
Semenjak kejadian itu, Kaaran baru tersadar jika ternyata bukan hanya Johan saja beserta orang-orangnya yang bisa berbuat jahat pada keluarganya, melainkan gangguan dari orang lain pun masih bisa datang. Karena kejadian itu pula, Kaaran menjadi semakin merasa over protektif terhadap Rania.
Setelah kembali dari ruang rahasia bawah tanah, Kaaran tidak langsung kembali ke kamarnya, melainkan dia malah masuk ke dalam ruang kerjanya terlebih dahulu. Di dalam sana Kaaran mulai berjalan mondar mandir kesana kemari. Dia mulai memikirkan suatu cara, bagaimana caranya agar dia bisa melindungi istrinya yang sudah bebas pergi kemana-mana dari gangguan orang-orang yang berniat jahat, karena tidak mungkin Kaaran kembali melarang istrinya keluar dan mengurungnya kembali di dalam villa. Sebab, hal itu pasti akan membuat Rania menjadi marah dan kembali mendiamkan suaminya.
Kaaran mendengus kasar. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Masalah ini benar-benar membuat kepalaku pusing. Setelah Zidan yang satu disingkirkan, tidak menutup kemungkinan Zidan-Zidan yang lain akan kembali muncul suatu hari nanti. Jika aku menugaskan beberapa orang pengawal untuk menjaga istriku saat dia pergi keluar, lama-lama dia akan merasa tidak nyaman karena merasa pergerakannya dibatasi. Apalagi dia begitu percaya diri dan merasa bisa melindungi dirinya sendiri, pasti pengawalan ketat seperti itu tidak begitu dia butuhkan menurutnya."
Pfft. Lagi-lagi Kaaran menghembuskan napasnya dengan kasar. "Tapi ... setelah aku pikir-pikir, menugaskan minimal 2 orang pengawal untuk menjaga istriku itu wajib, tidak boleh tidak, meski pun dia hanya diawasi dari kejauhan. Dan yang terpenting, kemampuan bela dirinya juga harus lebih ditingkatkan lagi agar dia bisa menjadi wanita yang semakin kuat dan tangguh, yang bisa melindungi dirinya sendiri ketika hal-hal tidak diinginkan tiba-tiba datang menghampiri," ucapnya berbicara sendiri. "Sepertinya aku harus menghubungi William sekarang."
Kaaran merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana, lalu setelah itu dia langsung mencari nomor kontak William untuk dia hubungi.
"Selamat malam, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya William setelah menjawab panggilan Kaaran.
__ADS_1
"Will, aku ingin kamu menugaskan minimal 2 anak buahmu untuk menjadi pengawal pribadi rahasia istriku saat keluar dari villa," jawab Kaaran. "Ingat, pilih anak buahmu yang paling hebat dan tangguh. Juga yang paling penting anak buah yang bisa diandalkan."
"Baik, Tuan. Anda tenang saja."
.
.
Bukan hanya kemampuan bela diri Rania saja yang ingin Kaaran tingkatkan, melainkan dia juga ingin mengajari Rania hal baru, tentunya yang berhubungan dengan membela diri, yaitu belajar menembak menggunakan pis*tol sungguhan. Awalnya Rania bersikeras menolak, tapi setelah Kaaran bujuk, Rania akhirnya setuju, meski pun sedikit terpaksa.
"Dad, apakah belajar menembak begitu penting, kenapa kamu begitu memaksaku melakukannya? Aneh." Raniaku mengerucutkan bibirnya saat Kaaran sudah berdiri di belakangnya ingin mengajarinya cara memegang pis*tol yang benar dan tehnik membidik sasaran yang baik dan benar.
__ADS_1
"Ini harus Sayang, kamu harus sering-sering latihan agar kamu cepat mahir. Setelah ini aku akan mengajarimu hal-hal baru lagi," jawabnya. "Bagaimana, apa kamu sudah siap?"
"Hem."
"Sekarang fokuslah pada sasaran tembak yang ada di depan sana, setelah kamu yakin bahwa bidikanmu sudah tepat sasaran, maka tembaklah."
DOR!!!
"Yah ... meleset, Dad," keluh Rania.
"Teruslah latihan, Sayang, kamu sudah mengerti 'kan bagaimana caranya?" tanyanya dan langsung mendapat anggukan dari istrinya.
__ADS_1