
Karena sudah tidak sabar menunggu, aku pun kembali menghubungi William.
"Iya halo, Tuan," jawabnya.
"Kenapa lama sekali?! Kamu mau aku pecat, hah?!" teriakku. William pasti sekarang menjauhkan ponsel dari telinganya karena aku berteriak dengan keras padanya.
"Sa-sabar, Tuan. Anak buah saya ... anak buah saya baru saja melihat nona Rania keluar dari ruang pemeriksaan," jawabnya.
"Aku beri waktu 5 menit! Mengerti!" teriakku, lalu langsung memutus sambungan telepon kami.
Mereka ini benar-benar. Berani sekali membuatku menunggu. Mungkin mereka minta dipecat. Huh, membuatku kesal saja.
Aku berjalan ke sana ke mari tidak jelas. Entah mengapa waktu 5 menit saja rasanya terlalu lama. Kenapa waktu seperti ikut-ikutan mempermainkanku, seolah-olah sengaja menggerakkan jarum panjangnya agar bergerak lebih lambat dari sebelumnya.
.
5 Menit kemudian.
Baru saja aku ingin kembali menghubungi William, tapi tiba-tiba saja dia yang menghubungiku duluan.
"Halo, bagaimana hasilnya?" tanyaku.
"Selamat, Tuan. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah," jawab William.
__ADS_1
Akhirnya ada juga orang yang mengucapkan kalimat itu padaku. Kedengarannya sangat merdu sekali. Aku sangat senang mendengarnya.
"Kamu serius, Will?" tanyaku. Rasanya aku masih ingin mendengar ucapan selamat itu keluar dari mulutnya.
"Iya, Tuan. Saya serius. Mana mungkin saya berani bercanda dengan Anda," jawabnya.
"Oke Will, kerjamu sangat bagus. Kamu dan anak buahmu naik gaji bulan ini," ucapku, lalu memutus sambungan telepon kami. Saat ini aku benar-benar merasa sangat senang dan bahagia sekali melebihi apa pun.
Rasanya aku ingin menggendong Raniaku berkeliling sekarang juga, berteriak mengatakan pada dunia bahwa saat ini dia tengah mengandung benihku, anak kami. Tapi sayang, semua itu hanya ada di dalam khayalanku saja. Wanitaku itu sangat membenciku.
Aku berlari keluar dari kamarku dan bergegas menuju depan pintu kamar Roy, lalu mengetuk dan menekan belnya berulang kali.
"Ck, kenapa Roy lama sekali membuka pintunya?"
Berselang beberapa detik kemudian. Roy akhirnya membuka pintu kamarnya. Wajahnya masih terlihat sangat mengantuk.
"Rania hamil, Roy. Rania hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."
"Tu-Tuan, se-selamat kalau begitu," ucapnya sedikit terbata.
Setelah melepaskan pelukanku, ku lihat Roy masih membatu di ambang pintu. Pasti dia terkejut melihat sikapku yang jauh berbeda dari biasanya. Mungkin saat ini Roy menganggap bahwa aku aneh, tapi aku tidak peduli. Pokoknya sekarang ini aku merasa sangat bahagia sekali melebihi apa pun, dan aku ingin semua orang tahu itu.
"Kembali lah beristirahat, memang hanya itu yang ingin aku katakan padaku," ucapku pada Roy, lalu berjalan kembali ke kamarku.
__ADS_1
Sesampaiku di kamarku. Aku kembali berpikir, siapa lagi yang bisa aku beritahu mengenai kabar membahagiakan ini, bahwa Raniaku sedang hamil.
Ah, Raymond. Aku harus memberitahukan kabar membahagiakan ini pada sahabatku tersebut. Gumamku dalam hati, lalu mulai menekan tombol dial pada nomor kontaknya.
"Halo, apa kamu baik-baik saja? Kenapa menghubungiku jam segini?" tanya Raymond dengan suara berat khas bangun tidur.
"Ray, Rania hamil, Ray. Rania hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," ucapku begitu sumringah. Tidak peduli membangunkan orang-orang sepagi ini.
Ray terdiam, tidak membalas ucapanku.
"Halo Ray, kamu masih di sana, 'kan? Kamu bisa mendengarku, 'kan?" tanyaku.
"Hem," gumamnya.
"Aku bilang Rania hamil, Ray. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," ucapku lagi.
"Kaaran ... Kaaran. Sepertinya kamu bangga sekali sudah menghamili anak gadis orang. Tapi aku tetap akan mengucapkan selamat padamu, Bro. Selamat ya. Akhirnya cita-citamu sebentar lagi terwujud," ucapnya.
"Oh iya, rasanya akan lebih membanggakan lagi kalau berhasil menghamili istri sendiri," tambahnya, lalu memutus sambungan telepon kami secara sepihak.
Tut tut tut.
Jleb.šš¤§
__ADS_1
Raymond!!! Dasar sahabat lucknut! Pria sok suci!
B e r s a m b u n g ...