RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 27. Bi Tolong Soya


__ADS_3

Kesepakatan yang Soya buat dengan Pak Guntur membuat Soya begitu merasa tak nyaman, kebaikan Pak Guntur dan bibi serta Pak Muin semakin membuat Soya bingung.


Hampir satu bulan persis Soya berada di rumah besar ini. Soya dengan senang hati membantu sang bibi dan melakukan pekerjaan apapun tanpa menunggu perintah sang bibi dan Pak Guntur. "Hufftt ... "guman Soya lirih saat hatinya merasa tak nyaman dan terus berdebar. Entah, pagi ini semua hal yang Soya lakukan serasa tak beres.


"Non. Non kenapa?" tanya bibi heran.


"Entalah Bi, Kenapa hati Soya terus berdebar dan tubuh Soya gemetar, Bibi tahu sendiri kan, jika Soya sudah sarapan," tutur Soya sembari mengambil air minum dan meminumnya hingga tandas.


"Bi, Soya. Bersihkan yang di depan dulu!" pamit Soya sembari meraih sapu. Namun, belum lama Soya keluar kini Soya sudah kembali masuk dengan berlari dan napas memburu.


"Non, kenapa?" tanya bibi heran saat melihat Soya bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Sssttt ..., tolong Soya Bi, Soya takut," jawab Soya gemetar.


Sang bibi yang masih bingung dengan ucapan Soya akhirnya faham saat mendengar teriakan keras memanggil Soya.


"Soya ...!"


"Soya ...! Jadi selama ini kamu sembunyi di sini dan kamu lupa dengan hutang kamu! Soya ...!" teriak Danendra keras.


"Soya ...!" teriak Danendra sembari mencari.


Soya yang mendengar teriakan Danendra berulang-ulang semakin takut dan memeluk bibi erat. Di ruang depan masih terdengar teriakan keras Danendra mengumpat dan berteriak keras memukul setiap pintu yang Danendra lewati. "Bi, tolong Soya Bi," ujar Soya ketakutan dan menangis.


Sang bibi yang merasa bingung dan belum sempat bertindak dan menjawab seketika terkejut saat Tuan muda sudah berdiri di depanya sembari melotot. "Oh ..., jadi kamu bersembunyi di sini! Bi, minggir!" perintah Danendra marah.


Soya semakin memeluk bibi erat dan terus bersembunyi di balik tubuh sang bibi. "Bi, tolong minggir, tolong Bi!" pinta Danendra ulang. "Tuan muda jangan teriak-teriak, Tuan muda membuat bibi takut," ujar sang bibi pelan.


Mendengar ucapan sang bibi, Danendra seketika melunak, tetapi tatapan matanya tertuju pada Soya penuh amarah. "Non, jangan keras-keras badan bibi sakit Non," ujar sang bibi lirih.

__ADS_1


"Bi, tolong Soya Bi, Soya takut," ujar Soya lagi.


Melihat Soya yang masih berdiri di belakang sang bibi membuat Danendra semakin geram. "Soya, keluar kamu atau saya yang akan menarik, hebat-hebat! satu bulan kamu mangkir tak membayar hutang dan kamu lari begitu saja," seru Danendra marah


Soya hanya menggeleng dan takut.


"Oh, jadi yang menculik kamu," tutur Danendra terhenti saat Danendra sadar siapa yang menculik Soya saat Danendra mengejar. Danendra kemudian duduk sedikit menjauh, Soya yang melihat ada kesempatan untuk menghindar, perlahan Soya melepas tangannya dan kemudian berlari keluar dari dapur. Danendra dengan geram memburu langkah Soya sembari terus berteriak marah hingga langkah Danendra terhenti saat melihat sosok yang paling menyeramkan dalam hidupnya. Perlahan Danendra mundur dan seketika melotot saat melihat Soya bersembunyi di belakang sang Ayah. "Argh ..., kamu. Kemari!" ujar Danendra marah. "Soya!" pekik Danendra tertahan.


Pak Guntur yang sedari tadi mendengar teriakan Danendra hanya bisa melihat Danendra dan Soya laksana Tom dan Jeri.


Pak Guntur hanya tersenyum dan menandang Danendra lekat. "Akhirnya kamu datang juga menemui Ayah," ujar Pak Guntur pelan. "Ayah! Berikan saja si koya itu pada Danend, biar Danend becek-becek," ujar Danendra emosi. "Ambil saja dan bawa saja, Soya juga bukan hak Ayah, Ayah di sini hanya melindungi gadis malang ini," ujar Pak Guntur.


"Bawa-bawa saja, Soya juga lambat laun jadi milik kamu."


"Apa ...? Tidak-tidak ini tidak benar, Koya kamu jangan mengada-ada," ucap Danendra tak terima. Soya masih diam dan tak berani keluar dari punggung Pak Guntur.


"Ash! Ayah jangan membuat lelucon," ujar Danendra tak percaya. "Dasar anak tolol. Apa kamu tak membaca surat perjanjian itu dengan benar," ujar Pak Guntur mengingatkan.


Plaaak


"Kurang ajar kamu Danendra, kenapa kamu tak menghargai wanita," ujar Pak Guntur marah.


"Soya! kamu kembali ke dapur dan buatkan kami dua kopi," ujar Pak Guntur dengan mode marahnya. "Danendra kamu ikut Ayah ke ruang kerja!"


"Awas kau koya," ujar Danendra geram.


"Gr, siapa yang mau dengan kutu kupret seperti Anda, sudah galak, ketus tukang penindas dan satu lagi, Anda juga sudah terlalu tua untuk saya," ujar Soya marah.


"Koya ...!" panggil Danendra geram.

__ADS_1


"Lihat Pak Guntur kelakuan si kutu kupret, seperti itu tabiatnya dan selalu memanggil saya seenaknya, Koya-koya," ujar Soya mengadu sembari berlalu pergi menuju dapur.


Pak Guntur yang sedari tadi mendengar perdebatan antara Soya dan Danendra hanya bisa menggeleng, ternyata benar laporan Zulhan, Danendra dan Soya jika bertemu mereka seperti Tom dan jery atau Upin dan Ipin.


"Danendra, kamu ikut Ayah dan ingat ini penting dan serius," jawab Pak Guntur pelan.


Danendra akhirnya hanya diam sembari memegang pipinya yang panas, mengekor langkah sang Ayah hingga masuk ruang kerja.


"Duduk!" seru Pak Guntur marah sembari melempar berkas di depan Danendra.


Apa ini! Tega sekali kamu dengan anak yatim piatu ini. "Baca berkas ini dengan benar dan satu hal tepati apa yang sudah menjadi kewajiban Soya. Hutang ini sudah jatuh tempo kamu harus mengambil sikap terserah mau kamu penjarakan atau kamu ambil jadi istri," ujar Pak Guntur mencoba menekan Danendra dengan dua pilihan.


"Danendra lagi pula apa maksud kamu memberi bunga yang begitu tinggi?" tanya Pak Guntur heran.


"Jawab!" seru Pak Guntur.


"Danendra akan bertanggung jawab, maaf Ayah, tetapi Danendra hanya suka saja melihat Soya yang terus berdebat saat Danendra menagih," ujar Danendra asal.


Pak Guntur seketika tersenyum saat mendengar jawaban sang anak dan dapat Pak Guntur pastikan jika Danendra tak akan mengirim Soya ke penjara.


"Lalu, kamu akan menjadikan Soya istri kamu?" tanya Pak Guntur ulang.


"Enggak Lah, Danendra akan lebih senang jika melihat Soya marah dan untuk itu Danendra akan menjadikan asisten di rumah Danendra," jawab Danendra asal.


"Em ..., berarti kamu akan menikahi Nella?" tanya Pak Guntur akhirnya.


"Entalah, Yah! Nella juga terus mengundur rencana ini," tutur Danendra jujur akhirnya.


Pak Guntur seketika tersenyum senang mendengar ucapan Danendra, ada doa diam-diam yang terselip di hati Pak Guntur.

__ADS_1


"Tuan ... " teriak sang bibi di luar ruangan.


__ADS_2