RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 111


__ADS_3

Sontak saja Roy menutup kembali kotak hadiahnya dan menyembunyikan di belakang punggungnya.


"Tu-Tuan Kaaran. Sejak kapan Anda berada di situ?" tanya Roy. Dengan cepat dia langsung memutar badan dan menghadap ke arah Kaaran.


"Itu tidak penting," jawabnya. "Roy, apa kamu tahu apa artinya jika seorang gadis memberikan dasi sebagai hadiah kepada seorang pria?" Kaaran bertanya sambil tersenyum.


"Artinya ... mm ... artinya suster Ria mau saya memakai dasi ini ke kantor, Tuan." Roy menjawab sekenanya. Saat ini dia merasa sedikit gugup.


"Ya tentu saja suster Ria ingin kamu memakai dasi itu ke kantor," kata Kaaran. "Tapi lebih tepatnya, suatu saat nanti dia ingin memakaikan dasi itu di lehermu." Kaaran kembali berkata dengan penuh penekanan.


"Benarkah, Tuan?" tanya Roy. Jika yang dikatakan oleh Kaaran benar, itu artinya suster Ria juga menyukainya. Begitu pikir Roy.


"Ya, tentu saja benar," jawabnya. "Mm ... dan jika biasanya Rania memakaikan dasi untukku, dia akan terus menarik dasinya ke bawah dan ke bawah lagi, sampai wajah kami berdua saling sejajar dan sangat berdekatan. Dan apa kamu tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya jika jarak wajah seorang pria dan wanita sudah sangat berdekatan, Roy? Nya-ris tan-pa ja-rak."

__ADS_1


Astaga, tuan. Jangan coba-coba meracuni otak saya dengan pikiran mes*um Anda. Batin Roy.


Roy berdehem. "Ekhm." Dia tidak ingin lagi mendengar ucapan Kaaran yang sepertinya memang sengaja ingin menggodanya. "Mm ... Tuan, saya minta maaf. Sepertinya saya baru ingat jika saya masih punya banyak pekerjaan. Permisi." Roy berkata lalu segera beranjak meninggalkan Kaaran.


Kaaran tertawa saat menyaksikan punggung Roy menjauh darinya. Dia merasa terhibur saat menggoda asistennya itu. Apalagi saat melihat wajah Roy yang memerah karena digoda olehnya.


.


.


Pagi ini seperti biasanya, Kaaran dan Rania menggendong kedua anak mereka masing-masing yang sudah berusia 4 bulan untuk berjemur di teras. Saat mereka berdua bersama si kembar, keduanya akan bersikap seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja, karena setiap kali Rania menyalakan sinyal pertengkaran pada Kaaran, si kembar akan langsung rewel. Sepertinya kedua anak itu tidak ingin jika kedua orang tuanya bertengkar.


"Zack, apa kamu dan Zoe tidak penasaran seperti apa dunia di luar sana, Sayang?" Rania berkata sambil mengajak putranya Zack berbicara. Namun seketika Kaaran merasa tersentil mendengar ucapan istrinya itu.

__ADS_1


"Meski pun tempat di villa ini sangat indah dan nyaman, akan tetapi di luar sana juga banyak tempat yang tidak kalah indahnya, Nak. Mommy harap suatu saat nanti kalian juga bisa keluar untuk melihat dunia indah di luar sana," tambah Rania lagi.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Kaaran hanya memperhatikan istrinya dan putranya yang mulai beranjak dari tempatnya berdiri sebelumnya.


"Zoe, apakah Mommy kamu sedang menyindir Daddy?" Kaaran berbisik pada putrinya. "Apakah selama ini Mommy kamu masih marah pada Daddy karena Daddy terus-terusan mengurungnya di sini?" tanyanya pada putrinya.


Sementara itu Zoe yang ditanyai oleh daddy-nya hanya bisa memamerkan gusinya yang belum ditumbuhi oleh gigi.


"Sepertinya Daddy punya ide baru untuk berbaikan bersama Mommy kamu, Sayang." Kaaran lalu mencium pipi putrinya dengan gemas.


Sepertinya aku harus mengajak Rania berbicara berdua setelah si kembar tertidur. Mungkin memang sudah saatnya aku memberikan kebebasan pada istriku agar dia bisa kembali bebas melihat dunia luar. Apalagi sekarang keberadaan musuh sudah tidak terdeteksi. Semoga saja ini adalah keputusan yang benar. Batin Kaaran.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2