
...Hai Guys! Aku mau promosi lagi ya sebelum kita lanjut ke bab berikutnya. Jangan lupa mampir ke lapak kakakku Mas FigurX🙂...
Nadi Loka (Renew) bab 1
"Ayo percepat sedikit. Paduka Raja dan Guru sudah menunggu hidangan cukup lama," Galadaya menunjukkan wajah penuh ketegangan sambil sesekali mengamati Andrawina yang masih sibuk menyelesaikan masakannya diatas tungku.
"Iya, Sabar. Memasak itu tidak sekedar kenyang. Proses, rasa, dan komposisi yang tepat juga turut mengambil bagian. Tunggulah, Kakang Gala. Sebentar lagi sajian khas Andrawina akan siap dihidangkan." Andrawina menanggapi kerisauan Galadaya sambil terus saja terlihat sibuk mengaduk sesuatu dalam gentong tanah liat.
"Iya." Jawab Galadaya singkat.
--Wajahnya masih terlihat buruk karena khawatir mengecewakan Paduka Maharga Kusumadrwa, sang Raja dari Kerajaan Bhanuresmi yang menaungi Padepokan Cundamani, tempat dimana Andrawina dan Galadaya menimba ilmu beladiri.
Andrawina adalah seorang pemuda yatim piatu berusia 20 tahun. Wajah rupawannya terlihat semakin bersinar dengan ditunjang rambut panjang yang hitam lurus hingga ke tengah punggung dan postur badan tinggi tegap tanpa menyisakan timbunan lemak berlebih. 8 Tahun yang lalu ia mulai diasuh di padepokan Cundamani setelah kedua orangtuanya dihukum mati oleh kerajaan Bhanuresmi. Orangtua Andrawina dulunya adalah sepasang ahli masak istana dimana Raja Maharga Kusumadrwa bertahta. Sebuah kejadian yang dianggap pengkhianatan membawa mereka menikmati tajamnya golok algojo kerajaan. Meskipun demikian, sebagian pihak menyatakan bahwa kejadian yang menimpa kedua orangtua Andrawina adalah upaya fitnah dari pihak yang tidak bertanggungjawab.
Galadaya, pemuda berusia 25 tahun yang juga merupakan murid dari padepokan Cundamani. Pemuda berpostur kecil dan tergolong jenaka tersebut adalah sahabat dari Andrawina. Dimana ada Andrawina, disitulah Galadaya juga berada. Kedekatan mereka layaknya sepasang saudara.
Lama tak berselang, beragam sajian nikmat mengundang selera telah berjajar rapi dimeja pertemuan. Sebuah hal yang sangat utama tatkala seorang raja berkenan singgah disebuah padepokan. Patut kiranya Ki Pamenang sebagai ketua padepokan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik pada sang Raja.
Ki Pamenang, pria berusia 53 tahun. Karakternya tegas dan kebapakan. Ilmu kanuragan Ki Pamenang cukup tinggi hingga ia dikelompokkan sebagai 10 besar pendekar terbaik di pulau Jowa. Ia adalah ketua dari Padepokan Cundamani. Ialah yang mengasuh dan menampung Andrawina sejak kedua orangtua pemuda itu mati dalam hukuman. Semenjak saat itu Andrawina dilatih berbagai ilmu beladiri dan ilmu kanuragan. Disamping itu Andrawina yang mewarisi bakat memasak sejak kecil didorong oleh Ki Pamenang menjadi juru masak padepokan demi mengasah kemampuan memasaknya agar lebih meningkat.
"Ehm..nikmat sekali. Siapa yang memasaknya, Ki?" Raja Maharga Kusumadrwa merasa penasaran.
__ADS_1
"Salah satu murid hamba, Paduka." Ki Pamenang menunduk sopan.
"Panggilkan dia kemari!" titah Maharga Kusumadrwa.
Tak menunggu lama, Andrawina sudah berlari tergopoh-gopoh untuk memenuhi panggilan Raja Maharga Kusumadrwa. Tersirat wajah penuh pertanyaan pada Andrawina. Ia khawatir masakannya telah mengecewakan Raja Maharga Kusumadrwa. Ia juga khawatir mendapatkan hukuman akibat hasil kerjanya yang tidak maksimal.
"Sendhiko dawuh, Prabu." Andrawina berlutut menghadap Maharga.
"Siapa namamu, Ngger?" tanya Maharga semakin penasaran karena wajah Andrawina mengingatnya pada sosok ahli masak perempuan kerajaan 8 tahun yang lalu.
"Andrawina," jawab Andrawina sopan.
"Hahaha..bahkan namamu pun artinya adalah hidangan. Sungguh senang aku menyaksikan pemuda berbakat sepertimu," Raja Maharga Kusumadrwa terbahak.
"Apakah dia keturunan ahli masak juga, Ki?" Maharga menoleh pada Ki Pamenang yang berada tak jauh dari tempat Andrawina berlutut.
-- Ia takut jika tindakannya mengasuh Andrawina selama ini akan memantik api amarah sang Raja.
"Ohh anak dari ahli masak keraton. Pantas saja wajah anak ini mengingatkanku pada sosok Kinanthi." Maharga mengernyitkan kening.
"Jadi mereka menitipkan anak disini sebelum kejadian itu?!" lanjut sang raja.
"Am-ampuni hamba, Paduka raja." Suara Ki Pamenang sedikit bergetar.
__ADS_1
"Hahaha. Anda tak perlu takut seperti itu. Dia tak ada hubungan dengan kesalahan orangtuanya. Sebaliknya, aku sangat berterimakasih karena anak ini diasuh oleh padepokan Ki Pamenang," Maharga Kusumadrwa tersenyum.
"Andrawina.."
"Hamba, Prabu." Jawab Andrawina sigap.
"Aku berpesan, jadilah pemuda yang baik. Tunjukkan padaku bahwa engkau mampu membuatku tersenyum lebih lebar dikemudian hari. Bakat memasakmu sangat luar biasa. Sepertinya, kelak kau akan menjadi pria yang tersohor di tanah Jowa.." ucap raja Maharga Kusumadrwa memupuk semangat.
"Kuberi kau julukan Jaka Lumpang. Seorang pemuda yang piawai menggunakan lumpang!"
"Sendhiko dhawuh, Prabu. Hamba sangat berterimakasih," wajah si muda Andrawina merebak.
--Mendadak saja rasa haru itu datang tatkala orang nomor satu di kerajaan Bhanuresmi memberikan perhatian khusus padanya.
"Kembalilah ketempatmu. Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup," titah Maharga.
"Sendhiko dhawuh.." Andrawina menangkupkan kedua telapak tangan didepan wajah sebelum kemudian beranjak pergi meninggalkan aula pertemuan.
"Aku tahu, dia adalah anak sepasang pengkhianatan kerajaan. Tapi perasaanku mengatakan bahwa dia berbeda. Tugasmu mendidik dia dengan baik, Ki." Bisik Maharga Kusumadrwa pada Ki Pamenang.
"Sendhiko dhawuh, Gusti Prabu."
.
__ADS_1
.
...Yang penasaran dengan kelanjutannya, langsung otw ke sana ya😉...