
Siang ini setelah Kaaran membawa Rania ke butik untuk fitting gaun pengantin, dia pun mengajak istrinya itu untuk makan siang sebelum kembali ke villa.
"Sayang, kamu mau kita makan siang dimana?" tanya Kaaran, sebelum akhirnya dia mulai melajukan kembali mobilnya. Kali ini Kaaran tidak meminta Roy untuk mengantarnya karena dia tahu betul jika CEO baru Galaxy Group itu pasti sangat sibuk dengan urusan perusahaan.
"Mm ... sepertinya akan lebih menyenangkan jika kita makan siang di restoran yang ada di mall, Dad. Sembari mencari makan siang, kita juga bisa pergi jalan-jalan. Aku memang sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki di mall," jawab Rania. Dia tersenyum sambil mendongak menatap Kaaran. Seketika dia terlihat sangat bersemangat.
"Terserah kamu Sayang. Aku akan menuruti apa pun keinginan kamu, asalkan kamu merasa senang," kata Kaaran. Sekilas dia mencium kepala istrinya dengan sayang. Dia benar-benar sangat mencintai wanita keras kepala ini.
.
Sesampainya di mall terdekat, Kaaran dan Rania langsung naik ke lantai 4 gedung mall untuk mencari menu makan siang. Rencana setelah mereka selesai makan siang, mereka baru akan jalan-jalan bersama.
Namun, saat mereka hendak melangkahkan kaki untuk memasuki restoran, tiba-tiba terdengar suara seorang pria berteriak memanggil nama Rania.
"Nia! Rania!"
__ADS_1
Mendengar pria lain memanggil nama istrinya, Kaaran pun menoleh. Sementara Rania malah berdiri diam terpaku di tempat, seperti tidak berani memutar kepalanya ke arah sumber suara.
"Sayang, siapa pria itu? Sepertinya dia sangat mengenalmu," tanya Kaaran.
"Ah, mm ... ma-mana?" tanya Rania. Dia terlihat cukup gugup, padahal dia belum melihat siapa sebenarnya sosok pria yang baru saja memanggil namanya tersebut. Melihat tingkah Rania yang tidak seperti biasanya pun seketika membuat Kaaran menjadi sedikit curiga.
Siapa sebenarnya laki-laki itu? Batin Kaaran. Dia melihat jika pria itu terus berlari menghampiri dirinya dan Rania yang saat ini sedang berdiri tidak jauh di depan pintu masuk restoran.
Saat Rania baru saja menoleh, pria berpenampilan rapi dengan setelan jas lengkap itu akhirnya sudah berdiri di hadapan mereka.
Mendapat uluran tangan dari pria lain, Rania malah mendongak menatap suaminya, seolah dia meminta persetujuan, apakah dia boleh berjabat tangan dengan pria lain atau tidak.
Namun seketika Kaaran yang membalas uluran tangan dari pria tersebut. "Maaf, saya tidak suka jika istri saya disentuh oleh pria lain."
"Oh, ah ... ya." Pria itu terlihat salah tingkah. "Kalau begitu salam kenal, Tuan Kaaran. Perkenalkan, nama saya adalah Zidan, Zidan Abraham, kakak sepupunya Nia."
__ADS_1
"Oh, ya? Kalau begitu senang bertemu denganmu saudara ipar," ucap Kaaran. Dia memamerkan senyuman ramah di hadapan pria bernama Zidan tersebut.
Kaaran melirik istrinya yang terlihat sangat aneh semenjak pria bernama Zidan itu datang. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Istriku sepertinya tidak suka dengan kakak sepupunya ini.
"Oh iya, saya mengucapkan selamat atas pernikahan kalian," kata Zidan, sambil tersenyum. Sepertinya si Zidan ini tidak ketinggalan berita di televisi.
"Terima kasih," jawabnya tersenyum. "Oh iya, aku dan istriku ingin makan siang bersama. Apakah kamu tertarik untuk bergabung bersama kami?" tawar Kaaran.
"Ah, iya. Tentu saja kalau Tuan Kaaran tidak keberatan, dan juga kalau saya tidak mengganggu waktu berdua Anda bersama Nia," kata Zidan.
Cih, jujur saja aku sangat tidak suka mendengar pria ini memanggil istriku dengan sebutan yang sangat akrab seperti itu. Meski pun dia adalah kakak sepupu istriku sendiri. Batin Kaaran.
"Untuk apa aku keberatan? Kamu itu 'kan kakak sepupu istriku, jadi otomatis kamu sekarang sudah menjadi kakak iparku juga. Iya 'kan, Sayang?" tanya Kaaran. Dia semakin curiga saat melihat Rania hanya mengangguk dan tersenyum paksa saat menanggapi ucapannya.
Apakah Rania memiliki masalah dengan kakak sepupunya? Kelihatannya hubungan mereka kurang baik. Batin Kaaran.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...