RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 57. Semua harus terjadi


__ADS_3

Tengah malam Soya terbangun, ada beribu kegundahan hati yang membuat dia termenung sesaat menatap baju yang di pegangnya. "Maaf. Tuan, jika cara ini yang terbaik, bagaimanapun juga Anda adalah orang yang pertama menyentuh tubuh Soya," guman Soya lirih.


"Apa sebaiknya saya menetap di sini? Atau melakukan sesuai apa yang Tuan besar katakan?" tanya Soya pada dirinya sendiri.


Soya beringsut turun dari ranjang dan meraih tas yang di bawanya, ada sedikit senyum di bibirnya saat mengingat Tuan besar menyetujui saja semua percakapan mereka. "Maafkan saya, Tuan muda semua harus terjadi sebelum Tuan terlalu jauh menyukai saya," guman Soya lirih.


Setelah melihat apa yang di berikan oleh Pak Muin, Soya tak bisa lagi mundur dari rencana ini. Demi cucu yang ada dalam rahim Clara.


Soya hanya bisa mendengus kesal saat mengetauhi kejadian yang sebenarnya dari Tuan besar.


Soya flashback on


Soya hanya bisa menggeleng saat mendengar Clara berteriak tak sopan membuat Tuan Guntur hanya bisa menepuk dada, Soya yang melihat ini langsung mendekat ke arah Tuan Guntur dan berusaha menenangkan, Tuan Guntur akhirnya menceritakan secara singkat kejadian yang menimpa Clara dan Tuan Guntur mendengar dari laporan beberapa anak buah yang menjaga Clara. Hingga akhirnya sehari setelah Danendra pergi Tuan besar mendapat telepon yang begitu membuatnya terkejut.


Tuan Guntur tak menyangka jika apa yang di lakukan oleh Danendra akhirnya membuat Tuan Guntur harus mengambil sikap hingga perjanjian yang Tuan Guntur lakukan dengan Clara. Clara akan tinggal dan hidup dengan Danendra hingga bayi yang di kandung Clara lahir tetapi dengan syarat Soya harus pergi meninggalkan Danendra.


Rencana yang sudah tersusun rapi dan harus di jalankan. Tuan Guntur memilih menjauhkan Soya dari Danendra dan itu juga keinginan Tuan Guntur. Soya pun harus melaksanakan semua rencana sesuai permintaan Tuan Guntur.


Soya flashback off


"Hem, semoga Tuan muda menemukan kebahagiaan dengan Clara," ujar Soya lirih.


Soya memilih tak melanjutkan tidur dan memilih ke luar dari kamar, melihat dekorasi rumah yang terlihat bersih dan dominan dengan cat berwarna putih bersih. Netranya sesaat terhenti memindai seluruh ruangan saat melihat Pak Muin tidur di sofa. "Kasihan Pak Muin," guman Soya kembali masuk dalam kamar dan tak lama keluar dengan membawa selimut dan perlahan menutup tubuh Pak Muin.


Cukup lama memindai satu persatu perabot dan ruangan lainnya. Langkah kakinya terhenti tepat di dapur, terlukis senyum di wajah Soya saat menatap area dapur, ruangan terlihat bersih dan rapi. Namun, beberapa saat dia hanya menghembuskan napas berat.


"Baik saya akan tinggal di sini dan akan memulai hidup baru dan saya akan memulai usaha kecil-kecilan," guman Soya lirih sembari tersenyum.


"Terima kasih Tuan, saya akan melakukan rencana ini dengan baik," ujar Soya sembari tersenyum.


"Mungkin ini jalan yang terbaik," ujar Soya lirih.


Pagi ini, Soya sudah memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang di rasa tepat dan benar. "Kamu harus semangat," guman Soya lirih untuk menyemangati drinya sendiri.


Soya yang sedari tadi diam menatap dapur sedikit terkejut saat Pak Muin datang menghampiri. "Non, saya pamit pulang. Tuan besar sudah berulangkali menghubungi saya," ujar Pak Muin pelan.


Menatap laki-laki paruh baya yang begitu baik membuat dirinya langsung mengangguk dan memeluk Pak Muin. "Hati-hati Pak, terima kasih untuk semua kebaikan Bapak," tutur Soya sembari melepas pelukannya.


Pak Muin, menatap Soya sejenak ada perasaan tak tega yang tiba-tiba muncul saat akan meninggalkan Soya sendiri di kota yang tak di kenalnya. "Non, ambil ponsel Bapak, jika ada sesuatu hubungi Bapak," ujar Pak Muin sembari mengulurkan ponsel yang ada di tangan.


"Pak, itu ponsel milik Bapak. Soya baik-baik saja, saya takut jika ada ponsel nanti Tuan muda malah sering menghubungi dan saya tak mau itu," tutur Soya jujur.


"Non, ini demi kebaikan Nona," ujar Pak Muin tak tega.


Mendengar kekhawatiran laki-laki paruh baya yang berdiri di depannya, Soya sejenak tertawa lirih. "Pak. Soya akan baik-baik saja, Bapak jangan khawatir," ujar Soya.


Pak Muin akhirnya memilih untuk mengalah tetapi tak urung Pak Muin menulis angka nomor ponselnya. "Hubungi Bapak jika memerlukan sesuatu, bagaimana pun juga Nona adalah istri Tuan Muda, Bapak hanya ingin Nona baik-baik saja, jaga diri baik-baik Nona," ujar Pak Muin dan setelah itu berlalu pergi.

__ADS_1


Pak Muin masih menatap tak tega. "Pak, saya akan baik-baik saja," ujar Soya sembari tersenyum dan tak lama memilih untuk masuk dan menutup pintu.


Sementara itu, Pak Muin di sepanjang perjalanan hanya bisa berguman kesal saat Tuan besar lebih memilih Clara. Hingga perjalanan yang lama dan cukup melelahkan akhirnya Pak Muin sampai juga di rumah Tuan besar, perlahan Pak Muin memasukkan mobil di garasi. Pak Muin masih bertahan di dalam mobil saat mendengar teriakan Danendra keras dan tak lama memilih untuk keluar. Langkahnya terhenti dan netra Danendra langsung tertuju pada Pak Muin.


"Bapak, dari mana?" tanya Danendra curiga.


"Tuan, Tuan lupa jika saya harus pulang kampung," alibi Pak Muin.


Danendra sesaat menyerngit tak percaya dan terus menatap Pak Muin cukup lama.


"Pak, apa Ayah meminta Pak Muin untuk mengantar Soya?" tanya Danendra menyelidik.


"Tuan muda jangan berburuk sangka. Apa untungnya saya menyembunyikan Nona," ujar Pak Muin pelan.


"Argh ...! Kemana menghilangnya Soya," ujar Danendra marah.


"Saya mau masuk Tuan, lagi pula Tuan juga selalu membuat ulah," ujar Pak Muin yang paham betul akan tabiat Tuan mudanya.


Danendra yang merasa kesal akhirnya menjadi uring-uringan, saat mengingat perjanjian aneh yang tiba-tiba Soya setujui.


Setelah mendapat jawaban yang membuat hatinya tak tenang Danendra memilih masuk ke ruang kerjanya. Mengulir ponsel sesaat dan tak lama tersenyum saat mendengar suara di seberang sana. Senyum Danendra seketika terlukis di wajah yang terlihat muram.


"Saya pasti bisa menemukan kamu Soya dan akhirnya akan terbukti jika anak yang di kandung Clara bukanlah anakku," guman Danendra dan menatap tajam sembari menutup panggilan yang di lakukan.


Sehari dua hari Danendra masih sabar melayani dan menuruti semua keinginan Clara, memilih untuk tetap tinggal di rumah sang Ayah dan tidur di kamar yang berbeda.


"Ash! Kenapa aku bisa tergila-gila dengan Soya, bagaimana pun juga aku harus bisa membawa kamu kembali Soya!" ujar Danendra tak terima.


Entah, apa yang ada di pikiran Danendra sekarang, kembali Danendra menghubungi seseorang lewat ponselnya dan tak lama menutupnya kembali. "Kamu harus bisa membuktikan bagaimanapun caranya Danendra," ujar Danendra yakin.


Hari-hari yang di lalui Danendra serasa tak berarti menahan rindu pada sosok yang bisa membuatnya tersenyum. Hingga pagi ini Danendra bertekad untuk melanggar janji yang di ucapkan Soya. Danendra melaju dengan semangat menuju rumah Soya. Menghentikan mobil tepat di depan rumah membuat Danendra sedikit heran, menatap rumah yang tak terawat dan tumbuh rumput liar yang memenuhi halaman.


"Soya, tidak! Kamu, argh ....!" pekik Danendra kesal sembari memukul setir mobil hingga mengeluarkan bunyi yang keras dan panjang.


"Benar dugaan saya, jika ada yang tak beres dengan kepergian Soya," ujar Danendra marah.


Danendra masih berhenti di depan rumah Soya, hingga beberapa saat Danendra yang sudah bisa menguasai emosinya tetapi tatapannya tajam menahan marah.


"Hebat, sudah hampir dua bulan kamu menghilang Soya," guman Danendra sembari mengulir ponsel.


"Saya tidak mau tahu, Cari sampai dapat! hingga saya bisa membuktikan dan membongkar kebusukan Clara," ujar Danendra sembari menutup ponselnya sepihak.


"Oke, jika ini keinginan kamu Soya, tetapi ingat jika saya bisa menemukan dan membongkar semua masalah ini. Saya tak akan melepas kamu sedetik pun," ujar Danendra sembari kembali melaju.


"Lengkap sudah! Semua sudah terjadi dan hanya satu, saya harus cepat menyelesaikan semua masalah ini," guman Danendra lirih.


Namun, belum berapa lama Danendra melajukan mobilnya, netra Danendra tiba-tiba menangkap hal yang tak pernah di duganya.

__ADS_1


Denendra hanya melihat sekilas dan kembali fokus pada jalanan. "Oke, mari kita mainkan sandiwara ini Clara," ujar Danendra sembari tersenyum.


Sepanjang perjalanan pulang Danendra akhirnya mau tidak mau mencari ide agar semua nampak wajar di hadapan Clara, bagaimana pun juga Danendra paham bahwa kebodohan yang Danendra lakukan akhirnya berimbas juga pada hatinya. Setelah memarkir mobilnya begitu saja, Danendra langsung masuk dalam rumah. "Bi. Pak Muin!" panggil Danendra berulang saat tak menjumpai dua asisten di rumahnya.


Melangkah menuju kamar sang Ayah, Danendra sedikit terkejut saat melihat pintu kamar sang ayah sedikit terbuka. Mengintipnnya sesaat hingga Danendra merasakan tepukan di bahunya.


"Tuan, kenapa mengintip masuk saja," ujar bibi sembari membuka pintu kamar lebar.


"Ayah kenapa Bi? Lalu, Bibi dan Pak Muin dari mana?" tanya Danendra curiga.


"Cek! Tuan muda selalu curiga saja. Masuk Tuan! Tuan besar sedang tak enak badan, merindukan menantu kesayangannya," ujar sang bibi keceplosan.


Mendengar ucapan sang bibi, netra Danendra seketika melebar senang tetapi Dabendra segera menutupi semua perasaannya.


"Bibi, jangan bicara seperti itu. Ada Clara lagi pula Ayah juga akan mendapatkan cucu dari Clara dan Danendra," ujar Danendra.


"Tapi, Tuan!" ucapan Bibi terhenti saat melihat Clara mendekat.


"Eh ..., Non Clara!" seru sang bibi keras.


Danendra langsung menoleh dan tersenyum, menatap lekat wajah yang terus membuatnya kesal. "Clara kemarilah, kita tengok Ayah, siapa tahu sakit Ayah lekas sembuh saat calon cucunya datang menengok," ujar Danendra lirih dan meraih tangan Clara.


Sementara itu, sang bibi yang melihat ulah Tuan muda hanya bisa menatap heran dan melotot tak percaya, bahwa Tuan muda akan berubah secepat itu.


Clara sedikit terkejut saat Danendra merengkuh tangannya dan memegang dengan lembut, berjalan beriringan menghampiri sang ayah yang kini sedang berbaring. "Sore Ayah!" sapa Danendra sembari tersenyum.


Tuan Guntur hanya menatap kedatangan Danendra dan Clara dengan senyum.


"Akh, ini pasti Bibi yang bilang," ujar Tuan Guntur sembari bangun dan memilih duduk di ranjang.


"Ayah, baik-baik saja Danendra dan Clara bagaimana kondisi kehamilan kamu?" tanya Tuan Guntur mengejutkan Clara.


Danendra dapat merasakan perubahan sikap dari Clara, tangan Clara yang tiba-tiba dingin dan tubuhnya yang terlihat gerah.


"Baik, Tuan," jawab Clara.


Tuan Guntur sesaat tersenyum dan terus menatap tangan Danendra yang terus memegang tangan Clara. "Danendra jaga Clara, selama kehamilannya Ayah berharap kamu bisa bersikap lembut pada Clara," ujar Tuan Guntur lagi.


"Ya, Ayah. Danendra akan berusaha untuk itu," seru Danendra dan tiba-tiba mengusap perut Clara yang masih datar.


Mendapat perhatian dari Dabendra, Clara semakin terlihat kikuk dengan cepat Clara berusaha menepis tangan Danendra, tetapi usaha Clara sia-sia saat Daendra meremat tangan Clara erat. "Jangan pernah melarang saya untuk mengusap perut kamu Clara dan harus kamu ingat bahwa di perut kamu ada calon cucu Ayah dan calon anak saya," ujar Danendra tak tahu malu.


Tuan Guntur yang mendengar ucapan Danendra akhirnya hanya bisa menggeleng heran. "Danendra bawa Clara keluar, saya mau istirahat," ujar Tuan Guntur.


"Lekas sehat Ayah," ujar Danendra dan melangkah pergi dan menuju kamarnya.


Di dalam kamar Danendra langsung melepas genggaman tangannnya dan menangkup wajah Clara. "Mulai hari ini saya akan tidur di kamar ini juga, ingat itu! Oh, ya. Clara cepat ganti pakaian! Saya akan mengajak kamu jalan-jalan," ujar Danendra tiba-tiba dan itu membuat Clara bingung akan perubahan sikap Danendra yang tiba-tiba.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, Clara sudah bersiap. "Hem, kamu makin terlihat cantik dan seksi," puji Danendra lirih.


__ADS_2