RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 67. Hukuman yang aneh


__ADS_3

Zulhan dan Soya hanya tertawa saat melihat Danendra terpojok dengan pertanyaan yang Soya lontarkan, sembari meringis menahan sakit Danendra keluar dari mobil. Melihat toko mulai sedikit rapi seketika Danendra berdecak marah, kemarahan yang coba untuk di tahan. dan semua terlihat jelas oleh Soya. "Tuan, sebaiknya Tuan istirahat, sebentar," tutur Soya sembari berlari ke luar dari mobil.


"Hash! Anak itu kenapa mesti berlari," guman Danendra tak suka.


Namun, belum lama Soya berlari dalam hitungan menit kini sudah kembali lagi. "Koya ...." Geram Danendra kesal saat melihat Soya bertingkah aneh.


"Hehehe .... iya, Tuan," jawab Soya sembari tertawa kecil.


Soya hanya mengekor langkah Danendra pelan. "Tuan, mau istirahat di kamar?" tanya Soya pelan.


"Hem, saya hanya ingin duduk di sofa sebentar Soya, lagipula jenuh jika terus di kamar," jawab Danendra sembari duduk perlahan.


"Baik, biar anak-anak menyiapkan ranjang untuk Tuan," ujar Soya sembari melangkah keluar, tetapi belum juga langkah Soya menjauh.


"Soya, tidak usah dan tolong panggilkan Zulhan saja," tutur Danendra senang.


Melihat perubahan sikap Danendra sesaat Soya menyengitkan dahi. "Tuan, istirahat saja!" titah Soya ulang.


Danendra hanya tersenyum sembari menatap Soya lekat, ada gurat kebahagian yang tak bisa di sembunyikan bibirnya terus tersungging senang. "Soya, akhirnya saya sadar jika hati ini sudah benar-benar mencintai kamu Soya," guman Danendra lirih sembari menatap kagum pada sosok yang sedang bergerak kesana kemari untuk memberi arahan pada karyawannya. Namun, sesaat kegiatan Soya terhenti saat melihat Zulhan yang keluar dengan tergesa, Soya yang melihat langsung menengok ke arah Danendra dengan tatapan bingung.


"Lanjutkan saja pekerjaan kalian," ujar Soya sembari mencuci tangannya.


Melangkah masuk ke dalam rumah, Soya kembali terkejut saat melihat Danendra senyum-senyum sendiri. "Tuan. Tuan baik-baik saja?" tanya Soya heran.


Danendra masih tersenyum dan langsung meraih tangan Soya. "Duduklah ada yang ingin saya bicarakan dan dengarkan baik-baik," ujar Danendra tenang.


Soya dengan heran akhirnya menuruti juga keinginan Danendra, duduk dengan tenang di samping Danendra. Menunggu hingga beberapa saat tetapi Danendra tak kunjung bicara dan itu membuat Soya semakin heran.

__ADS_1


"Tuan, ada apa? Jangan buat saya penasaran dan menunggu, menunggu itu berat Tuan!" ujar Soya tanpa jeda.


"Hem, ternyata istri saya sudah pandai bicara," ujar Danendra sembari tersenyum dan menatap Soya lekat.


"Istri .... ya, kita istri di atas secarik kertas dan belum sah secara agama," celetuk Soya akhirnya.


"Nah, kenapa marah! Soya, tetapi bener 'kan kita suami istri dan saya tak pernah mengatakan apa-apa juga!" ujar Danendra kesal.


"Hash! Kamu membuat mood saya buruk, sana! Bereskan saja toko kamu," usir Danendra marah dan melupakan rasa sakit yang sedari tadi membuat Danendra meringis menahannya.


Setelah mengatakan apa yang ada di hatinya kini Danendra memilih untuk beranjak dari kursi dan masuk dalam kamar, tetapi belum juga Danendra masuk kamar seketika langkahnya terhenti dan menatap Soya tajam.


"Jangan menggerutu Soya dan saya bisa mendengar!" ujar Danendra yang tiba-tiba kesal.


Soya yang mendengar ucapan Danendra langsung memburu langkah Danendra dan masuk dalam kamar. "Ash. Tuan, siapa yang menggerutu, apa yang saya katakan benar, 'kan?" tanya Soya geram.


"Diam!" pekik Danendra marah.


Mendengar ucapan Danendra mau tidak mau Soya memilih untuk diam. "Kamu ...." Ujar Danendra kini semakin mendekat pada Soya dengan tatapan yang membuat Soya takut.


Danendra terus merapat pada tubuh Soya, "apa yang kamu ucapkan tadi dan harus mendapat hukuman atas ucapan kamu yang asal," ujar Danendra kini sembari menangkup wajah Soya. Danendra dengan senyum jahat memandang wajah Soya seakan enggan untuk melepas pandangannya hingga setiap inci dari wajah Soya kini sudah terekam dengan jelas di ingatan Danendra. Hingga tatapan Danendra tertuju pada bibir manis yang pernah di rasakannya, tanpa permisi Danendra langsung me***mat bibir Soya.


Soya yang tak paham akan maksud Danendra langsung melotot dan menatap tajam tetapi bibir Soya tak bisa mengucap satu kata pun karena saat ini Danendra telah membungkam bibirnya dengan bibir Danendra hingga untuk beberapa menit kemudian, Danendra melepas pangutannya dengan napas tersengal dan mata memerah, tanpa merasa bersalah Danendra mengusap bibir Soya lembut.


"Itu hukuman untuk kamu jika terus membuat saya marah," ujar Danendra lirih dan melupakan rasa sakit yang di alaminya.


"Tu-Tuan!" ujar Soya terbata.

__ADS_1


Soya hanya bisa menatap wajah Danendra yang tersenyum puas, berjalan perlahan menuju ranjang dan merebahkan tubuh begitu saja, sementara Soya masih diam terpaku di tempatnya. Ada perasaan yang menjalar di benaknya, perasaan hangat dan membuat hatinya meletup-letup aneh. Perasaan yang membuat tubuh bergetar untuk beberapa saat tetapi semua rasa yang tiba-tiba muncul menimbulkan reaksi sendiri untuk Soya. Perlahan Soya mengatur napas dan tak lama dengan malu Soya menatap Danendra. "Tu-Tuan, apa yang Anda lakukan, Tuan selalu berbuat seenaknya. Benar, 'kan, apa yang saya katakan," ujar Soya pelan.


"Argh .... kamu! kemari," ujar Danendra sembari meringis menahan sakit.


"Enggak, mau!" jawab Soya tegas dan takut kejadian tadi terulang dan masih berdiri di tempatnya.


Mendengar jawaban Soya, Danendra langsung melotot marah, seakan semua perintahnya harus di turuti. "Ash! Andaikan luka saya sembuh pasti saya akan memberi kamu hukuman yang lebih berat dan tak hanya seperti yang saya lakukan barusan," ujar Danendra seenaknya.


"Hukuman yang aneh, Tuan selalu seenaknya saja, dasar kutu kupret," ujar Soya kesal dan memilih pergi dari kamar.


Melihat reaksi Soya, Danendra kembali tersenyum, "sabar sebentar lagi kita akan sah secara agama dan hukum Soya dan saya juga tak ingin menundanya lagi," guman Danendra sembari menguap dan mengusap bibirnya pelan, "manis," ujar Danendra ulang.


Sementara itu, di luar kamar Soya masih duduk di ruang tengah, ada hal yang membuat hatinya gundah. "Huufff .... kenapa saya begitu menikmati ciuman Danendra, apa saya sudah benar-benar mencintai Tuan?" tanya Soya sembari menyentuh bibirnya yang terasa kebas. Sesaat Soya menggeleng seakan menyalahkan sikapnya yang tak tegas dan tak menolak perbuatan Danendra.


"Apa, salah jika Tuan melakukan itu?Meskipun status kita saat ini masih suami dan istri di mata hukum? Apa ....," ucapan Soya terhenti saat Soya menyadari jika Danendra tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.


"Eh. Tuan," sapa Soya terkejut dan malu.


"Hem. Apa yang kamu lakukan, jangan melamun," ujar Danendra sembari duduk perlahan di sisi Soya.


"Ah. Enggak Tuan!" jawab Soya malu.


Melihat reaksi Soya, Danendra seketika tersenyum dan menatap Soya lekat, "Besok bersiaplah karena besok akan ada beberapa tamu dan tutup saja toko kamu, Soya," tutur Danendra tenang.


"Tamu, Tuan?" tanya Soya bingung.


"Hem. Iya, Soya besok kita perbahurui pernikahan kita dan jangan pernah menolak Soya, saya hanya ingin kita menjalani hubungan ini dengan baik, terima kasih kamu masih mau menerima saya," bisik Danendra.

__ADS_1


__ADS_2