RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 14. Kesal


__ADS_3

Zulhan hanya bisa tersenyum kecut dan berdiri sedikit menjauh, "Eh. Om Sobirin, maaf Zulhan terburu-buru," jawab Zulhan sembari lebih menjauh lagi.


"Ah, enggak apa-apa. Zulhan yang tampan dari mana?" tanya Om Sobirin genit sembari mencolek dagu Zulhan.


Zulhan yang paham akan sikap Om Sobirin langsung menatap marah. "Om, kondisikan tangan Om," ujar Zulhan tak suka.


"Aduh-aduh, kalau marah tampannya jadi hilang," seru Om Sobirin sembari berusaha mencubit lengan Zulhan.


"Ash! Om selalu bersikap seperti ini. Zulhan akan adukan pada Tante, jika Om sering menganggu para gadis di kampung dan satu lagi, Zulhan akan adukan pada Tante, jika Om suka genit pada siapa saja," ujar Zulhan mengancam.


"Ai-ai, begitu saja Zulhan marah," ujar Om Sobirin. Zulhan yang merasa kesal dengan sikap Om Sobirin kini sudah berlari dan memanggil isteri Om Sobirin.


"Ih ... Zulhan," ujar Om Sobirin sembari berjalan pulang ke rumah.


Zulhan yang merasa geli dengan sikap Om Sobirin kini hanya bisa tertawa saat melihat Om Sobirin kena damprat sang isteri.


Zulhan memasuki rumah dengan langkah cepat, sesaat Zulhan tersenyum saat melihat sang ibu tengah duduk di ruang tamu.


"Zulhan!" panggil sang Ibu saat melihat Zulhan masuk. Sang ibu kini menatap Zulhan dengan heran. "Zulhan dari mana?" tanya sang ibu.


"Kerja Ibu sayang," jawab Zulhan sembari meraih tangan sang Ibu.


"Kerja? Zulhan tadi teman kamu, siapa itu Endra. Ash! Bos Zulhan," ujar Ibu bingung.


"Kenapa dengan Danendra?" tanya Zulhan penasaran.


"Betul, Danendra. Tadi kemari jam lima sore, mencari rumah Pak Kadir," ujar sang ibu memberitahu. "Danendra, kemari?" tanya Zulhan khawatir. "Benar!" jawab sang Ibu.

__ADS_1


"Bu, apa Ibu memberi tahu rumah Pak Kadir?" tanya Zulhan penasaran. "Zulhan, kenapa kamu begitu khawatir, ada apa?" tanya sang ibu curiga.


"Bu, ibu memberitahu rumah Pak Kadir?" tanya Zulhan ulang.


"Ibu, tadi enggak bisa mengantar dan Zulhan tahu sendiri, Ibu tak bisa untuk berjalan terlalu jauh!" jawab sang Ibu melegakan hati Zulhan.


"Alhamdulillah," ucap Zulhan lega.


Sang Ibu seketika menatap Zulhan heran. "Zulhan ada apa? Apa yang membuat Zulhan khawatir?" tanya sang Ibu lagi.


Zulhan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang ibu. "Ceritanya panjang Ibu, pada intinya saat Ini Bu Warti dalam keadaan yang tak baik-baik saja dan Ibu tahu kalau Pak Kadir berutang pada Danendra Bu, Ibu juga tahu seperti apa Danendra Itu," ujar Zulhan menjelaskan.


Sejenak sang Ibu hanya menatap Zulhan, kasihan," ujar Ibu akhirnya. Namun belum juga Zulgan beranjak dari ruang tamu.


"Malam Tante!" sapa seseorang dari luar.


"Kak, Zulhan. Tolong Soya, Ibu-Ibu Kak," ujar Soya khawatir.


Zulhan yang sejak tadi merasa khawatir langsung mendekat ke arah Soya. "Kenapa Ibu kamu, ada apa Soya?" tanya Zulhan heran.


Soya tak bisa berkata-kata, tanpa menjawab pertanyaan Zulhan, kini Soya sudah berlari pulang. "Bu, Zulhan akan lihat Ibu Warti dulu," pamit Zulhan pada sang Ibu.


Zulhan tanpa menunggu kata iya dari sang Ibu langsung memburu langkah Soya. Hingga tiba di rumah Soya. "Danendra," ujar Zulhan heran. Sementara Bu Warti terlihat sudah menangis. "Ndra, kamu sedang apa?" tanya Zulhan tiba-tiba.


Danendra yang mendapat teguran dari Zulhan langsung tersenyum, "ya, menjalankan tugas, berhubung teman dan asisten saya sering marah jika saya menegur nasabah nakal ini," ujar Danendra seenaknya.


"Oh, ya. Bu Warti ingat, apa yang saya ucapkan dan camkan itu dan ini juga berlaku juga buat kamu Koya," ujar Danendra sinis.

__ADS_1


Danendra melihat Zulhan sebentar dan kemudian menepuk bahu Zulhan, "saya tahu ku begitu menghawatirkan si Koya dam saya tahu kamu juga tak akan bisa menyampaikan pesan saya, jadi sekarang kamu tak perlu bingung memikirkan cara atau alasan apapun itu. Zulhan ingat kontrak kerja kamu juga masih panjang dan kamu juga tahu bagaimana saya," ujar Danendra sembari berbisik.


"Ash! Kamu tak tahu kondisi Ibu Warti dan kamu ..., "argh, kamu-kamu itu," ujar Zulhan tertahan dan menatap Soya yang sudah menangis sejadi-jadinya.


"Bu, jangan begini. Soya sayang Ibu! Bangun Bu, tolong dengarkan ucapan Soya," ujar Soya bingung sembari terus mengguncang tubuh sang Ibu. "Danendra, kamu lihat. Kamu paham sekarang," ujar Zulhan marah dan mendekat ke arah Soya. "Soya, sebaiknya bawa Ibu ke kamar," ujar Zulhan sembari membopong tubuh Bu Warti yang kurus.


Soya dengan isaknya masih berusaha membangunkan sang Ibu. Soya tak berpikir dan tak memperhatikan jika laki-laki sinis ini masuk dan memeriksa rumah Soya.


"Wah, besar juga rumah ini. Sayang surat rumah ini tak ada, siapa yang mau membeli rumah tanpa surat dan ... "ucapan Danendra terputus saat Zulhan menarik tangan Danendra. "Ndra tolong, jaga ucapan kamu, saat ini Soya sudah tertekan, pulanglah! Biar Zulhan yang mengurus," ujar Zulhan pelan.


"Pulang! Sebelum Soya meneriaki kamu maling dan mereka tak akan segan untuk menghajar kamu," ujar Zulhan pelan dan tegas memberi peringatan.


Danendra seakan sadar mendengar ucapan Zulhan dengan bergegas Danendra keluar dari rumah Soya. "Zulhan ingat, urus si Koya," ujar Danendra lirih sembari memakai kaca mata hitamnya.


Zulhan hanya diam saja, paling tidak Danendra sudah pergi untuk sementara waktu dan rumah sedikit tenang. "Kak, terima kasih," ujar Soya tiba-tiba.


"Ibu, kamu sudah sadar Soya?" tanya Zulhan.


"Ibu Soya sudah sadar dan siapa laki-laki itu? Kenapa memarahi Ibu dan Soya, sedang pergi keluar. Heran masih ada saja laki-laki yang sinis dan jahat seperti itu," ujar Soya heran.


Zulhan menatap Soya sesaat, "memang Soya keluar kemana? Soya mendengar apa yang di ucapkan laki-laki itu?" tanya Zulhan menyelidik.


Soya yang memang tak mendengar ucapan laki-laki tadi seketika menggeleng, "Soya hanya melihat dari jauh kalau laki-laki tadi marah dan Soya langsung berlari menemui Kak Zulhan," ujar Soya pelan.


"Sungguh kamu tidak mendengar yang Danendra ucapkan?" tanya Zulhan ulang.


Soya kembali menggeleng dan menarik napas berat. "Kak, apa Danendra itu jahat? Kak. Kenapa Kak Zulhan terlihat akrab?" tanya Soya pelan.

__ADS_1


Zulhan yang mendengar pertanyaan Soya hanya bisa menghembuskan napas kasar. "Soya, sekarang Soya fokus pada kesehatan Ibu Soya dan ingat jaga kesehatan Soya juga, Kak Zulhan akan berusaha membantu Soya," ujar Zulhan dan tak ingin membuat Soya lebih tertekan, tetapi Zulhan sadar jika di balik pertanyaan Soya, ada sesuatu yang Soya sembunyikan dan itu terlihat jelas dari tatapan Soya yang berembun dan berusaha mengatur deru napasnya untuk tenang.


__ADS_2