RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 114


__ADS_3

Setelah berbasa-basi dengan Zidan, Kaaran pun akhirnya mengajak pria itu untuk ikut makan siang bersamanya dan Rania di ruang VVIP restoran tersebut.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, Zidan lebih banyak membahas bisnis bersama Kaaran. Dari situ Kaaran bisa tahu jika ternyata saudara iparnya itu adalah salah satu pengusaha di kotanya.


"Oh iya, malam minggu nanti saya akan mengadakan pesta. Saya ingin mengundang Tuan Kaaran dan Nia untuk hadir di pesta saya. Yah, itu pun kalau Tuan Kaaran tidak keberatan," kata Zidan.


"Tentu, tentu saja kami akan hadir. Kita 'kan sekarang adalah keluarga. Iya 'kan, Sayang?" kata Kaaran. Lagi-lagi Rania kembali menanggapi ucapan suaminya itu dengan anggukan dan senyuman paksa. Hal itu membuat Kaaran semakin curiga dan seketika ingin menyuruh William untuk mencari tahu tentang Zidan.


.


.


Sesampainya di villa.


Kaaran dan Rania pulang lebih cepat. Mereka tidak jadi jalan-jalan keliling-keliling mall karena tiba-tiba Rania ingin langsung kembali ke villa setelah mereka selesai makan siang. Sepertinya mood nyonya Kaaran memburuk setelah tidak sengaja bertemu dengan salah satu kerabatnya.


Saat Rania masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum menemui kedua anaknya, disaat itulah Kaaran masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menghubungi William.

__ADS_1


"Will, aku punya tugas baru untukmu." Kaaran berkata saat William menjawab panggilan telepon darinya.


"Apa itu, Tuan?" tanya William.


"Aku ingin kamu mencari tahu informasi tentang seseorang. Namanya Zidan Abraham, pimpinan perusahaan XXXX," jawab Kaaran. "Cari tahu juga, bagaimana hubungannya dengan istriku di masa lalu."


"Baik, Tuan. Apa hanya itu?" tanya William, ingin memastikan.


"Ya, hanya itu."


.


.


"Sayang," panggil Kaaran.


"Iya, Dad."

__ADS_1


"Aku ingin bertanya sesuatu, seberapa dekat kamu dengan kakak sepupumu itu, si Zidan?" tanya Kaaran. Dia merasa sangat penasaran dan ingin Rania menceritakan sedikit tentang masa lalu dengan kakak sepupunya itu.


"Zidan? Aku sama sekali tidak dekat dengannya. Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui, Dad, dia itu bukan kakak sepupuku. Dia hanya membohongimu waktu itu," jawab Rania.


"Apa maksudmu Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Kaaran. Dari raut wajahnya, dia bisa melihat seberapa tidak sukanya Rania pada pria bernama Zidan tersebut.


"Daddy, asal kamu tahu. Zidan itu hanya seorang penipu. Dia pria yang licik. Aku takut dia sengaja mendekatimu karena ada maunya. Contoh kecilnya agar kamu mau menyuntikkan dana pada perusahaannya," kata Rania lagi.


Kaaran terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Yang Rania katakan ada benarnya juga, karena semenjak mereka bertemu waktu itu, keesokan harinya Zidan memang datang ke Galaxy Group menemui Roy untuk mengajukan hubungan kerja sama.


Dret dret, dret dret. Ponsel Kaaran berdering. Panggilan dari William.


Sepertinya rasa penasaranku akan segera terjawab sepenuhnya. Batin Kaaran.


"Suster Ria, tolong gendong Zoe dulu. Aku ingin menjawab panggilan dari William," kata Kaaran. Dia menyerahkan putrinya untuk digendong oleh babysitter tersebut.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Setelah Zoe diambil alih oleh Suster Ria, Kaaran pun segera beranjak masuk ke dalam ruang kerjanya.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2