RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 10. Akhirnya


__ADS_3

Bu Muji hanya tersenyum menjawab pertanyaan Soya, "Jangan berpikiran buruk tentang Ibu Soya, kamu yang bilang sendiri butuh pekerjaan," tutur Bu Muji pelan.


"Sungguh!" seru Soya senang.


"Lalu bagaimana sekolah Kamu," ujar Bu Muji pelan. "Jika itu memungkinkan Soya akan berusaha membagi waktu," cicit Soya bersemangat. "Baiklah, Soya jangan pernah meninggalkan sekolah kamu," ujar Bu Muji lagi. "Soya, laki-laki tadi mencari orang yang mau membersihkan rumahnya seminggu sekali, Kamu tahu rumah besar di seberang perempatan jalan?" tanya Bu Muji.


"Hem, rumah kosong itu!" jawab Soya.


"Benar, dulu itu rumah orang tuanya, berhubung orang tuanya meninggal jadi rumah itu hanya di singgahi satu bulan sekali, tetapi gajinya kecil Soya," ujar Bu Muji pelan.


"Laki-laki itu hanya mau membayar satu juta perbulannya," ujar Bu Muji lagi. "Soya mau Bu, hanya bersih-bersih saja kan Bu?" tanya Soya.


"Benar, jika Soya mau ambil kuncinya di ibu," ujar Bu Muji pelan.


Soya seketika tersenyum, "terima kasih Bu, Soya bersedia," ujar Soya senang.


Setelah percakapan dengan Bu Muji semangat Soya kembali tumbuh, tak terasa waktu berlalu dengan cepat, kini sysah satu bulan Soya bekerja di rumah besar dekat perempatan dan sang Ibu juga mulai kembali berjualan setelah sembuh dari sakitnya selama satu minggu. Soya, berusaha mengatur waktunya serapi mungkin. Namun, memasuki bulan kedua ada keanehan yang Kak Zulhan lakukan, Zulhan sering mendatangi Soya tak menhatakan apa-apa tetapi Soya yakin jika Kak Zulhan menyembunyikan sesuatu dari sikapnya. Hingga sore ini saat Soya berjuakan di perempatan. "Soya!" panggil Zulhan tiba-tiba.


"Kak Zulhan, Kakak kemari lagi?" tanya Soya sembari meletakkan kue yang di jajakannya.


"Bagaimana jualanya dan pekerjaan Soya?" tanya Zulhan tiba-tiba.


"Alhamdulillah Kak, Soya sedikit banyak sudah bisa mengangsur hutang Bapak meskipun itu tak seberapa tetapi Soya bersyukur paling tidak Soya bisa mengurangi sedikit," cicit Soya pelan.


"Hm. Syukurlah kalau begitu," ujar Zulhan sembari menatap Soya, "bagaimana keadaan Ibu Warti?" tanya Zulhan lagi.


"Halah, Kak Zulhan kemari mau sensus Soya atau mau beli kue Soya," tutur Soya pelan.

__ADS_1


"Ibu Soya baik, meskipun seminggu kemarin Ibu habis sakit," tutur Soya lagi.


"Ayo, Kak beli kue Soya tinggal luma biji," ujar Soya lagi.


"Ish. Kamu! Oke, Kak Zulhan borong," ujar Zulhan sembari tersenyum.


"Wah, beruntung sekali, terima kasih Kak Zulhan cakep," ujar Soya senang.


"Kamu, sejak kapan kamu pandai merayu," ujar Zulhan sembari melotot ke arah Soya.


Soya seketika tertawa mendengar ucapan Zulhan. "Ya, mungkin belajar dari orang-orang," ujar Soya sembari tertawa.


"Soya, habis jualan kamu kemana?" tanya Zulhan pelan. "Pulang Kak, kasihan Ibu di rumah sendiri," ujar Soya pelan.


"Soya, boleh Kakak main ke rumah Soya ada sesuatu yang akan Kakak bicarakan, tetapi Soya yakin keadaan Ibu Soya baik-baik saja," ujar Zulhan pelan.


Zulhan tak menjawab pertanyaan Soya, melainkan Zulhan memilih berdiri dan menatap Soya sesaat, "Kak Zulhan pulang Zoya, sebenarnya sudah lama Kakak ingin membicarakan ini, tetapi ..., "akh, sudah! Kakak pulang dan ingat dua hari lagi Kakak akan datang ke rumah Soya," ujar Zulhan sembari menyerahkan uang untuk membayar kue Soya.


Soya yang merasa penasaran akan ucapan Zulhan seketika memburu langkah Zulhan.


"Kak, tolong berhenti," ujar Soya sembari mensejajarkan langkahnya.


"Kak!" panggil Soya sekali lagi sembari menarik lengan Zulhan.


Zulhan seketika menghentikan langkahnya dan menatap Soya, "Kak, ada apa? jika kedatangan Kakak nanti hanya membuat hati Ibu sakit, tolong jangan bicarakan apa pun di depan Ibu, tetapi jika itu membuat ibu baik-baik saja, Soya akan mengizinkan Kak Zulhan datang ke rumah. Tolong Kak, ada apa ini?" tanya Soya sekali lagi.


"Soya, tolong lepaskan tangan Soya, kita seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, lihat banyak orang yang melihat ke arah kita Soya," ujar Zulhan pelan.

__ADS_1


Namun, Soya adalah Soya gadis yang kukuh pada pendapatnya, "Soya akan melepas tangan Soya, jika Kak Zulhan mau berbicara jujur pada Soya, Soya tak perduli dengan tatapan orang, Soya sudah cukup muak dengan cibiran orang," tutur Soya.


"Hm, baiklah apa Soya akan kuat mendengar berita dari Kak Zulhan?" tanya Zulhan pelan.


Soya lantas mengangguk dan melepas tangan Soya dari lengan Zulhan. "Ish, kamu tangan Kakak sampai ngilu Soya," seloroh Zulhan yang hanya di tanggapi oleh tatapan Soya yang bingung.


"Soya, kita duduk di taman saja," ujar Zulhan sembari melangkah lebih dulu. "Soya, ayo!" ajak Zulhan lagi.


Soya tanpa banyak bicara kini mengekor langkah Zulhan hingga mereka tiba di taman. Zulhan memilih mencari tempat duduk yang sedikit sepi agar bisa berbicara dengan leluasa dengan Soya. Zulhan terdiam beberapa saat, Zulhan seakan sedang menata ucapannya agar Soya tak merasa tersinggung. "Kak!" panggil Soya pada akhirnya sembari menatap nanar jauh ke depan.


Zulhan menoleh sesaat ke wajah Soya dan melepaskan tas punggungnya. Cukup lama Zulhan terdiam, "Soya, Kakak mohon Soya harus tenang setelah mendengar cerita Kak Zulhan, apa Soya siap," tutur Zulhan pelan.


"Soya, siap Kak," jawab Soya sembari membuang napas berat.


"Soya, Kak Zulhan minta maaf, jika selama ini Kak Zulhan tak berlaku jujur pada Soya, Kakak sudah menutupi sesuatu yang seharusnya Kak Zulhan ceritakan dari dulu," ujar Zulhan pelan.


"Maksud Kak Zulhan?" tanya Soya bingung.


"Entahlah, Soya. Kak Zulhan akan memulai cerita dari mana tetapi semua cerita Kak Zulhan ada hubungannya dengan Bapak Soya. Sungguh awalnya Kak Zulhan juga tak menyadari jika Kakak akan terlibat dengan Pak Kadir," ujar Zulhan sembari menatap Soya. "Maksud Kak Zulhan?" tanya Soya penasaran.


"Soya, sebenarnya Kak Zulhan bekerja pada seseorang dan tugas Kakak saat ini sebagai penagih orang yang berhutang, Kak Zulhan sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan kasus Pak kadir, tetapi setelah mengetauhi kita satu kampung dan pelimpahan tugas, Maaf jika Kak Zulhan harus melakukan tugas Kakak. Sebenarnya tugas ini harus sudah Kakak kerjakan satu bulan lalu, tetapi bertepatan dengan kematian Pak Kadir" ujar Zulhan.


Soya yang semakin penasaran akhirnya hanya bisa menghela napas dalam-dalam. "Kak, cerita pada intinya saja, buat Soya paham, apa Bapak ... " Soya memutus ucapannya begitu saja, karena saat ini Soya sudah merasa ada hal yang tak baik dalam percakapan ini.


Zulhan tak melanjutkan ucapannya, tetapi Zulhan memilih megeluarkan berkas yang tipis, "Soya, baca ini dan pahamilah isi berkas ini," tutur Zulhan sembari menyerahkan berkas yang di pegangnya pada Soya.


Soya dengan tangan gemetar menerima berkas dari tangan Zulhan. Soya lalu membuka berkas yang di pegangnya. Soya berulangkali membaca dan membalik tiap lembar berkas yang di pegangnya. Seketika Soya menatap ke arah Zulhan.

__ADS_1


"Kak, berkas apa ini? sungguh ini tidak mungkin Kak Zulhan, Soya tak percaya, Kak. ini-ini ... " tutur Soya terhenti begitu saja dan tak henti-hentinya Soya meremas tangannya hingga ke dua tangannya memerah.


__ADS_2