RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 81


__ADS_3

Sembari menunggu istriku terbangun, aku mengusap-usap perut buncitnya yang terlihat semakin membesar. Sekitar 1 bulan lagi, isinya akan keluar.


Nak, maafkan Daddy, karena Daddy akan meninggalkan kalian bertiga dalam kurun waktu yang cukup lama. Doakan agar Daddy bisa pulang dengan selamat. Aku berkata dalam hati sembari mengusap lalu mencium perut buncit istriku.


Daddy juga tidak tahu kapan Daddy akan pulang, tapi Daddy sangat berharap bisa menyaksikan kelahiran kalian berdua. Percayalah Nak, meski pun nantinya Daddy tidak bisa menemani kelahiran kalian, tapi Daddy sangat menyayangi kalian bersama Mommy kalian. Kalau seandainya nanti Daddy tidak kembali saat kalian lahir, itu karena Daddy hanya ingin melindungi keselamatan kalian. Kalian bertiga adalah segalanya untuk Daddy, dan Daddy sangat mencintai kalian bertiga.


Tidak terasa air mataku terjatuh saat mencium perut istriku. Namun buru-buru aku seka karena takut istriku melihatnya. Jika Rania sampai melihatku menangis, dia pasti akan terus bertanya kenapa.


"Dad." Istriku memanggilku tapi matanya masih terpejam.


"Iya Sayang," jawabku.


"Peluk ..." ucapnya dengan manja. Dia merentangkan kedua tangannya dalam posisinya yang masih berbaring.


Aku pun lalu ikut berbaring di sampingnya, lalu membawanya ke dalam pelukanku.


Cukup lama kami berada di dalam posisi itu. Sekalian aku ingin memuaskan diri untuk memeluk istriku karena nantinya aku hanya bisa menatapnya lewat rekaman CCTV tanpa bisa menyentuhnya.

__ADS_1


"Sayang," ucapku. Aku memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.


"Hem ..." gumamnya dengan mata yang masih terpejam.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucapku.


"Apa itu, Dad? Apakah penting?" tanyanya.


"Ya, sangat penting Sayang," jawabku.


Aku terdiam sejenak, lalu kemudian mulai mengatakan pada istriku bahwa aku akan pergi ke luar negeri karena ada urusan bisnis yang sangat penting dan mendadak, dan aku sendiri tidak tahu kapan aku akan kembali.


Awalnya istriku sangat marah. Dia menangis dan menuduhku yang bukan-bukan. Namun setelah aku memberinya pemahaman, dia akhirnya bisa mengerti. Apalagi saat aku mengatakan bahwa ibu dan adiknya akan datang kemari untuk menemaninya. Istriku pun akhirnya bisa lebih tenang.


...(Dialog antara Kaaran dan Rania (yang ada di novel sebelah 'One Night Love Devil') gak diulang lagi ya karena ceritanya pasti akan semakin membosankan jika dialog yang sama kembali diulang di sini)...


.

__ADS_1


.


Begitu ibu mertua dan adik iparku datang, aku pun segera bersiap untuk berangkat.


"Nak, jangan nakal, ya? Doakan agar Daddy cepat kembali, dan bilang sama Mommy kalian, jangan pernah melanggar perintah Daddy, ya? Demi keselamatan kalian." Aku berkata lalu mencium perut istriku.


Setelah berpamitan pada istri dan kedua calon anakku, aku pun segera berangkat bersama Roy dan William.


"Tujuan kita ke mana dulu, Tuan?" tanya William yang duduk di balik setir kemudi.


"Langsung saja ke markas. Kita harus mempersiapkan strategi, karena kita tidak tahu kapan Gang Black Mamba akan mulai menyerang kita," jawabku.


Aku tahu, meski pun katanya Johan ingin menyerang kami, tapi dia tidak mungkin langsung menyerang ke markas kami begitu saja. Menyerang musuh bukanlah perkara yang mudah, butuh strategi yang cukup matang, karena salah sedikit bisa mati konyol.


"Baik, Tuan," ucap William, lalu kemudian mulai melajukan mobilnya menuju tempat tujuan utama kami.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2