RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 87


__ADS_3

...Karena aku ngeliat ada yang ngasih hadiah sama vote, jadi aku tambah satu bab lagi untuk hari ini🤣🤣🤣...


...Happy reading~...


..._______________________________________...


Aku berjalan ke sana ke mari menunggu bi Nining dan ibu mertuaku masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan istriku.


Ku lihat di rekaman CCTV lainnya yang merekam keadaan di ruangan lain. Gambar itu mulai menampakkan bi Nining, ibu mertuaku, beserta adik iparku yang berlari tergesa menuju lift jalan masuk menuju kamar kami.


Setelah mereka masuk, mereka semua nampak sangat terkejut melihat penampilan istriku yang nampak berantakan, dan tidak berselang lama setelah mereka masuk, istriku nampak pingsan di dalam pelukan ibu dan adiknya.


Hal itu tentu saja membuatku semakin panik dan khawatir. Dengan cepat aku segera menghubungi dokter Santi untuk menyuruhnya agar secepatnya datang ke villa untuk memberikan penanganan pada istriku.


"Selamat pagi Tuan Kaaran, ada yang bisa saya bantu?" Begitu kata dokter spesialis kandungan tersebut setelah menjawab panggilanku.


"Dokter Santi, cepat datang ke villa sekarang juga, Dok. Rania pingsan," titahku.


"Baik Tuan. Sekarang juga saya akan segera ke sana," kata dokter Santi.

__ADS_1


Setelah menghubungi dokter Santi, aku pun lalu memanggil Roy untuk datang ke ruanganku.


"Ada apa Anda memanggil saya Tuan?" tanya Roy. Kini dia sudah menghadap di ruanganku.


"Aku ingin kamu menghubungi babysitter itu sekarang juga Roy, suruh dia untuk segera datang ke villa," jawabku.


"Baik, Tuan. Apakah nona Rania sudah mau melahirkan?" tanya Roy.


"Entahlah Roy. Sekarang aku juga sedang menunggu informasi lebih lanjut dari dokter Santi."


"Kalau begitu saya pamit keluar dulu untuk menghubungi suster Ria, Tuan."


Setelah Roy keluar dari ruanganku, yang aku lakukan hanyalah mengawasi layar monitor yang tersambung dengan beberapa titik camera CCTV yang tersebar di dalam dan di luar villa.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih terlihat memasuki villa, dan aku tahu persis bahwa itu mobil siapa. Ya, mobil itu adalah mobil milik dokter Santi. Perasaanku sekarang lebih lega karena dia bisa datang dengan cepat.


Setelah mobil dokter Santi terparkir di halaman depan villa, terlihat dia keluar bersama 2 orang perawat wanita. Aku yakin, mereka pasti adalah asisten dokter tersebut.


Hanya berselang beberapa menit setelah dokter Santi bersama dua perawat itu memasuki villa, dokter spesialis kandungan kepercayaanku itu pun menghubungiku setelah aku melihatnya memeriksa keadaan istriku.

__ADS_1


"Tuan Kaaran, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda," kata dokter Santi.


"Apa itu Dok? Apakah istri dan anak-anakku baik-baik saja?" tanyaku. Saking panik dan khawatirnya sejak tadi, aku bahkan merasakan badanku sudah panas dingin.


Aku tidak bisa menyembunyikan kepanikanku pada dokter tersebut. Selain karena aku mengkhawatirkan keadaan istriku yang tidak kunjung sadarkan diri hingga sekarang, juga karena ini adalah pengalaman pertamaku menantikan status terbaruku berubah menjadi seorang ayah. Selain mengkhawatirkan istriku, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan calon anak kembarku. Apalagi sejak kemarin hingga pagi ini suasana hati istriku sangat buruk, aku takut hal itu membawa dampak buruk bagi kondisi sepasang anak kembar yang saat ini masih berada di dalam kandungan.


"Tuan Kaaran, saya bisa mengerti kepanikan Anda, apalagi ini adalah pengalaman pertama Anda. Tapi saya mohon Tuan, Anda jangan panik dulu, saya ingin Anda tenang dulu sebelum saya mulai menjelaskan keadaan nona Rania," jelas dokter Santi.


Bukannya tenang, aku justru malah semakin panik. Mendengar penjelasan dokter Santi barusan, justru malah membuatku semakin yakin bahwa kondisi istriku atau mungkin saja calon anak-anakku sedang tidak baik-baik saja.


"Dokter Santi, cepat katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi pada mereka? Cepat katakan padaku, Dokter!" Saking panik dan khawatirnya, aku sampai tidak sengaja meninggikan suaraku.


"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan, tapi saya juga tidak bisa mengatakannya jika Anda belum merasa tenang," ucapnya. "Begini saja, coba Anda atur napas dulu, Tuan. Setelah itu hubungi saya kembali setelah Anda sudah merasa lebih baik. Secepatnya saya menantikan panggilan dari Anda."


Dokter Santi lalu memutus sambungan telepon kami secara sepihak. Ku lihat dia bersama dengan dua orang perawat yang datang bersamanya tadi mulai mendorong istriku menuju lift. Sepertinya mereka ingin membawa istriku ke ruangan yang sebelumnya memang sudah disiapkan khusus untuk ditempati istriku bersalin di dalam villa.


B e r s a m b u n g ...


...____________________________________________...

__ADS_1


__ADS_2