
Setelah mengudara selama hampir 1 jam, helikopter yang kami tumpangi pun akhirnya mendarat di puncak Gunung Moza. Aku pergi untuk menemui orang yang bernama Master Li tersebut ditemani oleh William dan Morgan.
Aku datang kemari tidak boleh tidak ditemani oleh Morgan, kenapa? Karena kami takut salah orang. Apalagi aku dan William sama sekali tidak pernah melihat sosok Master Li itu sebenarnya seperti apa.
Di puncak Gunung Moza nampak berdiri sebuah rumah sederhana yang bahan utamanya terbuat dari papan kayu bercat putih. Benar-benar rumah yang sederhana, malah lebih mirip dengan rumah orang-orang di pelosok pedesaan.
"Morgan, apa benar itu rumahnya?" tanyaku, saat kami sama-sama sudah menginjakkan kaki di tanah.
"Sepertinya itu, Tuan," jawab Morgan.
"Kamu yakin?" tanyaku lagi.
"Iya Tuan, saya yakin. Karena setahu saya, Master Li tinggal di sini seorang diri."
"Apa benar seorang diri? Apa dia tidak takut ada binatang buas?" tanyaku lagi.
Morgan tersenyum. "Setahu saya tempat ini aman, Tuan. Bukannya tadi saat kita masih di udara, kita semua bisa melihat dengan jelas bahwa di bawah sana banyak sekali bangunan. Hanya bangunan yang ada di puncak gunung ini saja yang sendirian."
__ADS_1
Kami bertiga pun berjalan mendekati rumah kayu itu. Dari jarak yang sangat dekat, kami semua bisa melihat dengan jelas bahwa pintu rumah itu tergembok.
"Sepertinya rumah itu sedang ditinggal oleh penghuninya. Kita benar-benar tidak sedang salah alamat 'kan, Morgan?" tanyaku, ingin memastikan. Perasaan semenjak kami menginjakkan kaki di gunung ini, aku begitu banyak tanya.
"Saya yakin betul bahwa tempat dan rumah itu adalah milik Master Li, Tuan. Selama ini yang saya ketahui adalah, bahwa Master Li mengasingkan diri di puncak Gunung Moza. Nah, sekarang tempat kita menginjakkan kaki di sini adalah puncak Gunung Moza, dan satu-satunya rumah yang ada di puncak gunung ini adalah rumah itu," jelas Morgan.
"Sepertinya Morgan benar, Tuan. Mungkin saja Master Li sedang keluar sebentar," kata William.
Kami bertiga pun lalu masuk dan duduk di kursi teras rumah itu, menunggu si pemilik kembali ke rumahnya. Namun, sudah hampir satu jam kami menunggu, tapi belum ada tanda-tanda bahwa pemiliknya akan kembali. Aku yang tidak terbiasa menunggu pun mulai gelisah.
"Ck, kenapa lama sekali?" kataku seraya bangkit dari dudukku. Aku sudah sangat lelah duduk dan menunggu di sini. Sekarang jam sudah menunjuk waktu pukul 12 siang tapi si pemilik rumah belum juga kembali.
Yang William maksud dengan 'orang yang mendahului kami' adalah orang-orang suruhan Johan.
Ucapan William sontak saja membuatku terkejut. Jika memang benar seperti itu, itu artinya, Master Li sudah jatuh ke tangan Johan, dan jika Master Li sudah jatuh di tangan Johan, itu artinya, aku hanya harus bersiap-siap menerima kekalahanku.
"Tidak, kita tidak boleh panik. Kita tunggu saja sampai Master Li pulang, mungkin sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju kemari," kata Morgan.
__ADS_1
10 Menit.
30 Menit.
1 Jam.
Hingga 2 jam kemudian, yang kami tunggu-tunggu tidak kunjung muncul.
"Mau sampai kapan kita menunggu, Morgan? Kita sudah 3 jam di sini. Apa memang benar ini tempatnya?" ucapku.
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini, membuat Anda menunggu sangat lama," ucap Morgan. Pria itu menunduk sambil menunjukkan wajah bersalah.
"Tuan, hanya ada dua kemungkinan. Master Li sedang turun gunung atau mungkin dia sudah dibawa secara paksa oleh kawanan Black Mamba," ucap William.
Prang!
Tiba-tiba saja terdengar suara barang pecah di dalam rumah.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...