RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 86. Rencana


__ADS_3

Soya akhirnya menyadari semua keegoisan dan kekerasan hatinya. Soya sadar jika semua ucapan Hazal benar adanya. Melepas pelukannya dan menatap sang bibi lekat.


"Bi, katakan apa yang bibi inhinkan saat ini." Soya sembari mengikis air matanya.


"Katakan Bi, Bibi ingin apa? Maaf jika Soya tak memperhatikan ini," ucapnya tercekat.


"Non, apa ... Non baik-baik saja?" tanya sang bibi.


"Ya, Bi. Maafkan Soya Bi."


Soya mengikis air matanya dan tersenyum.


"Bi, bagaimana menurut Bibi, jika kita mengunjungi rumah lama dan kita ke makam orang tua Soya dan selama di sana Bibi Soya bebaskan untuk mengunjungi siapa saja, teman Bibi dan Tuan besar," ujar Soya pelan.


Soya bisa melihat saat ini wajah sang bibi berbinar seakan ada keinginan yang lama tersimpan.


"Non ...."Sang bibi menatap tak percaya.


"Ya, Bi. Saya ingin mengenalkan Diandra pada almarhum Kakek dan Neneknya begitu juga dengan Ayah Guntur," jawab Soya.


"Tapi, Non."

__ADS_1


"Bi, saya sadar jika ucapan Kak Hazal benar adanya dan saya hanya ingin Diandra tahu siapa keluarganya meskipun nanti Mas Andra akan meragukannya tetapi saya yakin jika Ayah Guntur mengetauhi ini."


Sang bibi seketika tersenyum, ada kelegaan di wajah sang bibi. Sang bibi paham akan semua yang terjadi. Memeluk Soya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih.


"Non, bibi senang mendengar semua ini. Akhirnya Non Soya bisa memaafkan sikap Tuan muda," ujar sang bibi.


"Sudah Bi, ini bukan demi saya perasaan saya sudah hilang sejak dulu. Sebaiknya Bibi bersiap dan saya akan mengurus sesuatu dulu, jika Diandra bangun tolong siapkan semuanya," titah Soya.


"Non, mau kemana?" tanya sang bibi.


"Sebentar Bi, saya hanya ingin menemui seseorang agar mau merawat rumah ini," jawab Soya sembari melangkah ke luar.


Sang bibi tanpa di minta dua kali langsung menjalankan semua yang di ucspkan Soya, senyumnya terus terkembang dan sesekali bersenandung lirih. Tanpa sang bibi sadari Diandra sedari tadi sudah terbangun hanya bisa menatap sang bibi dari sofa. Netranya terus mengedar mencari sosok yang menemaninya tadi.


"Eh, Diandra sudah bangun. Sini cantik bantu Bibi, kita akan jalan-jalan ke rumah Ayah Hazal dan Ibu cantik. Diandra mau?" tanya sang bibi.


Diandra langsung mengangguk tetapi netranya kini memindai ke tempat lain.


"Ibu ... Diandra ingin Ibu Nek, Nek ...." Rengek Diandra keras.


Soya yang mendengar rengekan sang anak bergegas masuk dalam rumah sesaat bibirnya tersenyum. "Siapa yang menangis, Ibu di sini," ucap Soya membuat Diandra mencari sumber suara sang Ibu.

__ADS_1


"Bu, jangan pergi-pergi!"


"Ibu tidak akan ke mana- mana. Ayo, bantu Ibu kita jalan-jalan. Kita akan ke mana Nek?" tanya Soya.


"Cantik kita aksn pergi ke rumah Ayah Hazal dan Tuan besar," jawab sang bibi.


"Hore ... kita jalan-jalan. Bu, apa itu Tuan besar?" tanya Diandra bingung.


"Wah, Ibu lupa belum mengenalkan Diandra dengan Kakek besar," jawab Soya asal.


"Hem, Kakek besar? Sebesar apa Ibu?" tanya Diandra lagi.


Soya seketika tersenyum saat mendapat pertanyaan dari Diandra. menatap lekat gadus kecil yang wajahnya mirip dengan Danendra.


"Cantik, pintar. Sekarang Ibu belum bisa menjawab, kita hemat bicara kita, kita simpan untuk esok pagi. Diandra suka?" tanya Soya pelan.


"Suka-suka," jawab Diandra sembari mengekor langkah sang Ibu.


Malam ini Diandra benar-benar menuruti semua titah sang Ibu, tidur lebih awal dan tidak banyak bertanya. Sang bibi yang sejsk tadi melihat sikap Diandra akhirnya tersenyum seakan ada sesuatu yang sang bibi sembunyikan.


"Bi, ada apa?" tanya Soya.

__ADS_1


"Non, Bibi merasa lega melihat tingkah Diandra saya seperti melihat sikap Tuan muda kecil," jawab sang bibi.


Mendengar nama Danendra Soya hanya bisa menatap kosong, saat ini Soya tak memikirkan perasaannya melaikan bagaimana sikap Danendra dan Cintya jika mengetauhi siapa Diandra. Membuang napas dengan berat hingga tanpa hal yang membuat Soya terdiam.


__ADS_2