Sepertinya dugaanku memang benar, Johan memang sengaja mempermainkanku. Dia sengaja membuang-buang waktu berhargaku dengan membuatku terus terkurung di sini.
Aku curiga, pasti ada yang berkhianat, Johan memiliki mata-mata orang dalam di sini, tapi siapa? Aku juga belum bisa menebak. Yang jelas, mata-mata itu bukan Susan, tapi seseorang yang berpura-pura bergabung dengan Mawar Biru.
"Daddy, kapan kamu pulang? Kenapa urusan bisnismu tidak kunjung selesai juga sih? Ini 'kan sudah 1 bulan kamu di sana," tanya istriku saat kami sedang melakukan video call. Pertanyaan itu hampir setiap hari dia tanyakan padaku.
"Tidak lama lagi Sayang. Sabar ya," jawbaku. Aku tidak tahu harus menjawab apa kecuali dua kalimat itu.
"Daddy, tidak kah kamu mengingat bahwa jadwal persalinanku tinggal menghitung hari lagi? Apa kamu tidak ada niatan sama sekali untuk menemaniku saat aku berjuang melahirkan anak-anak kita nanti?" Istriku bertanya dengan mata berkaca-kaca dan bibir ditekuk. Sepertinya dia akan menangis lagi seperti kemarin-kemarin.
__ADS_1
"Akan aku usahakan Sayang, tapi aku juga tidak bisa berjanji karena aku takut tidak bisa menepatinya." Mendengar jawabanku, air mata istriku langsung meleleh.
"Sayang, kenapa kamu menangis lagi? Tolong jangan menangis lagi, karena aku tidak sanggup melihatnya," ucapku seraya memalingkan wajahku.
Melihat wanita yang aku cintai menangis membuat hatiku tersayat-sayat. Apalagi dia menangis gara-gara aku.
Sayang, maafkan aku. Aku tidak pulang-pulang karena aku hanya ingin melindungi kamu bersama anak-anak kita. Gumamku dalam hati.
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Maaf karena kemarin bolong up🙏 Aku crazy up nya di novel terbaruku....
__ADS_1