
Sebelum menjawab panggilan telepon dari Johan, aku segera bergegas turun dari tempat tidur dengan sangat pelan, takut istriku terbangun. Setelah aku masuk ke dalam kamar mandi, barulah aku menjawab panggilan telepon dari kakak angkatku tersebut.
"Ada apa lagi?" tanyaku, dengan nada sedikit ketus.
"Halo, Dik! Kenapa kamu ketus begitu pada Kakakmu ini, hm?" ucapnya.
"Tidak usah basa-basi Kakak Pertama. Cepat katakan, apa lagi maumu sekarang? Kenapa lagi kamu menghubungiku?" tanyaku, masih dengan nada bicara seperti tadi.
Johan tergelak. "Hahaha! Kaaran ... Kaaran. Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Aku dengar ... kamu ingin melepaskan Mawar Biru, kenapa kamu tidak menyerahkannya saja padaku, Dik? Kakakmu ini mampu untuk menggantikan posisimu sebagai ketua, dan menggantikanmu menjadi penguasa di daerah kekuasaanmu."'
Bede*bah. Sepertinya ada seseorang yang sudah berani menjadi berkhianat. Kalau sampai ketahuan siapa orangnya, aku pastikan tidak akan memberinya ampun.
"Cih, jangan mimpi Kakak Pertama. Kalau pun aku melepaskan Mawar Biru, aku pastikan bukan kamu orang yang aku pilih untuk menggantikan posisiku."
Tut tut tut.
Aku langsung memutus sambungan teleponku dengan Johan, nomornya juga langsung aku blokir. Aku tidak ingin dia kembali menghubungiku apa pun alasannya.
Plak!
__ADS_1
Saking marahnya kedua tanganku langsung menggebrak dinding kamar mandi yang ada di hadapanku.
"Siapa kira-kira yang sudah berani menjadi pengkhianat dan membocorkan rahasia paling penting pada Johan?"
"Yang tahu masalah ini hanya dad Robin dan Roy, dua orang yang selama ini sudah sangat aku percayai." Saat ini kepalaku dipenuhi tanda tanya.
"Tidak mungkin Roy orangnya, apalagi dad Robin. Aku sangat mengenal Roy dan sudah sangat mempercayainya. Dia tidak mungkin mengkhianatiku, tapi ... siapa kira-kira kalau bukan dia dan dad Robin?"
Aku mulai berpikir dengan keras, mencoba mengingat-ingat, kapan dan dimana aku pernah membicarakan hal itu pada Roy dan dad Robin.
Beberapa waktu lalu orang pertama yang aku beritahu mengenai hal itu adalah Roy, dan aku mengatakan niatku itu pada Roy saat kami berada di perusahaan, tepatnya di dalam ruanganku, tapi di sana tidak ada siapa-siapa selain aku dan dia, dan tidak mungkin juga di sana ada orang yang menguping pembicaraan kami.
Aku mulai berpikir, apakah saat aku membicarakan hal itu pada dad Robin, di sana ada orang lain selain kami berdua?
Semakin ke sini aku semakin berpikir dengan keras, mencoba mengingat-ngingat kembali kejadian waktu itu.
Beberapa saat kemudian.
Ting.
__ADS_1
"Ahha, aku ingat. Mungkin dialah orangnya. Kurang ajar sekali dia." Seketika aku teringat pada seseorang. Tanpa menunggu waktu lama, aku langsung menghubungi William.
.
.
Malam pun tiba. Aku mendapat panggilan telepon dari William.
"Tuan, orang yang Anda maksud sudah saya sekap di ruang rahasia bawah tanah."
"Kerja bagus. Apakah dia sudah mau mengakui perbuatannya?" tanyaku. Saat ini aku sedang duduk di ruang kerjaku, jadi aku bebas berbicara tanpa perlu khawatir ucapanku akan di dengar oleh istriku.
"Tidak, Tuan, dia masih belum mau mengakuinya. Padahal, saya sudah mengancam akan menyiksanya," jawab William.
"Mungkin dia tidak mempercayai ucapanmu, Will, karena dia tahu bahwa kamu tidak mungkin tega berbuat kasar pada perempuan, apalagi sampai menyiksanya menggunakan tanganmu sendiri," kataku, dan William hanya terdiam.
Aku tahu betul seperti apa William. Segarang-garangnya dia, dia tidak akan mungkin tega memperlakukan wanita dengan kasar.
"Baiklah, sepertinya aku harus turun tangan sendiri untuk membuatnya buka mulut."
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...