RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 44


__ADS_3

"Bukannya semalam kamu berkata akan menagih jawabku minggu depan? Lalu kenapa sekarang kamu sudah menanyakan jawabannya?" Dia berkata sambil balas menatapku.


Sejenak aku terdiam untuk memikirkan jawaban yang cocok. "Ya itu karena setelah aku pikir-pikir ... waktu 1 minggu itu terlalu lama. Aku hanya ... aku hanya takut perutmu nanti akan semakin membesar dan ibumu akan curiga."


Sebenarnya itu hanyalah alasan semata. Tidak masuk akal jika perutnya langsung membesar hanya dalam kurun waktu satu minggu ke depan. Hanya saja ... membayangkan harus berpisah lagi dengannya selama satu minggu ke depan rasanya sungguh berat. Sudah cukup selama 1 bulan terakhir ini kami tidak bertemu.


"Cih, jawaban tidak masuk akal," gumamnya, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Aku tersenyum. Ternyata tidak semudah itu untuk aku membodohinya. Aku kemudian menarik pergelangan tangannya dan membuatnya jatuh terduduk di atas pangkuanku.


"Kamu mau apa?!" tanyanya setengah berteriak. Saat ini kedua tanganku sudah melingkar di pinggangnya.


"Aku ingin mengucapkan selamat pagi pada anak kita," jawabku. Sebelah tanganku langsung aku gerakkan untuk menyentuh perutnya yang masih ditutupi oleh baju yang dia kenakan. Dan mendengarku berkata seperti itu, wanitaku langsung terdiam.

__ADS_1


Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Selagi dia menurut, aku tidak boleh melepaskannya begitu saja.


"Selamat pagi, Nak," ucapku, sambil tersenyum dan mengelus perutnya yang masih belum buncit sama sekali.


"Nak, maukah kamu membantu Daddy untuk membujuk Mommy kamu, agar Mommy kamu mau menikah dengan Daddy?"


"Iya Daddy, aku mau." Aku menjawab sendiri pertanyaanku dengan menirukan gaya suara anak-anak, tapi entah mengapa kedengarannya malah seperti suara tikus terjepit.


"Cih, dasar." Wanitaku berkata sambil membuang muka.


Aku menarik dagunya agar dia kembali melihat ke arahku. Setelah iris mata kami saling bertemu dan hanya terhalang jarak sekian senti saja, aku pun lalu berkata, "Menikahlah denganku. Aku mohon."


Aku memohon padanya dengan wajah memelas, berharap dia akan memiliki belas kasihan dan mau mengabulkan keinginanku untuk menikah dengannya.

__ADS_1


Melihat dia masih saja terdiam, aku pun kembali berkata, "Rania, aku mohon. Demi anak kita."


"Aku tahu, kamu melakukan semua ini demi calon bayi yang ada di dalam kandunganku, tapi bukankah semalam kamu sendiri yang sudah mengatakan padaku bahwa kamu akan memberikan waktu 1 minggu untuk aku agar berpikir, tapi kenapa pagi ini kamu sudah menagih jawaban dariku?" tanyanya.


"Aku ...." Aku tidak tahu harus berkata apa, karena nyatanya memang aku yang salah. Aku yang tidak sabaran menunggu jawabannya.


"Lepaskan aku." Dia berkata sambil melepaskan diri dan berdiri dari pangkuanku. "Sepertinya asistenmu hanya mengada-ngada. Buktinya, kamu terlihat baik-baik saja, berbanding terbalik dengan yang dia katakan pada Ibuku."


"Rania ak-"


"Sudahlah, habiskan sarapanmu. Pagi ini kamu ingin kembali ke ibukota 'kan? 1 Minggu lagi aku baru akan memberikan jawaban untukmu, jadi jangan berharap banyak kamu bisa mendapatkan jawaban dariku hari ini." Setelah wanitaku mengucapkan kalimat-kalimat itu, dia pun segera beranjak keluar dari kamar meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.


Aku mengacak-acak rambutku dengan kasar. "Ah, sial. Aku gagal membujuknya. Dan ucapannya itu ... apa tadi dia mengusirku secara halus?"

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2