RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 106


__ADS_3

Ceklek. Pintu kamar si kembar terbuka. Nampak suster Ria dan suster Lili keluar dari dalam sana secara bergantian. Keduanya keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap, setelah itu mereka menutup kembali pintunya dengan sangat pelan, takut Rania terbangun hingga akhirnya mereka ketahuan dan pasti akan dimarahi oleh nona besar mereka.


"Selamat malam, Tuan."Ā  Suster Ria dan suster Lili menyapa sambil menunduk sopan pada majikan mereka, Kaaran.


"Hem," balas Kaaran disertai anggukan pelan.


"Anda bisa masuk sekarang, Tuan. Nona Rania beserta Tuan Muda Kecil dan Nona Muda Kecil sedang terlelap," kata suster Ria.


"Ya sudah, kalau begitu kalian semua boleh pergi beristirahat," kata Kaaran, sebelum akhirnya dia memasuki kamar kedua anaknya dengan sangat pelan. Dia memang sudah sangat tidak sabar karena moment-moment seperti ini memang sudah cukup lama dia nantikan.


Setelah Kaaran masuk ke dalam kamar si kembar, suster Lili pun segera masuk ke dalam kamarnya sendiri yang terletak di seberang kamar si kembar. Dia merasa sangat mengantuk dan sekarang dia ingin melanjutkan tidurnya kembali.


Sementara itu, Roy dan suster Ria masih berdiri di tempat. Keduanya saling terdiam untuk sementara waktu, tidak tahu harus mengatakan apa dan memulai pembicaraan mereka dari mana. Keduanya sama-sama gugup setelah sekian lama tidak pernah bertemu secara langsung. Selama beberapa waktu terakhir, mereka hanya bisa saling berkomunikasi melalui telepon.

__ADS_1


Bagaimana ini? Baru juga seperti ini sudah hampir membuat jantungku copot. Batin Roy. Meski pun dalam hati dia merasa sangat gugup, akan tetapi dari luar dia tetap memasang wajah tenang dan datar seperti biasanya.


"Mm ... Tuan Roy, saya ... saya juga ingin masuk ke dalam kamar saya untuk beristirahat." Akhirnya suster Ria yang angkat bicara duluan.


"I-ya, silahkan," kata Roy.


"Kalau begitu selamat malam, Tuan Roy." Suster Ria berkata sambil tersenyum dan mengangguk sopan pada Roy.


"Sus-" Baru saja Roy kepikiran untuk mengatakan sesuatu, tapi suster Ria sudah terlanjur menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Si*al. Kenapa aku bisa segugup ini sih?


.

__ADS_1


.


Sementara itu, di dalam kamar si kembar. Kaaran sudah berdiri menatap kedua bayi kecilnya yang baru berusia 2 bulan lebih tersebut. Tidak terasa air mata bahagianya menetes saat melihat sepasang anak kembarnya secara langsung, bukan lagi menatapnya di layar ponselnya.


Akhirnya kita bertemu juga nak. Kaaran tersenyum sambil mengusap pipi kedua anaknya dengan lembut secara bergantian. Dia terus-terusan menatap kedua bayinya. Benar-benar copy-an dirinya bersama dengan sang istri. Wajah Zoe nampak sangat mirip dengan Rania, sementara Zack nampak sangat mirip dengannya. Kedua anaknya memang kembar, tapi tidak identik.


Sudah lebih dari 10 menit Kaaran menatap kedua anaknya, dan saat ini dia sudah merasa sangat mengantuk. Sebelum beranjak meninggalkan kedua anaknya, terlebih dahulu Kaaran mencium pipi kedua bayinya secara bergantian. Untungnya kedua anaknya itu tidak terbangun saat dia cium.


Kaaran lalu berjalan menghampiri Rania. Dia melihat istrinya itu juga sedang terlelap di atas single bed. Sebelum ikut berbaring di samping Rania, terlebih dahulu Kaaran mencium kening istrinya dalam-dalam.


Maafkan aku Sayang, karena aku tidak bisa jujur padamu, tapi itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin kehilangan kamu beserta kedua anak kita. Takutnya saat kamu tahu siapa aku yang sebenarnya, kamu malah tidak bisa menerimaku.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2