
"Jadi ternyata kamu memang sengaja menghamiliku!" Dengan napas memburu, dia menatapku dengan tajam.
"Ra-Rania tenanglah, duduklah lagi. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu," ucapku sedikit gugup. "Jangan marah, karena marah bisa mempengaruhi kondisi janin yang ada di dalam kandungan kamu," bujukku, sambil menarik pergelangan tangannya agar dia duduk kembali di kursinya, tapi dengan cepat dia langsung menepis tanganku dengan kasar.
Bahkan aku sampai membawa-bawa calon anak yang ada di dalam kandungannya, berharap dia tidak jadi marah padaku, tapi sepertinya tidak mempan, dia tetap saja terlihat sangat marah.
"Kenapa harus aku?!" Dia berteriak sambil menunjuk dirinya sendiri. Saat ini matanya sudah merah dan berkaca-kaca.
"Kenapa?! Apa kamu memang sengaja ingin merusak masa depanku, hah?! Aku ini masih muda, Tuan Kaaran Dirga! Usiaku bahkan baru 19 tahun!"
"Kenapa kamu malah memilih gadis sepertiku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu?! Harusnya kamu memilih wanita yang lebih dewasa di luar sana, bukan gadis seperti aku yang terpaksa dewasa karena keadaan. Hiks." Dia langsung terduduk kembali di kursinya sambil menangis.
__ADS_1
Astaga. Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan besar, sehingga membuat wanitaku menangis.
"Rania tenanglah, aku mohon. Aku minta maaf jika aku sudah salah bicara," ucapku, sembari berpindah tempat duduk dan duduk tepat di sampingnya.
"Rania, asal kamu tahu, jaman sekarang itu usia hanya angka. Tua atau pun mudanya usia seseorang, tidak bisa menjamin kedewasaannnya," ucapku. "Dan lagi, masa depan seperti apa yang kamu cari? Apa kamu pikir aku tidak bisa memberikan masa depan yang baik untukmu? Aku bisa Rania, aku bisa. Aku bisa memberikan apa pun yang kamu minta, asalkan, kamu mau menikah denganku dan menjadi istriku." Aku berkata sambil mengusap-usap punggungnya dengan lembut agar dia bisa kembali tenang.
Tiba-tiba saja dia langsung mengangkat wajahnya yang sudah basah karena air matanya. Matanya yang merah dan basah itu sekarang menatap tajam ke arahku.
"A-ku hanya i-ngin meni-kah dengan o-rang yang a-ku cintai dan men-cintaiku, bukan de-ngan orang ya-ng sangat a-ku benci seperti-mu," tambahnya, seraya menudingku.
"Rania, aku minta maaf. Aku tahu, dari awal aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku memberikan kesan yang buruk dan membuatmu malah terus membenciku hingga sekarang, tapi ketahuilah, bahwa aku sebenarnya sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Rania. Aku bersungguh-sungguh." Aku berkata sambil menggenggam tangannya dengan erat, dan seketika isak tangisnya langsung terhenti. Sekarang ini dia malah menatapku dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Rania, dengarkan aku." Aku berkata sambil menangkup kedua pipinya, lalu menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Aku tahu kamu sangat membenciku, aku tahu itu semua terjadi karena kesalahanku sendiri, dan aku juga tahu, kamu pasti tidak bisa percaya begitu saja saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Tapi jika kamu butuh bukti, aku pasti akan memberikan bukti. Yang penting, kamu mau mempercayaiku dan belajar untuk membuka hatimu untukku."
Wanitaku masih terdiam, dia masih belum membalas ucapanku sama sekali.
"Tadi kamu mengatakan bahwa kamu hanya ingin menikah dengan laki-laki yang kamu cintai dan juga mencintai kamu, 'kan? Sekarang ada aku yang mencintai kamu, sisa kamu yang belum mencintaiku."
Aku terus-terusan menatapnya sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Rania, demi anak kita, maukah kamu belajar mencintaiku juga?"
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...