
...(Guys, kita skip aja tragedi sate dan batagor ya🤣 what? Tragedi?😅 Kayaknya udah gak seru lagi deh kalo harus ngulang cerita itu. Kita fokus aja sama cerita tentang kehidupan Kaaran)...
.
.
Keesokan harinya.
Hari ini tepat jadwal kontrol kandungan istriku. Sebelum mengantarnya untuk memeriksakan kandungannya, terlebih dahulu aku membuatkan sarapan untuknya.
Begitu banyak pelayan di villa, akan tetapi istriku tidak mau dilayani oleh mereka, dia hanya ingin aku yang memasak dan melayaninya. Sepertinya itu semua karena bawaan ngidam, jadi tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan melakukan semua ini untuknya.
Demi merebut hati istriku sendiri, aku rela melakukan apa pun, termasuk menjadikan diriku sebagai budak untuk ratu di hatiku tersebut.
Saat kami tengah sarapan bersama, tiba-tiba saja istriku bertanya, "Siapa laki-laki paruh baya yang kamu panggil dengan sebutan 'Dad' tadi malam? Apa dia ayahmu?" tanyanya, dia terlihat sangat penasaran.
"Mm ... ya, dad Robin adalah ayahku. Tapi lebih tepatnya ayah angkat," jawabku.
"Lalu, laki-laki kurang dihajar yang mengangguku semalam siapa? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan 'Kak'?" tanyanya lagi.
Sudah ku duga. Istriku pasti akan menanyakan mengenai hal ini. Semalam, dia pasti sangat kebingungan melihat 2 orang asing, satu aku panggil dengan sebutan 'Dad' dan yang satunya lagi memanggilku dengan sebutan 'Kak'. Apalagi selama ini aku tidak menceritakan apa pun padanya mengenai keluargaku.
__ADS_1
"Oh, itu Kevin Alexander. Kami sama-sama anak angkat dad Robin," jawabku.
"Maksudnya? Memangnya dad Robin itu siapa? Kenapa dia memiliki beberapa orang anak angkat?" tanyanya lagi, dia terlihat semakin penasaran.
"Dad Robin itu memiliki peran yang cukup penting dalam dunia bisnis. Makanya, kebanyakan pengusaha-pengusaha sukses bekerja sama dengannya untuk mempertahankan kerajaan bisnis mereka masing-masing," jelasku.
Setelah itu istriku tidak bertanya lagi. Huft. Aku jadi sangat lega. Aku hanya takut keceplosan jika istriku banyak bertanya ini dan itu.
.
.
"Selamat Tuan, Nona Rania hamil anak kembar," ucap dokter Santi.
Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja aku dengar barusan. Ini semua seperti mimpi.
"Iya, Tuan. Saya serius." Dokter Santi berkata sambil tersenyum.
Aku yang merasa sangat bahagia mendengar kabar itu pun segera berjalan dengan cepat menghampiri istriku, memeluknya dengan erat, lalu menghujaminya dengan ciuman di beberapa titik bagian wajahnya.
"Terima kasih Sayang," ucapku kemudian.
__ADS_1
Semenjak mengetahui bahwa istriku hamil anak kembar, aku menjadi semakin memanjakannya, juga semakin ekstra hati-hati dalam menjaganya. Takut terjadi apa-apa pada kedua calon malaikat kecilku.
.
.
Tidak terasa sudah beberapa bulan kami menikah, dan sekarang usia kandungan istriku sudah memasuki usia 4 bulan. Saat ini kami sedang duduk bersantai di taman belakang villa.
"Dad."
"Iya, Sayang."
"Sampai kapan aku dikurung di sini terus? Aku bosan. Sudah 2 bulan lebih aku hanya di villa terus. Itu pun aku keluar saat pergi kontrol kandungan." Istriku mengeluh sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku menatap wajah istriku lekat-lekat.
"Memangnya kalau kamu keluar, kamu mau pergi ke mana Sayang?" tanyaku.
"Ya aku ingin pergi jalan-jalan, Dad. Cuci mata dan belanja di mall. Atau paling tidak aku pergi ke salon dan spa untuk perawatan," jawabnya.
"Hanya seperti itu?" tanyaku, dan istriku pun mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, tunggu sebentar Sayang." Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku celanaku, lalu mengetikkan pesan yang aku tujukan pada Roy.