RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 97. Nyaman bersama Diandra


__ADS_3

"Cucu ... Ayah, siapa dia?" tanya Danendra terkejut.


Sang Ayah begitu merasa senang saat Danendra bertanya penuh curiga. "Sana! Jangan ganggu cucu Ayah!" seru Tuan Guntur sembari mendorong tubuh Danendra.


Danendra sedikit tersenyum saat Diandra memeluk erat tubuh sang Kakek bersembunyi di belakang tubuhnya dan menyembunyikan kepalannya pada punggung sang Kakek.


"Kek, Diandra takut," kata Diandra lirih.


Tuan Guntur lantas menarik tubuh kecil Diandra dan sengaja mempertemukan dirinya dengan Danendra. Diandra yang  sedari tadi bersembunyi di punggung sang kakek kini sedikit mengintip menatap laki-laki asing yang berdiri di depannya. Diandra kembali menarik baju sang kakek dan menatap ke arah sang kakek. "Kek, Om ini siapa?" tanyanya ragu.


"Diandra ingin berkenalan dengan anak Kakek?" tanya Tuan Guntur sembari tersenyum.


Danendra tanpa menunggu lama langsung mengulurkan tangannya, dirinya tak menyangka jika bertemu dengan gadis kecil ini hatinya seketika menghangat ada perasaan yang tak pernah Danendra rasakan sebelumnya perasaan tenang yang tiba-tiba Danendra rasakan. "Mau, berkenalan dengan Om?" tanya Danendra sembari tersenyum.


Diandra tak langsung membalas uluran tangan Danendra melainkan menatap ke arah sang kakek, memegang ujung baju sang kakek seakan mencari kepastian akan niatnya. "Bagaimana, Nona kecil mau bekenalan dengan Om?" tanya Danendra sembari tersenyum.


"M ...."Diandra masih dalam diamnya hingga  beberapa saat  sang kakek menarik tangan Diandra dan mengulurkan pada Danendra.


"Sapa. Om Danendra sayang, setelah itu Diandra minum obat dan istirahat," tutur Tuan Guntur sembari menggendong tubuh Diandra.

__ADS_1


"Maaf, kenalkan nama saya Diandra," jawabnya pelan.


Tuan Guntur langsug membawa Diandra masuk kamar, sementara Danendra masih terpaku menatap ke arah sang ayah dan Diandra. Entah, kenapa hatinya tergetar saat menyentuh tangan Diandra.


Danendra tak menyangka jika sang Ayah melihat semua sikap Danendra, bibirnya tersenyum penuh arti seakan senang dengan sikap Danendra. Tuan Guntur segera bangun dan duduk di sisi ranjang saat melihat Danendra masuk dalam kamar.


"Keluar, Danendra biarkan dia istirahat," usir sang Ayah.


Danendra kemudian menatap ke arah sang ayah dan berganti menatap ke arah Diandra.


Danendra seakan menyimpan begitu banyak pertanyaan tentang Diandra gadis kecil yang membuat hatinya tergetar.


Mendengar pertanyaan Danendra sang ayah langsung menatap tajam dan tak suka, sembari berdiri Tuan Guntur melihat ke arah Danendra. "Apa hak kamu menanyakan itu," jawab Tuan Guntur sembari melangkah keluar dari kamar.


"Entah, Ayah. Danendra hanya merasa nyaman saja saat dekat dengan Diandra," jawab Danendra dari dalam kamar.


Tuan Guntur seketika berhenti saat mendengar jawaban Danendra tak bisa di pungkiri jika hubungan darah antara mereka begitu kental. Tuan Guntur membiarkan saja Danendra duduk di dalam kamar menatap lekat gadis yang tengah terlelap.


Danendra yang sedari tadi menatap Diandra langsung tersenyum saat menyadari jika gadis kecil ini tidur sembari mengisap ibu jarinya, kebiasaan yang sering di lakukannya dulu saat dirinya masih seumuran Diandra.

__ADS_1


Lamunan Danendra terhenti saat sang ayah menepuk bahunya lembut. "Biarkan dia istirahat Danendra. Ayo, kita keluar!" ajak sang ayah.


Danendra menurut saja dengan titah sang ayah meskipun netranya tak lepas dari Diandra. 'Huufff ... kenapa perasaan ini begitu tenang saat melihat Diandra,' batin Danendra.


Danendra yang masih penasaran dengan sosok Diandra akhirnya dirinya kembali memberanikan diri untuk bertanya, tetapi lagi-lagi sang ayah tak ingin menjawab pertanyaan Diandra.


Sementara itu, di dalam kamar Diandra yang tiba-tiba terbangun kini menangis dan terus memanggil ibunya.


Danendra dengan cepat refkek berdiri dan masuk dalam kamar, menyentuh kening Diandra seakan dirinya ingin memastikan kondisi gadis kecil yang sekarang duduk dengan merajuk.


"Ayo, sini dengan Om," ucap Danendra sembari mengulurkan tangannya dan merengkuh tubuh kecil dihadapannya.


"Sekarang kita ke Kakek, lihat Kakek ada di ruang tengah," kata Danendra sembari tersenyum.


Diandra saat ini tak mekakukan penolakan dirinya menurut saja saat Danendra meraihnya dan menggendongnya ke luar dari kamar. Tuan Guntur yang melihat ini akhirnya bisa tersenyum lega, meskipun saat ini hatinya menyimpan kesedihan yang terus dia tutup rapat-rapat senyumnya terkembang sempurna.


'Akhirnya, kamu bisa merasakan pelukan hangat Ayah kamu Diandra dan kamu bisa bertemu dengan Ayah kamu.' Batin Tuan Guntur sedih.


"Ayo, sini duduk dengan Kakek," pinta Tuan Guntur sembari mengambil Diandra dari gendongan Danendra.

__ADS_1


__ADS_2