
Beberapa hari kemudian.
Selama aku di luar negeri, aku juga tetap ingin memantau pergerakan wanitaku. Tapi kata anak buah William, yang ditugaskan untuk berjaga di sana, selama beberapa hari ini dia tidak pernah melihat Rania keluar melewati pintu gerbang rumahnya. Tidak ada satu pun mobil yang keluar masuk melewati pintu gerbang tinggi menjulang itu. Apa jangan-jangan dia sakit?
Seketika aku merasa khawatir. Aku mencoba menghubunginya tapi nomor ponselnya tidak aktif. Ada apa dengannya? Apa waktu itu aku terlalu memaksanya sehingga menyebabkan dia sampai sakit? Atau jangan-jangan perbuatanku waktu itu yang terlalu memaksanya membuat dia trauma. Aku jadi merasa bersalah. Ah, sebaiknya aku mengambil sebuah tindakan. Aku tidak bisa tenang kalau terus-terusan seperti ini.
"Roy."
"Iya, Tuan."
"Katakan pada William, suruh anak buahnya untuk menyogok salah satu pelayan di rumah Rania," ucapku.
"Disogok untuk apa, Tuan?"
"Ya disogok untuk menjadi mata-mata kita. Aku ingin kita mempunyai mata-mata orang dalam untuk mengetahui bagaimana keadaan Rania setiap harinya," jawabku.
"Kalau perlu bayar pelayan itu dengan uang berkali-kali lipat sampai dia mau bekerja sama dengan kita," tambahku lagi.
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
.......
.......
Keesokan harinya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Rania dari pelayan mata-mata itu?" tanyaku. Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaannya. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Menurut informasi yang baru saja saya dapatkan dari William, nona Rania katanya baik-baik saja, Tuan. Hanya saja sikapnya beberapa hari ini sedikit berbeda. Dia lebih banyak diam dan terus-terusan mengurung dirinya di kamar," jelas Roy.
Syukurlah. Aku akhirnya bisa merasa lebih tenang dan lega setelah mengetahui bahwa keadaan wanitaku baik-baik saja. Mungkin saja dia mengurung dirinya di kamar karena pusing memikirkan isi dari surat perjanjian yang baru dia ketahui isinya beberapa hari yang lalu.
"Roy, segera atur pertemuanku dengan tuan Baldomero siang ini di restoran Zur Haze," titahku pada Roy.
"Baik, Tuan."
.
.
.
Setelah bertemu dengan klien penting, aku pun membuat janji temu dengan sahabatku yang tinggal dan menetap di negeri panzer tersebut.
"Tidak juga, dan kabarku sangat baik," jawabku. "Bagaimana denganmu?" Kini aku balik bertanya padanya.
"Kalau aku, seperti biasa. Kabarku selalu luar biasa," jawabnya sumringah lalu tertawa.
Seperti itu lah sahabatku yang satu ini. Dia selalu memancarkan aura positif, sangat sesuai dengan profesinya sebagai seorang dokter.
Namanya dokter Raymond, seorang dokter ahli di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini. Usianya sama denganku, 32 tahun.
"Aku dengar dari Roy, kalian sudah berada di sini semenjak beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa kamu baru menghubungiku sekarang? Apakah kamu sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi, hm?" tanyanya.
"Bantuan apa?" ucapku, balik bertanya.
__ADS_1
"Bantuan untuk mencarikanmu partner ranj*** lah. Biasanya 'kan kamu selalu merepotkanku untuk masalah yang satu itu," jelasnya, lalu terkekeh, sementara aku malah berdecih dan membuang muka.
Aku akui, saat aku masih menjadi pria brengsyek, Raymond lah yang selalu aku paksa untuk mencari wanita-wanita cantik untuk menemaniku setiap malamnya selama aku berada di sini.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Aneh." Raymond menatapku dengan tatapan penuh selidik.
"Sekarang ini, aku sudah tidak lagi membutuhkan bantuanmu untuk masalah yang satu itu. Dan aku harap, ke depannya aku tidak akan pernah lagi membutuhkannya," jawabku, sambil tersenyum.
"Apa kamu baik-baik saja, Bro? Apa perlu aku periksa otak mesyummu itu? Sepertinya ada yang tidak beres."
"Si alan kamu. Apa salah kalau aku sudah berubah menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya? Bukannya kamu juga yang sering menentang kebiasaan burukku itu? Tapi ... meski pun kamu menentang, kamu tetap mencarikan teman tidur untukku juga," ujarku lalu tertawa.
"S***. Aku juga hanya terpaksa melakukannya. Itu karena kamu mengancam ingin membuka kartu as ku di depan istriku. Dasar menyebalkan," kesalnya yang membuatku tertawa.
"Oh iya, sekedar info, aku sudah menemukan perempuan yang selama ini aku cari-cari," ungkapku kemudian. Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri.
"Oh, ya? Kamu serius?" tanya Raymond tidak menyangka. Aku yakin, dia pasti sangat senang mendengar hal ini.
Aku dan Raymond sudah bersahabat saat kami baru masuk di perguruan tinggi. Kami kuliah di kampus yang sama namun dengan jurusan yang berbeda. Dan meski pun kami bersahabat sejak dulu, tapi sifat kami berlawanan 180°. Aku seorang playboy sedangkan dia sangat setia hanya pada satu wanita saja, yaitu istrinya yang sekarang.
Aku pun mulai menceritakan banyak hal pada Raymond, tentang Raniaku, tentang banyak hal, tidak terkecuali dengan surat perjanjian yang sengaja aku buat untuk mengikat gadis pilihanku itu.
"Gila kamu, bisa-bisanya kamu memilih gadis muda seperti itu. Sadar tidak? Usia kita lebih tua 13 tahun dari gadis polos itu. Lagian, kamu kejam sekali pada gadis itu. Aku jadi kasihan padanya," ucap Raymond.
"Ya mau bagaimana lagi Ray, hatiku hanya bisa terpaut padanya. Aku juga tidak punya cara lain selain mengikatnya dengan surat perjanjian itu."
To be continued ...
__ADS_1