RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 6. Kesedihan Soya


__ADS_3

"Pak, jangan seperti ini. Bangun Pak," ujar Bu Warti ulang.


Bu Warti kini semakin percaya jika suaminya sudah tak bisa di tolong lagi. Bu Warti segera keluar dan mencari bantuan, tetapi Bu Warti hanya menemui dua rumah dan selebihnya hanya lahan kosong. "Saya harus bagaimana dan ini juga tempat apa?" tanya Bu Warti putus asa. Bu Warti memilih menyusuri jalan di mana Bu Warti masuk, Bu Warti sedikit bernapas lega saat melihat beberapa angkot lewat. Bu Warti dengan napas terengah berusaha menghentikan angkot yang lewat, hingga empat angkot yang Bu Warti hentikan selalu menolak, hingga akhirnya ada mobil yang lewat dan berhenti dengan tiba-tiba. "Bu, Warti!" panggil seorang laki-laki dalam mobil.


Bu Warti seketika menoleh saat mengenali suara yang memanggilnya, "Zulhan!" jawab Bu Warti.


"Ada, apa? Kenapa Ibu ada di sini?" tanya Zulhan lagi.


"Zulhan, suami Ibu, tolong suami Ibu di sana," jawab Bu Warti bingung.


"Pak Kadir?" tanya Zulhan penasaran.


"Benar Zulhan, suami Ibu pingsan di sana," ujar Bu Warti ulang.


Zulhan yang merasakan kecemasan di wajah Bu Warti segera turun dari mobil dan mengikuti langkah Bu Warti. Zulhan sedikit terkejut saat tiba di tempat di mana Pak Kadir tergeletak. "Bu, kenapa Bapak bisa ada di sini?" tanya Zulhan curiga.


"Entalah, Zulhan. Ibu juga tahu dari orang yang mengantar Ibu dan kemudian orang itu pergi begitu saja," tutur Bu Warti.


"Sebelah sini Zulhan," ujar Bu Warti memberitahu, sejenak Zulhan menatap tubuh Pak Kadir tak percaya berkali-kali Zulhan mengaruk kepala dan menghembuskan napas berat. "Akh! habis sudah," ujar Zulhan tiba-tiba. "Bu, sebaiknya kita panggil ambulans saja, saya tak mungkin membawa Pak Kadir karena mobil itu juga milik Bos saya," ujar Zulhan tiba-tiba.


"Zulhan, tetapi untuk biaya ambulans Ibu tak punya," ujar Bu Warti.


"Tenang, Bu. Ibu jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, asal Pak Kadir segera bisa di bawa pulang," ujar Zulhan sembari mengulir ponsel miliknya.

__ADS_1


"Bu, saya tunggu di depan dan Ibu menunggu Bapak di sini," ujar Zulhan sambil berlalu.


Bu Warti kini hanya bisa menatap tubuh yang tersungkur di lantai, Bu Warti sadar jika saat ini tak ada harapan untuk suaminya. Suara mobil ambulans kini makin mendekat dan berhenti di depan, tak lama ada dua petugas yang datang. Bu Warti menatap sendu saat dua petugas memeriksa tubuh suaminya. Sejenak dua petugas itu terdiam dan menatap ke arah Bu Warti. Salah satu petugas kemudian datang mendekat dan mengenggam tangan Bu Warti, "maaf, Bu. Suami Anda ... "ujar petugas lirih.


Bu Warti yang sudah menyadari sejak awal hanya mengangguk pasrah, tak urung air matanya kini menetes juga.


"Mas, tolong langsung bawa pulang saja," ujar Bu Warti pada petugas saat akan mengangkat tubuh suaminya.


Mengikuti langkah petugas, Bu Warti berkali-kali menghela napas beratnya, sesekali Bu Warti menoleh ke belakang. "Akhirnya, Mas Kadir akan berakhir di tempat seperti ini," ujar Bu Warti lirih sembari mengikis air matanya. Rasa amarah dan geram berhari-hari yang di rasakan oleh Bu Warti akhirnya di tutup oleh kesedihan, kepergian suami yang berlalu begitu saja. Bu Warti kini hanya bisa menatap jenasah yang terbujur kaku di depannya. Bu Warti masih melihat mobil Zulhan yang mengikuti di belakang mobil ambulans hingga mobil berhenti tepat di depan rumah.


Turun dari mobil ambulans betsamaan dengan Zulhan keluar dari mobil, entah apa yang mereka bicarakan dan tak lama kemudian mobil ambulans sudah melaju pergi setelah meletakkan jenasah Pak Kadir di tempatnya. "Bu, Zulhan akan izin ke kantor dulu, sebentar Zulhan kembali," ujar Zulhan.


Suara mobil ambulans secara tak langsung mengundang rasa penasaran para warga hingga tak banyak dari mereka yang terkejut mendengar berita kematian Pak Kadir.


Soya yang sedikit terkejut saat melihat bendera hijau di depan rumah, pemikiran negatifnya bukan tertuju pada sang Bapak melainkan pada sang Ibu. "Ibu ... "teriak Soya kencang dan langkahnya sempat di hentikan beberapa warga. "Soya, tenang. Bukan Ibu kamu, tetapi Bapak kamu Soya," ujar beberapa tetangga.


"Bapak! Bapak, apalagi yang di lakukan Bapak," ujar Soya terkejut.


"Soya. Tenang. Bapak kamu sudah meninggal dan tubuhnya di temukan pagi ini di rumah kosong," ujar salah satu warga menjelaskan.


Soya yang mendengar penjelasan dari salah seorang warga kini hanya bisa terdiam, langkah Soya seketika di pelankan dan benar saat ini Soya merasa kehilangan, meskipun Bapak sering membuat hati Soya meradang dan marah, tetapi tetap tubuh yang terbujur kaku di depan Soya adalah Bapaknya.


Soya menangis tergugu hingga beberapa saat Soya menghentikan tangisnya, "Bu, sebaiknya cepat makamkan saja Bapak," ujar Soya sembari memeluk sang Ibu dengan tatapan sendu dan tanpa tangisan.

__ADS_1


Hari hampir siang, saat jenasah Bapak di makamkan. Prosesi pemakaman yang di bilang sedikit lambat karena hujan turun dengan deras. Soya hanya duduk termenung menatap tanah bergunduk. Soya sedikit terkejur saat mendapat tepukan di bahunya, "Soya, ayo. pulang!" ajak Ibu mengejutkan.


Soya hanya mengangguk dan mengekor langkah sang Ibu. Menginjakkan kaki di rumah Soya sedikit tersenyum saat melihat Zulhan duduk bersila. "Kak Zulhan," sapa Soya pelan sembari duduk di sisi Zulhan.


"Kak, terima kasih sudah menolong Ibu," ujar Soya lirih.


Zulhan hanya tersenyum dan mengangguk tetapi Soya tahu jika Zulhan tengah gusar saat ini. "Baik-baik, jaga Ibu Soya dan semangat," ujar Zulhan aneh.


"Terima kasih Kak," ujar Soya lagi.


"Soya, saya pulang dulu dan Soya sendiri tahu jika pekerjaan Kak Zulhan sangat sibuk," ujar Zulhan sembari berdiri kemudian berpamitan juga pada Bu Warti.


"Kak, sekali lagi terima kasih," ujar Soya sembari berdiri juga.


Soya kini memilih memasuki kamar dan duduk termenung, "terima kasih Pak, kepergian Bapak meninggalkan begitu banyak hutang, bagaimana Soya dan Ibu akan membayarnya, perabot di rumah juga sudah habis untuk membayar hutang Bapak. lalu, bagaiman Soya mencari uang sebanyak itu," ujar Zoya tergugu dengan dada yang sesak.


"Pak, bagaimana kami membayar hutang Bapak," guman Soya berkali-kali.


Hingga hampir magrib Soya baru keluar dari kamar dengan mata sembab. "Bu ... "panggil Soya, saat tak mendapati sang Ibu dibruang tamu.


"Bu ... "panggil Soya ulang dengan suara sedikit keras dan menuju kamar Bapak.


"Bu ... "teriak Soya kencang saat melihat sang Ibu sudah terjatuh di lantai.

__ADS_1


__ADS_2