
Soya turun dari lantai atas dengan sedikit berlari, hingga langkahnya terhenti di depan pagar, bunyi suara klakson terus terdengar hingga muncul sang bibi dari dalam mobil.
"Bibi. Maaf-maaf!" seru Soya sembari membuka pagar.
"Maaf Pak Muin saya tak mengenali Anda," ujar Soya sembari tersenyum senang.
Bibi hanya tersenyum saat mendengar celoteh Soya yang tanpa henti, tetapi Soya lebih terkejut saat melihat siapa yang keluar dari mobil. "Tuan besar, maaf. Silahkan masuk!" seru Soya sembari meraih tangan Tuan besar dan menciumnya.
Namun, Tuan Guntur sedikit terkejut saat melihat tangan Soya yang melepuh. "Silahkan Tuan, maaf Tuan Muda sedang tak ada di rumah," ujar Soya sembari melangkah menuju dapur. Soya kembali keluar dengan nampan yang berisi tiga gelas.
"Silahkan Tuan," ujar Soya sembari meletakkan gelas satu persatu. Tuan Guntur yang menerima pelayanan Soya seketika tersenyum.
"Terima kasih Soya dan duduk ada yang ingin saya bicarakan," ujar Tuan Guntur.
Soya langsung menurut saja dan duduk dengan penuh tanya. "Bagaimana, selama tinggal di sini ada yang berbuat tak baik?" tanya Tuan Guntur pelan.
Soya langsung tersenyum untuk menutupi apa yang terjadi. "Semua baik-baik saja Tuan," jawab Soya menyakinkan.
Tuan Guntur seketika berdiri, "Apa Nella sering kemari?" tanya Tuan Guntur tiba-tiba.
Soya langsung menunduk bingung, akankah Soya menutupi kedatangan Nella atau berkata jujur. "Nona Nella, calon isteri Tuan Muda, sering Tuan bahkan tadi pagi Non Nella datang," cerita Soya jujur.
Mendengar ucapan Soya sang Bibi dan Tuan Guntur yang sedari memperhatikan wajah langsung berdecak, "Non Soya, kenapa pipi Nona merah dan membekas?" tanya sang Bibi mendekat.
"Oh. Ini, saya kemarin terantuk pintu," jawab Soya bohong.
"Lalu tangan kamu?" tanya Tuan Guntur curiga.
Soya makin menunduk dan tak berani menatap Tuan besar, ada perasaan bersalah karena telah berbohong untuk menutupi kelakuan Nella. "Soya, sebenarnya saya datang kemari karena Danendra merasa khawatir dan tadi sore Danendra meminta saya untuk melihat keadaan Soya," tutur Tuan Guntur jujur.
"Maksud Tuan?" tanya Soya heran.
__ADS_1
"Kenapa Tuan muda mengkhawatirkan Soya dan bukan Nona Nella?" tanya Soya heran.
Tuan Guntur tak menjawab kini memilih untuk duduk dan menyesap kopinya. "Hem, nikmat," ujar Tuan Guntur memuji.
Tuan Guntur sedikit tersenyum saat melihat Soya yang tengah bingung. "Soya, tanya saja pada Danendra dan saya yakin Danendra pasti punya alasan sendiri untuk itu," ujar Tuan Guntur sembari mengusap perutnya.
"Bi, tolong buatkan saya masakan dan saya ingin makan malam di sini," pinta Tuan Guntur aneh.
Soya langsung berdiri dengan semangat. "Ayo Bi, Soya bantu," tutur Soya.
Tuan Guntur langsung menatap Soya tajam.
"Soya kamu duduk! Saya ingin bicara dengan kamu!" ujar Tuan Guntur tegas dan itu membuat Soya takut.
"Ba-baik Tuan, saya minta maaf," ujar Soya lirih sembari menunduk.
Tuan Guntur dan Soya sama-sama terdiam untuk beberapa saat hingga Tuan Guntur berdehem sebelum memulai berbicara lagi.
"Soya ini tentang pinjaman Bapak kamu dan saya juga sudah pernah bilang jika hutang Bapak kamu belum terbayar. Bagaimana sekarang Danendra kembali menaikkan bunganya," ujar Tuan Guntur sembari menatap Soya.
Lama Soya terdiam dan menunduk.
"Soya, bagaimana kamu akan mengangsurnya?" tanya Tuan Guntur lagi.
Soya makin menunduk takut, bibirnya kelu hingga beberapa saat Soya masih belum bisa menjawab. "Soya apa yang akan kamu lakukan, tinggal di sini dengan dan menyerahkan diri kamu pada Danendra dan kamu bersiap jadi istrinya?" tanya Tuan Guntur.
Soya langsung menatap Tuan Guntur bingung. "Tuan ..., kenapa Tuan bicara seperti itu. Tuan tahu jika Tuan muda sudah memiliki calon istri dan Soya tidak bisa menerima tawaran Tuan Muda jika hanya ingin menyakiti hati Nona Nella," jawab Soya pelan.
Perkataan Soya seakan menjadi sebuah pernyataan yang di simpulkan sebagai jawaban oleh Tuan Guntur. "Jadi jika anak saya Danendra tak berpacaran dengan Nella, kamu mau?" tanya Tuan Guntur menyelidik.
"Akh! Tuan salah mengartikan, bukan-bukan seperti itu Tuan!" ujar Soya tak terima.
__ADS_1
"Lantas!"
"Biarkan saya bekerja di sini saja hingga hutang saya lunas," jawab Soya sembari membuang napasnya dengan kasar.
Tuan Guntur langsung tertawa keras saat mendengar ucapan Soya. "Lantas mau berapa lama?" tanya Tuan Guntur.
"Entalah, Tuan!"
"Soya-Soya! Sudah terima saja keinginan anak saya. Saya juga senang jika Soya menerima permintaan Danendra," ujar Tuan Guntur sedikit memaksa.
Soya yang sedari tadi menunduk kini langsung mendongak dan menatap heran pada Tuan Guntur. "Bagaimana Bi, apa Bibi juga senang," ujar Tuan Guntur sedikit berteriak.
"Saya juga senang Tuan," jawab sang Bibi sembari tersenyum.
Soya semakin merasa heran dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Tuan, bukan begitu, saya dan Tuan Danendra juga terpaut usia yang cukup jauh dan lagi pula ... "Soya memutus ucapannya dengan tiba-tiba saat Bibi memanggil untuk makan malam.
Tuan Guntur hanya tertawa saat mendengar ucapan Soya. "Soya, Pak Min. Ayo makan," ujar Tuan Guntur.
Soya hanya mengangguk tetapi tak kunjung berdiri, Soya hanya berulangkali menggeleng tak percaya. Hanya netranya yang menatap ke arah ruang makan, ada terbersit perasaan curiga atas kedatangan Tuan Besar yang tiba-tiba, hingga terdengar suara langkah kaki yang tak asing memasuki rumah. "Soya ...!" teriak Nella keras dan itu membuat Tuan Guntur mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Kamu, mobil siapa di depan atau kamu diam-diam membuka pintu untuk laki-laki," ucap Nella tak terkontrol. Soya yang sedari tadi memberi isyarat untuk diam tak di gubris oleh Nella. Nella yang datang dengan marah langsung mendekat ke arah Soya. Nella tertawa dengan maksud yang tak jelas.
"Ternyata gamparan yang saya berikan kemarin masih kurang," ujar Nella dan kembali mendorong Soya.
Sementara itu Tuan Guntur yang memperhatikan tingkah Nella langsung menatap tak suka. Amarah sedari tadi di tahan akhirnya tersalurkan, Tuan Guntur langsung bertepuk tangan. "Hebat-hebat, jadi ini perlakuan kamu selama ini?"
Nella yang baru menyadari kedatangan Tuan Guntur langsung berjalan mendekat, Nella tersenyum aneh. "Oh ..., Tuan besar datang!" ujar Nella di luar kendali.
Nella seakan kehilangan kendali akan dirinya, "usir dia dan jangan biarkan dia datang lagi!" ujar Tuan besar marah.
Nella yang berdiri dengan gontai hanya tersenyum dan tak lama Pak Muin sudah menarik tubuh Nella dan membawanya keluar. Nella dengan suara yang keras terus memanggil Danendra dan meracau tak karuan. "Tuan, Non Nella pingsan," ujar Pak Min dengan datang tergopoh.
__ADS_1
"Hash, anak ini belum juga berubah," ujar Tuan Guntur kesal.
"Biarkan saja, masukkan dalam mobil dan jangan tutup pintunya," ujar Tuan Guntur kesal.