
"Si*al. Dari mana datangnya peluru itu?" gumamku.
Aku mulai merangkak hendak meninggalkan rooftop menuju tangga. Tempat ini sudah tidak aman lagi bagiku. Diam-diam tanpa aku sadari, ada yang mengincar nyawaku di sini.
Setelah berhasil mencapai tempat tujuan, aku pun segera berlari menuruni anak tangga, aku ingin keluar ke sana untuk menunggu Johan yang saat ini sedang menuju kemari.
Sementara itu, aku terus mengawasi peperangan di layar ponselku beserta mobil Johan yang saat ini tengah melaju kemari. Ku lihat anak buah Johan satu per satu mulai tumbang dan hanya tersisa kurang dari 5 orang. Itu mungkin karena mereka tidak mengenakan baju anti peluru, sedangkan seluruh anak buahku mengenakan baju pelindung yang terbuat dari kevral tersebut, jadi nyawa mereka semua cukup aman selama tembakan peluru musuh tidak mengenai bagian leher hingga kepala mereka.
Sementara itu di tempat lain, ku lihat mobil Johan terus melaju mengambil jalur lain, jalur yang berbeda dengan jalur yang dilalui oleh mobil para anak buahnya tadi.
"Bagus, teruslah maju. Kamu pasti mengambil jalan baru karena ingin menghindari jebakan. Tapi sayangnya, jebakan yang sama justru menunggumu di depan." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum puas.
Aku menghentikan langkahku, kemudian fokus menatap layar yang ada di dalam genggamanku, ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri disaat detik-detik terakhir Johan kehilangan nyawanya.
Waktu berlalu detik demi detik, hingga akhirnya mobil Johan pun kian mendekati area yang sudah ditandai dengan tanda X merah oleh Roy pada peta area markas kami dan daerah sekitarnya. Dimana tanda X merah itu merupakan titik-titik dimana ranjau ditanam.
"Teruslah maju. Terus ... terus, maju terus. Satu, dua, tiga."
BOOM!!!
__ADS_1
Suara ledakan terdengar begitu menggelegar di luar sana. Sesuai dengan yang aku harapkan, mobil Johan meledak karena menginjak salah satu jebakan ranjau.
"Selamat tinggal kakak pertama. Maafkan aku. Kamu hanya terlalu berbahaya jika terus-terusan dibiarkan hidup." Aku berkata seraya berbalik melihat ke arah luar jendela, menatap asap pekat yang mulai menjulang tinggi ke udara.
Huft .... Aku menghembuskan napas penuh kelegaan. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba juga, dimana musuh terbesarku akhirnya berhasil dilenyapkan dari muka bumi ini. Sebentar lagi aku akan pulang menemui istri dan anak-anakku. Istriku nanti pasti akan sangat senang jika aku memberitahunya bahwa dia susah bisa bebas keluar kemana pun dia mau.
.
.
Kurang lebih 3 jam kemudian.
Sisa-sisa kekacauan beserta jasad-jasad anak buah Johan sudah dibereskan semuanya. Aku pun kemudian memutuskan untuk kembali ke villa secepatnya. Tidak ada lagi gunanya kami terus berada di markas ini sementara musuh sudah kami kalahkan hingga tuntas.
"Baik, Tuan."
Rencananya, pulau itu ingin aku tunjukkan pada istriku sebagai hadiah pernikahan saat ulang tahun pertama pernikahan kami nantinya, yaitu sekitar 5 bulan lagi.
Saat ini aku dan Roy sedang berjalan keluar hendak meninggalkan markas. Sementara itu William dan yang lainnya sedang bersiap-siap untuk merayakan pesta kemenangan kami di luar sana. Aku sendiri tidak bisa ikut untuk merayakan dan lebih memilih untuk memberikan fasilitas mewah sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Menurutku, pulang menemui istri dan anak-anakku jauh lebih penting. Sedangkan Roy, aku tidak tahu apa alasannya dia enggan untuk ikut berpesta bersama anggota yang lainnya.
__ADS_1
Setibanya di halaman depan markas tempat mobil di parkir, Roy mulai membukakan pintu mobil untukku.
"Silahkan Tuan," ucapnya.
"Hem."
Baru saja aku ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ....
Set!
"Akh." Seketika aku membulatkan mata dan langsung menghentikan langkah saat merasakan sesuatu seperti jarum menusuk punggungku.
"Ada apa, Tuan?" tanya Roy, dan aku hanya bisa menggeleng menanggapi pertanyaannya.
Seketika kesadaranku perlahan-lahan mulai menurun. Rasanya kaki dan tanganku tidak bisa aku gerakkan.
Ada apa denganku?
Bruk!
__ADS_1
Sejurus kemudian aku jatuh ambruk ke tanah dan tidak mengingat apa-apa lagi.
B e r s a m b u n g ...