RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 105


__ADS_3

Setelah diusir oleh Rania, Kaaran pun segera beranjak dari depan pintu kamar si kembar. Dia tidak ingin egois ngotot dibukakan pintu oleh Rania hingga membuat kedua anaknya terbangun. Kaaran tahu betul seberapa susahnya Rania menidurkan kedua anak mereka.


"Lebih baik aku pergi menemui Roy saja. Setelah nanti Rania tertidur, Roy bisa meminta bantuan suster Ria untuk membukakan pintu untukku," gumam Kaaran.


Hanya berselang beberapa menit kemudian, Kaaran sudah berada di depan kamar tamu tempat Roy beristirahat.


Tok tok tok!


"Roy, buka pintunya, Roy!" teriaknya, sambil mengetuk pintu kamar asistennya itu.


Tidak lama kemudian, Roy muncul dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk. Sepertinya dia sedang tertidur saat Kaaran datang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Roy.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Kaaran.

__ADS_1


"Tidak, Tuan." Jawaban Roy justruberbanding terbalik dengan yang dia rasakan sebenarnya. Tentu saja anda mengganggu saya tuan. Jelas-jelas anda sendiri yang menyuruh saya tadi untuk beristirahat.


"Baguslah kalau aku tidak mengganggu," kata Kaaran. "Begini Roy, Rania baru saja mengunci pintu kamar si kembar untukku. Dia tidak mengijinkan aku untuk masuk ke dalam sana. Padahal, aku ingin sekali melihat anak-anak secara langsung."


"Lalu apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Roy.


"Aku ingin kamu membantuku menghubungi suster Ria agar dia membukakan pintu untukku, tapi sebelum dia membuka pintunya, dia harus memastikan bahwa Rania sudah tertidur," jelas Kaaran.


"Baik, Tuan. Anda tenang saja. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan," kata Roy. Mendengar dirinya disuruh untuk menghubungi suster Ria, seketika rasa kantuk Roy jadi menghilang.


"Hem. Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu. Aku ingin membersihkan diri dan berganti pakaian dulu sebelum bertemu dengan anak-anakku."


"Baik Tuan. Silahkan."


Setelah Kaaran beranjak menuju kamarnya di lantai dua, Roy pun segera mengirim pesan chat pada gadis idamannya. Alasannya karena ingin membantu tuan besar untuk bertemu dengan tuan muda kecil dan nona muda kecil, tapi sebenarnya dia juga mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


.


.


Setengah jam kemudian.


Kaaran sudah rapi dan bersih dengan piyama tidurnya. Sekarang dia dan Roy sudah janjian untuk bertemu di depan pintu kamar si kembar. Karena menurut informasi yang Roy dapat dari suster Ria, Rania sudah tertidur sejak 15 menit yang lalu. Itu artinya Kaaran bisa masuk ke dalam sana, tapi ada sesuatu yang mencuri perhatian Kaaran saat dia bertemu dengan Roy di depan kamar anak-anaknya, yaitu penampilan sang asisten malam ini.


"Roy, untuk apa kamu berdandan serapi itu malam-malam begini? Bukannya setelah ini kamu juga akan kembali tidur di kamarmu?" tanya Kaaran. Dia menatap Roy dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Perasaan tadi saat Roy membukakan pintu untuknya, asistennya itu hanya mengenakan celana kolor dan singlet. Kenapa sekarang malah sudah rapi dengan celana kain dan baju kemeja lengan panjang?Ā  Begitu pikir Kaaran.


Roy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, em ... anu Tuan. Saya ... bagaimana saya keluar kamar dengan penampilan seperti tadi? Kalau ada orang lain yang melihat pasti saya juga yang malu, Tuan."


"Iya, aku tahu, tapi kamu tidak perlu berpakaian seformal itu juga malam-malam begini, Roy."


Roy yang tidak tahu harus menjawab apa pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Tuan ... tuan. Anda sepertinya lupa kalau saya sudah lama menjomblo. Kalau saya tidak berpenampilan keren, bagaimana suster Ria akan tertarik pada saya. Batin Roy.


__ADS_2