RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 34. Rencana untuk Nella


__ADS_3

Zulhan hanya menggeleng tak suka, Zulhan bisa menebak jika Danendra telah memberikan hukuman yang tak wajar bagi siapa saja yang telah mencuranginya. Zulhan masih menatap sahabatnya yang berjalan lebih dahulu. "Huufft, beruntung Danendra masih bersikap lunak pada Soya, tetapi entah sampai kapan Danendra akan bersikap seperti itu," tutur Zulhan lirih dan mengekor langkah Danendra.


Zulhan, seketika melajukan mobil dan Danendra kini sudah tertidur di jok belakang, Zulhan hanya bisa menghela napas melihat sepak terjang Danendra yang semaunya, hingga beberapa menit kemudian Zulhan menghentikan mobil dan memilih untuk menunggu, "sudah tengah malam, apa Soya sudah tertidur," guman Zulhan sembari keluar dar mobil dan menekan bel.


Cukup lama Zulhan melakukan hal tersebut hingga Soya keluar dengan menguap, "Kak Zulhan, maaf Soya ketiduran," ujar Soya pelan.


Zulhan hanya tersenyum dan segera memasukkan mobil di garasi, "Kak, tolong sampaikan pada Tuan muda, tadi Nona Nella datang dan masuk ke kamar lantai atas," ujar Soya pelan.


"Nella," jawab Danendra tak percaya dan langsung ke luar dari mobil saat mendengar nama kekasihnya di sebut.


"Benar Tuan," jawab Soya.


"Zulhan, kamu pulang dan Soya tutup pagar dan masak! Saya lapar," ujar Danendra sembari melangkah masuk dan duduk di sofa.


Sebelum Zulhan pulang, "Kak, apa kekasih Tuan sering datang secara diam-diam dan Kak Zulhan tahu, Nella masuk dengan kunci miliknya," cerita Soya pelan.


"Soya, biar Tuan muda yang mengurus Nella dan kita hanya perlu, menutup mata dan telinga kita," ujar Zulhan sembari melangkah keluar. "Kak Zulhan pulang, jaga diri baik-baik," tutur Zulhan sembari menuntun motor maticnya. Soya segera mengunci pagar dan mengunci pintu.


"Maaf. Tuan, bahan di kulkas sudah habis ada masakan tadi pagi, apa Tuan mau?" tanya Soya menawarkan.


"Argh ..., terserah asal cepat!" ujar Danendra kesal.


Soya sedikit terkejut dan bergegas ke dapur menyiapkan apa yang Danendra minta, "Tuan semuanya sudah siap, silahkan," tutur Soya sembari berdiri menjauh dari meja makan.


Danendra yang merasa lapar tak menghiraukan masakan yang di hina tadi pagi, tetapi Danendra tak melanjutkan makan saat melihat Soya berdiri menunggunya makan. "Soya, kemari duduk dan makan," ujar Danendra sedikit lunak.


"Tapi, Tuan ini sudah malam. Saya tak biasa makan malam," ujar Soya menolak.


"Soya ...! Saya hitung tiga kali atau saya ..." ucapan Danendra terhenti begitu saja saat Soya yang takut sudah duduk di depannya.

__ADS_1


"Tuan, saya enggak makan tetapi saya akan menemani Tuan saja," ujar Soya sembari menunduk.


Danendra tak menghiraukan ucapan Soya, perutnya terasa lapar setelah pergulatannya dengan Clara. "Tuan, tadi Non Nella masuk dan langsung naik ke lantai atas dan turun membawa sesuatu yang tak boleh Soya lihat," tutur Soya jujur sembari membereskan piring dan gelas kotor milik Danendra.


Danendra segera berdiri bersamaan dengan Soya yang berbalik, "maaf, Tuan silahkan," ujar Soya menepi. Namun, berbeda dengan Danendra yang tiba-tiba merasakan hal yang tak beres dengan jantungnya.


"Saya permisi Tuan," ujar Soya sembari masuk dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.


Danendra yang sejak tadi diam mendengarkan cerita Soya akhirnya memilih untuk naik ke atas, entah kenapa hati Danendra merasa tenang saat dekat dengan Soya.


Menaiki lantai dua Danendra memindai tempat yamg di lalui, memasuki kamar pribadinya Danendra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari keringat dan sisa-sisa pergulatan paksa dengan Clara. Keluar dari kamar mandi Danendra menuju balkon, udara malam yang segar dan suasana yang sepi membuat Danendra sangat menikmati kesendiriannya. Berkali-kali Danendra megembuskan napas kasar dan menyebut nama Nella berulang kali. "Agh! kenapa saya tak bisa membenci kamu meskipun saya tahu kamu telah berbuat curang," tutur Danendra lirih.


Sesaat Danendra tersenyum penuh arti, "tiga tahun Nella semua sia-sia dan saya selalu menjaga dan menghargai semua yang kamu inginkan. Tunggu Nella hukuman kamu pasti datang," ujar Danendra dengan sorot mata tajam. Danendra masih menikmati malam yang sepi ini. Suara adzan subuh menyadarkan Danendra dari lamunannya.


Danendra memilih untuk turun ke lantai bawah. Danendra terkejut saat melihat Soya sudah bangun dan mengerjakan ini dan itu. Danendra diam-diam mendekat ke arah dapur.


"Tolong, buatkan saya kopi dan letakkan di meja makan," tutur Danendra mengejutkan Soya.


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar," jawab Soya sembari menyalakam kompor.


"Silahkan Tuan. Tuan hari ini saya enggak masak, karena persediaan sayur dan ikan di kulkas habis," tutur Soya memberitahu.


"Maaf, Tuan saya akan membersihkan ruang tamu dulu," pamit Soya sembari berlalu pergi.


Danendra tak menjawab semua punuturan Soya, melainkan Danendra hanya memperhatikan Soya hingga Soya menghilang dari pandangannya. "Kamu, berbeda Soya namun entah mengapa saya senang sekali menggoda kamu," tutur Danendra lirih sembari menyesap kopinya.


Danendra kembali menatap Soya yang tengah sibuk membersihkan ruang tamu, sesaat Danendra tersenyum seakan kehadiran Soya memberi jalan keluar untuk Danendra.


Soya yang merasa di perhatikan seketika menoleh dan menunduk, "Tuan, boleh saya pulang nanti? Saya ingin membersihkan rumah dan membereskan beberapa baju Ubu dan Bapak," tutur Soya meminta ijin.

__ADS_1


Danendra cukup lama berdiam diri tak menjawan pertanyaan Soya, "Hash! kenapa mendadak sekali, lagi pula untuk apa kamu bersihkan rumah itu, enggak-enggak!" putus Danendra keras.


"Tapi Tuan, saya rindu rumah, rindu Ibu saya," ujar Soya dengan suara tertahan.


Seketika Danendra menatap Soya penuh kemenangan. "Boleh! Asal ada syaratnya," jawab Danendra.


"Sungguh! Tetapi, apa syaratnya Tuan?" tanya Soya bingung.


"Janji dulu, kamu mau membantu dan akan saya ijinkan dalam satu minggu kamu boleh pulang tiga kali," jawab Danendra.


"Soya berterima kasih, tetapi Tuan enggak meminta pertolongan yang aneh-aneh kan?" tanya Soya khawatir.


"Tergantung!" jawab Danendra asal.


"Tuan jika bantuan yang Tuan minta aneh-aneh, Soya enggak jadi pulang," jawab Soya takut.


"Terserah! pulang dan tidak pulang tetap saya akan meminta bantuan kamu Koya!" ujar Danendra kesal.


Soya yang mendapat jawaban seperti itu dari Danendra akhirnya memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Dasar kutu kupret," guman Soya kesal.


Danendra yang mendengar umpatan dari mulut Soya seketika berhenti dan mendekat, "Kamu!" ujar Danendra sembari menjewer telinga Soya.


"A-a ..., sakit Tuan!" jawab Soya saat merasakan sakit di telingannya.


"Ulangi sekali lagi!" ujar Danendra marah.


"Ma-maaf, Tuan," ujar Soya sembari menunduk.


"Ingat, sekali lagi kamu memanggil saya kutu kupret bukan hanya jeweran yang kamu terima," ujar Danendra sembari naik ke lantai dua sementara Soya langsung mengusap telinganya yang memerah. "Dasar Om-Om," umpat Soya kesal sembari melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Namun, tidak dengan Danendra saat ini hatinya sedikit merasa lega karena Danendra sudah memiliki cara untuk memberi pelajaran pada Nella. Danendra dengan senyumnya langsung berbaring di ranjang, "Nella tunggu kado terindah dari saya tetapi sebelumnya kita bermain-main dulu hingga saya puas," ujar Danendra sembari tersenyum puas.


__ADS_2