RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 123


__ADS_3

"Rania! Kamu dimana, Sayang?" teriak Kaaran saat dia dan Roy sudah berdiri di depan pintu toilet wanita.


Ceklek. Pintu toilet terbuka. Terlihat Rania keluar dari dalam sana dengan ekspresi ketakutan. "Daddy, aku takut ...." Dengan cepat dia langsung memeluk Kaaran.


"Tidak apa-apa Sayang, jangan takut. Sekarang aku sudah ada di sini." Kaaran berkata sambil balas memeluk Rania, membuat istrinya itu merasa aman dan terlindungi. "Sekarang ceritakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?" ucapnya kemudian saat Rania mulai melonggarkan pelukannya.


"Dad, kamu tahu apa ini?" Rania menunduk mengambil sesuatu di lantai. Sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna biru pekat. "Sepertinya ada orang yang ingin mencelakaiku menggunakan benda ini, Dad," katanya lagi lalu memberikan jarum suntik itu pada suaminya.


Dug.


Kaaran melebarkan matanya saat menerima jarum suntik itu. Seketika dia kembali teringat dengan kejadian buruk yang pernah menimpanya beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Jangan-jangan, pelakunya orang yang sama dengan yang mencelakaiku waktu itu. Batin Kaaran. Seketika dia kembali teringat pada si Gundul pengkhianat. Waktu itu si Gundul memang berhasil kabur sebelum dia ketahuan bahwa ternyata dialah pelaku sekaligus pengkhianat terbesar di klan Mawar Biru.


Kaaran berbalik menatap Roy. Seolah dia memberi kode pada Roy untuk tutup mulut. Jangan sampai kamu salah bicara, Roy. Jangan sampai kamu membuat Rania curiga. Apalagi sampai membocorkan rahasia kemana sebenarnya kita pergi selama bererapa bulan ini. Aku takut istriku malah kembali marah dan mendiamkan aku jika dia sampai tahu bahwa selama ini aku sudah membohonginya.


Roy yang sudah hampir 10 tahun bekerja dengan Kaaran pun bisa langsung mengerti dengan maksud isyarat dari tuannya tersebut, meski pun Kaaran tidak mengatakan secara langsung padanya.


Anda tenang saja, Tuan, saya tidak akan mengatakan sesuatu hal yang mungkin bisa membuat nona Rania curiga. Batin Roy.


"Yang kamu katakan bisa saja benar, Roy. Sepertinya ke depannya kita harus lebih waspada," kata Kaaran. "Kemarin Zidan, sekarang muncul lagi penjahat lain."


Rania yang mendengar ucapan Kaaran dan Roy hanya bisa menyimak. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya sekarang dia sudah bisa paham, kenapa selama ini suaminya mengurungnya di villa dan lebih memilih untuk menyembunyikan status pernikahan mereka dari publik. Ternyata Kaaran hanya ingin menghindarkan dan melindunginya dari bahaya yang datang mengancam secara silih berganti.

__ADS_1


.


.


Saat dalam perjalanan pulang, Kaaran terus-terusan memeluk Rania dengan erat. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Rania sampai terkena suntikan obat bius itu dan berakhir diculik oleh musuh.


"Sudah, tidak apa-apa, Dad. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku baik-baik saja," kata Rania.


"Tidak Sayang. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu." Kaaran semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Maafkan aku Sayang. Ini semua salahku. Sepertinya aku sudah salah dalam mengambil keputusan. Tadinya aku pikir keputusanku sudah benar, karena pasti akan membuatmu bahagia, tapi ternyata tanpa aku sengaja, aku malah menggiringmu ke lembah bahaya.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2