RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 36. Surat yang terselip


__ADS_3

Danendra seakan puas bisa menjebak Nella dengan triknya, meskipun Danendra sadar jika semua rencananya akan sukses jika Soya menyetujui semua rencana yang akan di jalankan. Danendra segera menuju pintu, tatapan Danendra seketika melotot saat melihat siapa yang datang, "pergi jangan masuk!" usir Danendra kasar.


"Datang nanti jika saya memerlukan, saat ini awasi saja Soya!" perintah Danendra sembari menutup pintu.


Zulhan seketika tersenyum saat menyadari sikap sang bos dan memilih untuk menuju rumah Soya, "akh, paling tidak bisa istirahat sampai Danend memanggil," ujar Zulhan sembari melajukan motor matic miliknya.


Zulhan berhenti sejenak menatap rumah yang terlihat sepi dengan pelan Zulhan memarkir motornya di halaman rumah Soya. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, "Kak Zulhan," sapa Soya tak percaya.


"Masuk Kak," ajak Soya sembari membuka pintu lebar-lebar dan tirai jendela.


"Duduk Kak," ujar Soya sembari meneruskan pekerjaannnya.


Zulhan hanya menatap pada gadis yang telah di anggap sebagai adiknya sendiri untuk beberapa saat, "apa Danend memberi ijin?" tanya Zulhan pelan.


Soya seketika menghentikan kegiatannya memasukkan beberapa baju dalam kardus.


"Iya, Tuan mengijinkan Soya untuk pulang," tutur Soya sembari menatap ke arah halaman.


"Kak. Apa ..., Tuan akan melakukan hal yang sama pada penunggak hutang?" tanya Soya pelan.


Zulhan hanya tersenyum tetapi bagaimana pun Zulhan juga akan menutupi tabiat Danend yang begitu arogan. "Kenapa Soya?" tanya Zulhan akhirnya.


Soya seketika terdiam untuk beberapa saat dan kemudian membuang napas dengan perlahan, "Soya takut Kak, hutang Bapak Soya begitu banyak dan belum terbayarkan, sekarang Tuan malah menjebak Soya dengan perjanjian baru," cerita Soya sembari menunduk.


"Maksud Soya?" tanya Zulhan terkejut.


"Kak. Soya di ijinkan pulang seminggu tiga kali tetapi dengan catatan Soya harus membantu Tuan," jawab Soya lirih.


"Soya takut Kak, Soya-Soya takut jika Tuan akan menjebak Soya lagi."


Zulhan hanya diam menatap wajah Soya dan jelas terlihat jika mata Soya berkaca-kaca berusaha menahan kesedihan di hatinya.

__ADS_1


"Soya, Kakak tahu ini beban yang begitu berat, kamu juga mengetauhi sendiri jika Tuan besar juga menolak usaha Kakak untuk membantu Soya," ujar Zulhan pelan.


Soya yang begitu paham akan kondisinya sesaat tersenyum kecut, ada beribu- ribu penyesalan yang ada di hatinya. Soya memilih meneruskan kegiatannya menata baju yang telah lama di tinggalkan.


"Soya, apa yang membuat kamu takut, sifat Danend, ancaman Tuan besar atau ... "Zulhan seketika menghentikan ucapannya saat melihat Soya menatapnya dengan teduh.


"Semuanya Kak, hidup Soya akan seperti apa ke depannya jika melihat sikap Tuan."


"Maksud Soya?" tanya Zulhan bingung.


Soya hanya tertawa lirih, "hidup Soya tergadai Kak. Soya merasa tak tenang," jawab Soya jujur.


Setelah beberapa minggu akhirnya Soya membicarakan semua keluh kesahnya tanpa menangis ataupun marah. Zulhan masih memperhatikan sikap Soya yang begitu banyak berubah. "Lalu apa yang Soya inginkan?" tanya Zulhan pelan.


"Apa Soya boleh menolak, jika hiya dan itu di bolehkan Soya tak ingin menikah dengan Tuan," jawab Soya lugas.


Zulhan seketika menatap Soya tak percaya, jawaban yang tak pernah dapat Zulhan bayangkan jika Soya berbicara di hadapan Danendra.


Soya segera berdiri dan masuk dalam kamar dan tak lama kembali keluar sembari membawa setumpuk pakaian. "Entalah Kak, saat ini Soya hanya berusaha untuk menjaga diri dari rasa takut Soya."


Sehari ini Soya dan Zulhan hanya berbincang ringan sembari meneruskan pekerjaannya.


Hingga di Soya terkejut saat melihat amplop yang terselip di antara tumpukan baju sang Bapak. Soya seketika menghentikan pekerjaannya, "ini-ini apa?" tanya Soya sembari mengambil surat tersebut.


Soya dengan penasaran membolak balik amplop yang di pegangnya, "bukankah ini tulisan tangan Bapak!" ujar Soya pada dirinya sendiri.


"Ada apa Soya?" tanya Zulhan penasaran.


"Entah Kak," jawab Soya sembari membuka amplop yang tak terekat.


Perlahan Soya membuka amplop dan mengeluarkan isinya lembar kertas berwarna putih, "beruntung surat ini masih bisa terbaca," guman Soya seraya membuka kertas yang di pegangnya.

__ADS_1


"Soya. Kak Zulhan pulang dulu, nanti jam lima sore Kak Zulhan jemput!" ujar Zulhan sembari berdiri.


Soya hanya menghiyakan keinginan Zulhan hingga langkah Zulhan terhenti di pintu, "Soya, jangan berusaha untuk kabur, ingat jika itu sampai terjadi maka kamu akan berurusan dengan Tuan besar," tutur Zulhan mengingatkan.


"Soya enggak akan ke mana-mana Kak, janji!" jawab Soya patuh.


Selepas kepergian Zulhan Soya masih duduk termenung ada perasaan tak nyaman saat mengingat ucapan Zulhan, "serasa menjadi tawanan," seru Soya lirih.


Soya kembali membuka lembar yang terjeda tadi, perlahan Soya membaca surat yang di temukannya, ada perubahan raut wajah dari Soya dan itu membuat wajah Soya memerah menahan amarah dan menangis sejadi-jadinya, "Bapak ternyata lebih jahat dari Tuan Danendra," ujar Soya di sela-sela isaknya.


"Lantas apa yang harus Soya lakukan, Soya-Soya ... "Ucapan Soya terputus begitu saja dan langsung melipat kertas yang di bacanya dan memasukkan dalam tas.


Setelah menutup pintu, kini Soya kembali masuk dalam kamar sang Ibu, berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa di temukan. Cukup lama Soya membereskan almari hingga Soya kembali menemukan amplop yang terselip di antara sekat almari.


"Ini surat apalagi?" tanya Soya saat melihat amplop yang masih terlihat bersih.


Soya sedikit terkejut saat mendengar suara deru motor yang berhenti di depan rumah, Soya segera memasukkan surat tersebut dalam tas. "Huufftt ..., akhirnya kembali lagi menjadi tawanan," gerutu Soya sembari keluar dari kamar dan mengunci pintu.


"Ayo, Kak. Soya sudah siap," tutur Soya sembari tersenyum untuk menutupi hatinya yang gundah.


Selama perjalanan menuju rumah Tuannya Soya hanya terdiam, membayangkan tulisan tangan sang bapak dan mencoba untuk mencari jalan keluar dari situasi rumit ini. "Kak. Ayo masuk," ajak Soya pada Zulhan.


"Masuk saja Soya, ingat jangan jaga diri," ujat Zulhan sembari menyalakan motornya.


Soya dengan polosnya masuk begitu saja ke dalam rumah. Setelah membuka pintu Soya sedikit terkejut saat melihat rumah tampak sepi, "kemana mereka, mobilnya ada," guman Soya sembari menutup pintu. Namun, belum sampai Soya masuk kamar, ada suara berisik di lantai atas dan tak lama terdengar suara Danendra yang berteriak marah. "Ada apa ini?" tanya Soya lirih dan bingung tetapi memilih masuk kamar dan menutupnya rapat.


Soya semakin gemetar menahan rasa takut dan mendengar kemarahan Danendra yang begitu besar. Hingga tak lama kemudian terdengar suara Danendra mulai pelan.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" guman Soya lirih.


Beberapa menit kemudian Soya hanya bisa menutup mulutnya rapat saat mendengar suara benda jatuh dan tak lama suasana benar-benar sepi tak terdengar suara sedikit pun. Soya sedikit merasa lega saat syasana kembali tenang.

__ADS_1


Perlahan Soya mengambil amplop yang belum di baca, netra Soya seketika membulat saat membaca tulisan tangan bapak, " ini, 'kan! Tanda tangan si kutu kupret," ujar Soya lirih dan kembali membaca surat yang di pegangnya. Soya seketika tersenyum saat bisa memahami isi surat tersebut. "Jika si kutu kupret macam-macam, saya bisa memberikan ini sebagai bukti. Terima kasih Bapak, ternyata Bapak tak sejahat yang Soya kira," ujar Soya sembari berkali-kali mencium surat yang di pegangnya.


__ADS_2