
Kepergian Zulhan dan Hazal membuat Danendra kembali berpikir dengan keras, dirinya tak menyangka jika Soya akan membalas semua perbuatannya dengan menutupi semua tentang jati dirinya. Danendra sesaat merenung, angannya mundur ke beberapa tahun ke belakang. Ada sesal yang saat ini di rasakan dan potongan-potongan pertemuan Danendra dengan Soya akhirnya terbukti saat ini dengan kejujuran Hazal dan Zulhan.
"Benar, Bibi yang bisa menjawab semua masalah ini dan hanya Bibi," gumam Danendra.
Berdiri melangkah ke luar dari taman dan kembali melajukan motornya. Memasuki rumah Danedra seakan sadar akan semua yang terjadi, ternyata semua tengah bersekongkol untuk menutupi semua kejadian ini. Melihat pak Muin yang duduk santai di garasi dirinya langsung melangkah mendekat dan menegurnya.
"Pak, terima kasih motornya," ujar Danendra dan langsung duduk di depan Pak Muin.
"Eh, Tuan. Iya Tuan," jawab Pak Muin.
Pak Muin sedikit heran saat melihat Tuannya yang tiba-tiba mau duduk bersama. "Tuan, ada masalah apa, tumben Tuan duduk di sini?"
"Mm ... boleh saya bertanya sesuatu ini tentang Diandra?"
__ADS_1
"Tuan muda, memang ada apa dengan Nona kecil?"
Mendengar jawaban pak Muin Danendra semakin yakin jika pak Muin juga tahu siapa Diandra. Menatap ke arah pak Muin seakan ingin memastikan jika praduganya saat ini benar adanya. "Pak, tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur," pinta Danendra serius.
"Tuan, kenapa baru sekarang Tuan menanyakan tentang Non kecil dan ibunya? Apa Tuan tidak malu?" tanya pak Muin balik.
"Pak Muin, saya mohon," ulang Danendra.
Danendra hanya mengangguk, saat ini yang ada dalam pikirannya hanya ingin membuktikan semua praduganya. Melihat Pak Muin sesekali membuang napas berat Danendra semakin yakin jika selama ini mereka sudah menyembunyikan sesuatu darinya. "Tuan, apa niat Tuan jika mengetahui siapa Nona kecil, apa Tuan akan menyakitinya seperti yang Tuan lakukan pada ibunya?"
Danendra menatap tak percaya, pak Muin yang selama ini diam dan tak berani memberinya komentar akhirnya mengeluarkan juga suaranya. "Pak, saya mengaku bersalah. Saya telah membuat Soya sakit hati dan membuat Soya tersakiti, tetapi ini semua demi Soya dan keselamatan Soya," jujur Danendra akhirnya.
"Maaf .... "Hanya ini yang akhirnya Danendra ucapkan.
__ADS_1
"Minta maaf pada Soya, bukan pada saya, Atah Tuan atau yang lainnya. Soya sudah begitu bersabar menghadapi Anda, meskipun saya tahu Soya sangat mencintai Tuan," jawab pak Muin mengejutkan.
"Ma-maksud Pak Muin?"
"Tuan ... Nona Soya, sudah memutuskan untuk pergi dari Anda saat mengetauhi Anda memilih Cintya. Tuan Guntur yang mengetahui niat Non Soya, meminta Bibi untuk ikut dengan Nona, agar bisa menjadi mata untuk Tuan besar. Tuan juga tak ingin jika Non Soya sengsara di luar sana dan Tuan juga tak ingin cucunya menderita. Melalui Bu Muji dan beberapa orang kepercayaannya Tuan sudah menyiapkan semuanya. Zulhan juga mendapat tugas lebih penting dalam hal ini. Tuan meminta kami untuk menyembunyikan semua ini dari Tuan muda karena Tuan tak ingin Cintya menganggu cucunya dan satu hal Tuan, Tuan besar ingin Anda sadar dan menyesal telah membuang Nona Soya begitu saja." Pak Muin menghentikan ceritanya saat melihat mobil masuk.
Danendra masih duduk dengan tatapan tak percaya dengan semua apa yang didengarnya. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah menjadi gusar dan duduk dengan gelisah. Danendra sungguh tak menyangka jika semua yang terjadi karena ulahnya. Pak Muin berdiri memegang bahu Danendra sebelum melanjutkan langkahnya.
"Tuan, pikirkan semuanya dengan baik, ingat semua keputusan yang nanti akan Tuan buat pasti akan membuat Diandra terluka," ucap Pak Muin dan meninggalkan Danendra dengan semua pikirannya.
"Hash ... apa yang harus saya lakukan?Apa Soya masih mau menerima saya," gumamnya bimbang.
"Baik Soya, sekarang kita lihat setelah ini apa kamu masih menolakku,' batin Danendra kemudian berdiri dan masuk dalam kamarnya.
__ADS_1