
"Sebenarnya ... saya dan Rania sedang menjalin hubungan Bu," ucapku kemudian.
Mendengar ucapanku, calon ibu mertuaku beserta calon adik iparku terlihat sangat terkejut.
"Apa? Jadi Tuan Tampan ini pacarnya kak Nia?" Gadis remaja itu bertanya seraya menatapku tidak percaya.
"Tapi setahuku selama ini kak Nia tidak punya pacar," ucapnya lagi seraya berjalan mendekat ke arahku. Namun secepat kilat ibu menarik tangan putrinya itu.
"Rina." Ibu berkata seraya memberi kode kepada putrinya untuk duduk di samping beliau.
Setelah Rina duduk, ibu kemudian berkata padaku, "Nak Kaaran, ada yang ingin Ibu tanyakan."
"Apa itu, Bu?" tanyaku penasaran.
"Apa semua kemewahan ini Nak Kaaran yang memberikannya pada Rania?" tanyanya.
Sejenak aku terdiam, lalu kemudian menjawab pertanyaan beliau dengan anggukan.
__ADS_1
Memang benar aku yang memberikannya, tapi itu setelah aku mengambil sesuatu yang sangat berharga dari putrinya.
Calon ibu mertuaku menghela napas setelah aku membenarkan ucapannya.
"Sudah Ibu duga, selama ini Rania pasti hanya membohongi Ibu. Saat Ibu bertanya padanya, dari mana dia mendapatkan uang untuk membayar hutang, membeli rumah, mobil, dan segala kemewahan lainnya, dia hanya menjawab kalau seseorang sudah membantunya untuk merebut kembali semua harta kekayaan kami yang pernah dibawa lari oleh pamannya."
"Karena Ibu tidak percaya, jadi keesokan harinya Ibu kembali menanyakan hal itu pada Rania, tapi Rania malah marah dan menghindar dari Ibu, sampai-sampai Ibu berpikir bahwa putri Ibu sudah menjadi simpanan pria tua hidung belang karena putus asa menanggung beban keluarga yang teramat berat."
"Akhirnya, Ibu bisa bernapas lega, karena ternyata dugaan Ibu tidaklah benar."
Aku tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar semua penjelasan calon ibu mertuaku. Jika beliau tahu apa sebenarnya yang sudah putrinya alami karena aku, aku yakin, dia pasti akan sangat marah padaku.
"Jangan berkata seperti itu, Bu. Jangankan harta, nyawa pun akan saya berikan jika Rania memintanya," ucapku, dan langsung ditanggapi dengan tawa renyah oleh beliau.
"Memang anak muda, kalau sudah terlanjur jatuh cinta ya seperti itu. Apa pun akan rela dikorbankan," ucap ibu, dan aku hanya menanggapinya dengan menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil senyam-senyum sendiri.
"Rina, panggil kakakmu." Ibu berkata pada putrinya.
__ADS_1
"Eh, tidak usah Bu. Tujuan saya ke sini memang untuk bertemu dengan Ibu," kataku.
Kami pun kemudian mengobrol panjang lebar hingga tidak terasa sudah 1 jam lamanya, dan sekarang, tidak terasa hari sudah malam.
"Bermalam lah di sini bersama Nak Roy, Nak Kaaran. Kalian berdua pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Apalagi setelah dari luar negeri, kalian langsung ke sini," ucap calon ibu mertuaku.
"Dengan senang hati, Bu. Kami tidak akan menolak tawaran Ibu," ucapku sembari tersenyum pada beliau.
"Rina, cepat panggil kakakmu untuk turun makan malam. Kita akan makan malam bersama sebelum beristirahat," titahnya pada putri bungsunya tersebut.
"Baik, Bu." Gadis remaja itu pun segera beranjak dari kursinya setelah mendapat perintah dari sang ibu.
Setelah kami hanya tinggal bertiga di ruang tamu, aku pun memutuskan untuk mengutarakan maksud dan tujuanku datang menemui beliau.
"Bu, sebenarnya ada hal yang sangat penting yang ingin saya katakan pada Ibu."
"Apa itu, Nak Kaaran?" tanyanya.
__ADS_1
"Sebenarnya ... sebenarnya saya datang kemari karena saya ingin meminta restu Ibu. Saya ingin menikahi Rania, Bu."
B e r s a m b u n g ...