
"Apa? Apa maksudmu Roy? Siapa sebenarnya mata-mata Johan yang bergabung dengan kita tapi kita tidak menyadarinya?" tanya Kaaran.
"Dia adalah si Gundul, Tuan. Dia juga yang telah menembak Anda dengan suntikan virus mematikan itu?" jawab Roy.
"Apa? Jadi ternyata dia orangnya. Dari mana kalian tahu?" Kaaran kembali bertanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa ternyata si Gundul adalah mata-mata yang dikirim oleh Johan sejak awal dibentuknya klan Mawar Biru. Tadinya Kaaran sempat berpikir bahwa pria berkepala botak itu adalah salah satu anak buah yang bisa diandalkan, nyatanya dia tidak lebih dari seorang pengkhianat dan penyusup.
"Saya dan William juga baru mengetahuinya setelah memutar rekaman video yang direkam oleh kamera drone waktu itu Tuan. Rekaman saat kita bertempur melawan serangan kelompok gang Black Mamba. Waktu itu disaat kami semua tengah fokus melawan serangan musuh, Gundul malah mencuri kesempatan dan diam-diam menyerang Anda saat Anda masih berdiri di rooftop. Dan yang terakhir dia berhasil menyerang Anda sehingga Anda bisa berada di sini sekarang."
Seketika Kaaran merasa geram mendengar penjelasan Roy. "Lalu dimana sekarang si Gundul? Apa kalian berhasil menangkapnya?"
Rasanya Kaaran ingin memberikan pelajaran pada pria berkepala botak itu dan tidak akan pernah dia beri ampun.
"Tidak Tuan. Dia berhasil kabur, bahkan sebelum kami tahu bahwa ternyata dia adalah pelakunya," jawab Roy.
"Kurang ajar sekali dia. Awas saja kalau dia sampai bertemu denganku suatu hari nanti, aku pasti akan mencekik lehernya sampai rambutnya kembali tumbuh." Kaaran berkata dengan geram. Tidak akan ada ampun darinya jika suatu hari nanti dia bertemu kembali dengan pria itu.
__ADS_1
.
.
Beberapa hari kemudian.
Hari yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba. Kini Kaaran dan Roy sudah berada di bandara. Dokter Raymond beserta istri dan anak-anaknya mengantar mereka sampai di bandara.
"Hati-hati Sobat. Semoga kalian berdua selamat sampai tujuan." Dokter Raymond berkata sambil memeluk Kaaran dan Roy secara bergantian.
"Tidak apa-apa. Itulah gunanya sahabat," kata dokter Raymond.
"Audrey, terima kasih banyak ya. Maaf, karena aku sudah banyak merepotkan kamu juga." Kini Kaaran berpamitan pada istri dokter Raymond.
"Tidak apa-apa. Tidak usah sungkan." Audrey menjawab sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aarav, Boy, apa kalian mau ikut Uncle ke Indonesia?" Kaaran bertanya pada kedua putra dokter Raymond dan Audrey tersebut.
"Apakah Indonesia itu jauh, Uncle?" tanya Aarav, putra sulung dokter Raymond yang saat ini sudah berusia 6 tahun. Sedangkan Boy, si bungsu, dia baru berusia 2 tahun dan baru belajar berbicara.
"Lumayan jauh, Nak. Apa kamu mau ikut?" Kaaran kembali bertanya.
"Tidak Uncle. Aku takut jauh-jauh dari Mommy dan Daddy-ku." Aarav menjawab dengan polosnya membuat orang-orang tertawa.
"Kamu ini menggemaskan sekali Sayang." Kaaran berkata sambil mengusap-usap lembut puncak kepala Aarav.
Kaaran tersenyum kala membayangkan jika suatu saat nanti putranya Zack sudah sebesar Aarav, pasti Zack akan menggemaskan seperti ini. Begitu pula dengan Zoe putrinya, pasti akan tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik seperti mommy-nya.
"Halo Boy Raymond. Minum susu yang banyak ya, agar kamu cepat besar nantinya." Kali ini Kaaran mengambil alih putra bungsu dokter Raymond dan membawanya ke dalam gendongannya. Dia lalu menciumi pipi anak itu dengan gemas.
Setelah Kaaran dan Roy masuk ke dalam bandara untuk chek in, dokter Raymond beserta istri dan anak-anaknya pun segera pergi dari sana.
__ADS_1