RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 82


__ADS_3

1 Minggu telah berlalu, yang kami lakukan hanya mengatur strategi sembari menunggu Gang Black Mamba datang menyerang.


Tidak tahu kenapa nomor Susan dan suaminya selama 1 minggu ini sangat sulit sekali untuk dihubungi. Kami semua ingin kembali menggali informasi dari dia tentang kapan Johan bersama kawanannya akan melakukan penyerangan. Akan tetapi sudah 1 minggu ini nomor keduanya benar-benar tidak dapat dihubungi. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada sepasang suami istri mata-mata itu.


"Bagaimana, Will? Apa nomor Susan dan suaminya masih belum bisa tembus juga?" tanyaku.


"Belum, Tuan," jawabnya.


"Apa jangan-jangan, Susan dan suaminya sudah ketahuan. Jika memang demikian, pasti hal buruk sudah menimpa mereka."


"Kemungkinan terburuknya seperti itu, Tuan. Tapi tadi saya sudah mencoba untuk mengirim pesan pada mereka, kalau pesannya berhasil terkirim, itu artinya Susan dan suaminya hanya sengaja me-non-aktifkan ponsel mereka," ujar William.


"Ya sudah, kamu awasi saja terus. Aku kembali ke ruanganku dulu."


"Silahkan, Tuan."


Sembari menunggu informasi lebih lanjut, aku biasanya menghabiskan waktuku dengan mengawasi gerak-gerik istriku lewat rekaman CCTV yang tersambung dengan ponselku, atau aku menghubunginya langsung agar kami bisa saling bertatap muka melalui panggilan video.


"Dad, apa urusan bisnismu masih lama? Apa kamu masih lama di luar negeri?" tanya istriku. Hampir setiap hari istriku menanyakan itu saat kami berdua berbicara di telepon.


"Masih lama Sayang. Proyek pertama masih aku tinjau lokasinya. Ini saja aku menelponmu karena sudah masuk waktu jam istirahat," ucapku berbohong.

__ADS_1


Aku hanya akan mengatakan alasan yang masuk akal agar istriku bisa langsung percaya tanpa menaruh curiga sedikit pun padaku.


Istriku memanyunkan bibirnya sambil berkata, "Haish."


Melihatnya seperti itu, aku pun segera mengalihkan topik pembicaraan. "Sayang, hari ini ibu memasak apa untuk kamu?"


"Apakah itu pertanyaan penting?" ucapnya datar. Sepertinya istriku tahu bahwa aku hanya mengalihkan topik pembicaraan, dan dia nampak kesal padaku.


"Ya ... aku 'kan hanya bertanya Sayang. Jangan marah."


Tok tok tok! Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Hanya berselang beberapa detik kemudian William sudah muncul dari balik pintu. Jika William masuk kemari, itu artinya dia membawa berita penting.


"Sayang, sudah dulu ya. Waktu istirahatnya sudah habis. Muah."


Begitu sambungan telepon dengan istriku terputus, aku pun segera bertanya pada William, "Ada apa, Will?"


"Tuan, nomor Susan akhirnya sudah bisa dihubungi, dan saya baru saja berbicara dengannya," jawab William.


"Apa katanya?"

__ADS_1


"Susan bilang, 1 minggu lagi Gang Black Mamba akan melakukan penyerangan ke markas kita, Tuan. Susan memperingatkan kita agar berhati-hati dan bersiap-siap," jawab William.


"Hm ... 1 minggu lagi. Baguslah. Semakin cepat semakin baik. Aku memang sudah bosan menunggunya."


Jika masalah ini bisa cepat selesai dan Johan bisa secepatnya aku singkirkan, itu artinya aku bisa segera kembali ke villa untuk menemani istriku menunggu kelahiran anak kembar kami.


"Dan juga, Susan mengatakan bahwa ada beberapa orang mata-mata yang tuan Johan tugaskan untuk mengawasi gerak-gerik kita di luar markas. Jadi kita harus selalu waspada dan berhati-hati setiap ingin melakukan pergerakan di luar."


"Kalau itu sudah pasti dan sudah jelas Will. Mereka tidak mungkin langsung melakukan penyerangan begitu saja," ucapku.


Ini lah alasannya kenapa aku tidak kembali ke villa saat Johan and the gank belum juga menyerang kami hingga saat ini. Aku hanya memikirkan keselamatan istri dan calon anak-anakku. Takutnya saat aku sampai di villa, Johan dan para anak buahnya baru memulai penyerangan mereka. Jika sudah seperti itu, maka nyawa istri dan anakku dalam bahaya.


"Oh iya Will, katakan pada Roy untuk lebih berhati-hati di luar sana. Suruh dia melakukan penyamaran sebaik mungkin agar tidak ada yang curiga saat dia pergi menemui dokter Santi dan mencari babysitter untuk si kembar nantinya."


"Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan."


"Dan katakan juga pada anak buahmu untuk semakin memperketat penjagaan di villa."


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Hem."

__ADS_1


__ADS_2