RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 129


__ADS_3

Sesampainya mereka di ballroom hotel Galaxy, terlihat para tamu sudah memenuhi meja dan kursi tamu. Di kursi paling depan sudah ada dad Robin bersama dokter Raymond. Sebelum Kaaran dan Rania naik ke atas pelaminan, terlebih dahulu mereka menyapa kedua orang itu beserta tamu-tamu yang lain.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua," ucap dad Robin. Pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu lalu berpelukan dengan anak angkatnya, Kaaran.


"Terima kasih, Dad," balas Kaaran. Sementara Rania hanya tersenyum sambil mengangguk sopan dan mengucapkan terima kasih pada ayah mertuanya tersebut.


"Selamat ya. Setelah sekian lama, kalian berdua akhirnya bisa melangsungkan resepsi pernikahan." Kali ini dokter Raymond yang mengucapkan selamat pada keduanya.


"Terima kasih, Dok," ucap Rania.


"Terima kasih Ray atas semua bantuanmu selama ini. Aku berhutang budi banyak padamu." Kaaran lalu memeluk sahabat terbaiknya itu. Jika bukan karena bantuan dokter Raymond, sekarang Kaaran mungkin hanya tinggal nama.


"Ck, kenapa kamu berterima kasih lagi sih? Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa sesama sahabat tidak seharusnya mengucapkan terima kasih. Aku melakukannya karena memang sudah seharusnya aku membantu sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri," kata dokter Raymond sambil tersenyum dan menepuk pelan pundak Kaaran.


Sementara itu Rania hanya berdiri mematung menatap keduanya yang saling berpelukan. Dia  sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan kedua pria itu. Bantuan dalam rangka apa sebenarnya? Pikir Rania.


.


.


Sudah 3 jam lamanya Kaaran dan Rania berdiri di atas pelaminan menyambut para tamu yang datang mengucapkan selamat pada mereka berdua. Hingga akhirnya tiba waktu sesi pemotretan foto keluarga.


"Dad, kenapa suster belum juga membawa anak-anak kemari? Apa mereka belum juga bangun jam segini? Ini 'kan sudah tiga jam yang lalu mereka tertidur," tanya Rania. Sejak tadi dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya karena belum melihat sepasang anak kembarnya.


"Tunggu sebentar Sayang, aku akan menyuruh Roy untuk menghubungi suster Lili atau pun suster Ria," kata Kaaran, lalu melambaikan tangannya ke arah Roy yang berdiri tidak jauh di depan pelaminan. Setelah itu pria kaku berbadan tegap dan atletis tersebut segera berjalan dengan cepat naik menghampiri tuannya.


"Tuan memanggil saya?" tanya Roy.

__ADS_1


"Roy, cepat hubungi babysitter nya anak-anak. Suruh mereka untuk membawa si kembar kemari jika mereka sudah bangun. Sebentar lagi kami akan melakukan sesi pemotretan foto keluarga," jelas Kaaran.


"Baik, Tuan." Roy yang sudah mengerti pun segera turun dari pelaminan. Setelah itu dia menghubungi gadis pujaan hatinya, suster Ria.


Berselang beberapa kali Roy menghubungi, tapi panggilannya tidak kunjung dijawab oleh babysitter tersebut.


"Kenapa suster Ria tidak menjawab panggilanku?" gumam Roy. Karena panggilannya tidak kunjung dijawab oleh suster Ria, dia pun memutuskan untuk menghubungi suster Lili. Namun, lagi-lagi panggilannya tidak dijawab oleh suster Lili sehingga membuat perasaannya seketika menjadi tidak enak.


"Sepertinya aku harus pergi ke sana sekarang. Aku harus memeriksa keadaan mereka," putus Roy kemudian. Dengan tergesa dia berlari meninggalkan tempat acara.


Sesampainya di depan pintu lift, Roy menekan tombol lift dengan tidak sabar, berharap pintu lift itu segera terbuka dan dia bisa segera masuk ke dalam sana.


Ting.


Pintu lift akhirnya terbuka, tanpa berbasa-basi dia segera masuk ke dalamnya lalu menekan tombol angka menuju lantai tujuan. Hanya berselang kurang dari 1 menit pria itu pun akhirnya sampai di sana.


Ting.


"Astaga. Apa yang terjadi?" Roy langsung memeriksa hidung salah satu pengawal. Rupanya mereka tidak apa-apa, mereka masih bernapas. Tiba-tiba pandangan Roy tidak sengaja menangkap sebuah benda asing yang menancap di pundak salah satu pengawal yang tidak sadarkan diri dengan posisi tengkurap.


"Jarum suntik?" gumam Roy seraya mencabut benda asing tersebut.


Astaga. Seketika Roy teringat akan sesuatu. Dia semakin yakin bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dengan cepat dia berlari menuju kamar si kembar sambil menghubungi William.


"Halo, Will. Cepat tutup semua akses keluar masuk hotel. Mulai detik ini jangan biarkan satu orang pun meninggalkan lokasi hotel Galaxy," titahnya.


"Memangnya apa yang terjadi, Roy?" tanya William dengan nada panik. Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, Will. Tunggu sebentar, aku memeriksa keadaan dulu untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi."


Setelah berlari beberapa saat, Roy akhirnya sampai di depan kamar si kembar. Terlihat beberapa orang pengawal yang ditugaskan oleh Kaaran untuk berjaga di depan kamar si kembar semuanya sudah terbaring tidak sadarkan diri di lantai, sama seperti para pengawal yang berjaga di depan pintu lift.


"Gawat!"


Roy membuka pintu kamar hotel dimana si kembar berada. Jantungnya semakin terpompa dengan cepat saat melihat suster Ria dan suster Lili juga sama-sama tidak sadarkan diri.


"Suster Ria, Suster Ria, bangun!" Sejenak dia menghampiri gadis pujaan hatinya, menepuk pipinya dengan pelan untuk membangunkannya, tapi sia-sia saja, sepertinya gadis itu juga sedang dalam pengaruh suntikan obat bius.


Roy tersadar, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar mengkhawatirkan sang kekasih, dia pun memutuskan untuk membiarkan gadis itu terbaring di lantai tanpa mengangkatnya naik ke atas tempat tidur.


Perasaannya semakin tidak karuan setelah memeriksa bahwa ternyata si kembar sudah tidak ada lagi di dalam box bayi mereka masing-masing. Roy tentu semakin panik bukan kepalang. Kenyataan bahwa tuan muda kecil dan nona muda kecil mereka diculik membuatnya semakin belingsatan.


"Damn! Berani sekali mereka melakukannya! Brengsyek! Akh!!!" teriaknya dengan penuh emosi.


Dengan cepat Roy segera berlari keluar dari ruangan tersebut sambil mengabarkan pada William bahwa si kembar di culik.


Astaga. Bagaimana caranya nanti aku mengatakan hal ini pada tuan Kaaran dan nona Rania? Batin Roy sambil berlari keluar dari lift menuju tempat resepsi. Dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Kaaran dan Rania nantinya saat mengetahui bahwa kedua bayi mereka diculik.


Dengan wajah yang sudah memucat, tangan dan kaki yang gemetaran, serta tubuh yang terasa panas dingin, Roy merasa dirinya tidak sedang berada di dunianya sendiri saking panik, takut, khawatir dan deg-degannya. Tapi sebagai salah satu tangan kanan yang dipercaya oleh Kaaran sejak dulu, Roy harus berani menanggung resiko jika tuannya itu nantinya menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa tuan muda kecil dan nona muda kecil mereka.


B e r s a m b u n g ...


..._________________________________________...


...Ada gak sih pembaca yang mau cerita ini dilanjut? Atau kalian sudah tidak penasaran lagi karena endingnya sama dengan ending novel sekuelnya🤔 Yang mau ceritanya tetap dilanjut like dan komen ya😉...

__ADS_1


__ADS_2