
Pertanyaannya itu membuatku tersenyum. Tadinya aku berpikir bahwa dia ingin menanyakan hal yang aneh-aneh padaku, ternyata dia hanya ingin menanyakan mengenai arti dari sebuah pernikahan dari sudut pandangku. Baiklah, aku akan menjawabnya.
"Arti sebuah pernikahan, menurut versi Kaaran Dirga. Pernikahan itu sakral, jadi aku hanya ingin melakukannya sekali dalam seumur hidupku," jawabku.
Ya, memang jawabannya terdengar sangat pasaran, tapi begitulah adanya. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, yaitu hanya bersamanya.
"Oh, ya? Jadi apa kamu sudah yakin hanya ingin menikah denganku, dan hanya ingin melakukannya sekali dalam seumur hidupmu hanya bersamaku seorang, tidak akan lagi melakukannya dengan wanita lain?" tanyanya lagi.
"Tentu saja. Tentu saja aku sudah sangat yakin hanya ingin menikah denganmu seorang. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anakku," jawabku, tapi dia malah terlihat tersenyum kecut.
Loh, ada apa? Apa ada yang salah dengan jawabanku barusan?
"Apa kamu yakin, dari sekian banyak wanita yang pernah kamu tiduri sebelum aku, tidak ada satu pun yang mengandung anakmu? Lalu bagaimana nasib mereka jika seandainya ada? Kenapa kamu hanya ingin bertanggung jawab padaku saja, kenapa tidak bertanggung jawab pada mereka juga?"
__ADS_1
Astaga. Pertanyaan macam apa itu?
Sekarang ini aku hanya bisa tertawa seperti orang bodoh, bingung harus mulai menjawab dari mana. Aku mengusap wajahku dengan kasar, lalu kemudian mendengus kasar.
Tidak salah lagi, sepertinya dugaan Roy tadi benar, yang membuat wanitaku ragu untuk menikah denganku adalah, karena masa laluku yang teramat buruk. Astaga, kenapa aku baru menyesali semuanya sekarang? Setelah aku bertemu dengannya.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, dan kenapa kamu malah tertawa? Apa ada yang lucu?" tanyanya lagi.
Aku memperbaiki posisi dudukku, lalu memajukan sedikit badanku kemudian meraih tangan wanitaku dan menggenggamnya di atas meja.
Aku benar-benar tulus mencintai gadis keras kepala ini, bukan semata-mata karena ingin menjadikannya sebagai pabrik untuk memproduksi anak-anakku di masa yang akan datang.
"Apa maksudmu?" tanyanya. Dia terlihat kurang mengerti dengan ucapanku.
__ADS_1
"Maksudku, kamu satu-satunya wanita yang aku pilih untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Karena saat aku ... saat aku berhubungan dengan para wanita sebelum kamu, aku tidak pernah lupa untuk menggunakan pengaman, jadi sebelumnya aku tidak pernah menghamili wanita mana pun selain kamu," jelasku.
"Akan tetapi ... saat aku ingin melakukannya denganmu ... aku ... aku memang sengaja tidak memakainya," tambahku pelan, takut dia semakin marah padaku.
Plak!
Yang aku takutkan pun benar-benar terjadi. Dia langsung menggebrak meja dan berdiri dari duduknya setelah mendengar penjelasanku. Sepertinya dia terlihat sangat marah.
Gawat. Ini salahku. Kenapa aku terlalu jujur. Dasar bo doh. Kenapa aku bisa jadi sebo doh ini di hadapannya.
B e r s a m b u n g ...
...________________________________________...
__ADS_1
...Bersambung lagi🤧 Bab berikutnya akan tayang saat pergantian tanggal, jadi harap tenang saudara-saudara😅🤧🤧...